SerambiMuslim.com – Dalam Islam, memilih teman bukan sekadar soal kecocokan, tetapi juga tentang menjaga keimanan dan perilaku. Karena itu, umat Muslim dianjurkan menjalin persahabatan dengan orang saleh yang mengajak kepada kebaikan.
Sebaliknya, pertemanan yang mendorong seseorang melakukan maksiat, melalaikan ibadah, hingga terbiasa berbohong perlu diwaspadai. Lingkungan pergaulan dapat memengaruhi kebiasaan, sikap, dan pilihan hidup seseorang.
Anjuran untuk saling mengenal dan menjalin hubungan sosial dijelaskan dalam Al-Qur’an surah Al-Hujurat ayat 13.
يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَٰكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَٰكُمْ شُعُوبًا وَقَبَآئِلَ لِتَعَارَفُوٓا۟ ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ ٱللَّهِ أَتْقَىٰكُمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
Artinya: “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”
Merujuk buku ‘Sahabat Sejati Sahabat Surga: Teman Boleh Banyak, Tapi Sahabat Sejati Bisa Dihitung Jari’ karya Rizem Aizid, pertemanan sesama Muslim tidak semestinya dibedakan berdasarkan status sosial atau penampilan fisik.
Kaya atau miskin, tampan atau tidak, serta tinggi atau pendek bukanlah ukuran utama dalam memilih teman. Keimanan dan perilaku menjadi hal penting yang perlu diperhatikan.
Teman yang saleh dapat mengingatkan ketika seseorang lalai, menguatkan saat menghadapi kesulitan, serta mendorongnya melakukan kebaikan. Sebaliknya, pergaulan yang menjauhkan seseorang dari ajaran agama perlu disikapi dengan bijak.
Rasulullah SAW juga menjelaskan pengaruh teman melalui sebuah perumpamaan.
“Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tidak sedap.” (HR Bukhari dan Muslim).
Lantas, apa saja ciri teman yang membawa pengaruh buruk menurut Islam? Berikut lima hal yang perlu diwaspadai.
1. Mengajak Melakukan Perbuatan Maksiat
Salah satu ciri teman yang membawa pengaruh buruk adalah kebiasaannya mengajak orang lain melakukan perbuatan yang dilarang agama.
Ajakan tersebut bisa berupa berbohong, menipu, mengonsumsi sesuatu yang haram, atau melakukan tindakan yang merugikan orang lain.
Allah SWT mengingatkan umat Islam agar tidak saling membantu dalam perbuatan dosa melalui surah Al-Ma’idah ayat 2.
…وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ…
Artinya: “…Dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan…” (QS Al-Ma’idah: 2).
Karena itu, seorang Muslim perlu berhati-hati ketika ajakan teman mulai mengarah pada perbuatan yang bertentangan dengan ajaran agama.
2. Membuat Lalai terhadap Kewajiban Agama
Teman yang membawa pengaruh buruk juga dapat dikenali dari kebiasaannya mengajak melakukan sesuatu hingga kewajiban agama terabaikan.
Misalnya, terus-menerus mengajak berkegiatan hingga salat ditinggalkan atau mendorong perilaku yang menjauhkan diri dari ibadah.
Bersosialisasi dan menikmati waktu bersama teman tentu diperbolehkan. Namun, hubungan pertemanan tidak semestinya membuat seseorang mengesampingkan kewajibannya kepada Allah SWT.
Teman yang baik justru membantu menjaga keseimbangan antara kehidupan sosial dan ketaatan beragama.
3. Mengajak Berbohong dan Berbuat Curang
Kebiasaan mengajak berbohong, memanipulasi keadaan, menipu orang lain, atau melakukan kecurangan juga perlu diwaspadai.
Jika terus diikuti, perilaku tersebut dapat membuat seseorang terbiasa menganggap kebohongan sebagai sesuatu yang wajar.
Dalam hadits yang dikutip dalam naskah sumber, Rasulullah SAW bersabda, “Pelanggaran kepercayaan terbesar adalah kamu mengatakan sesuatu kepada saudaramu yang percaya itu benar, padahal kamu telah berbohong kepadanya.” (HR Abu Dawud).
Pesan tersebut mengingatkan pentingnya menjaga kejujuran dan kepercayaan dalam hubungan antarmanusia.
4. Suka Menggunjing dan Menjelek-jelekkan Orang Lain
Teman yang gemar membicarakan keburukan orang lain juga dapat membawa pengaruh negatif.
Ketika pertemanan dipenuhi gunjingan, penghinaan, dan upaya menjatuhkan orang lain, seseorang berisiko terbiasa menganggap perilaku tersebut sebagai hal yang lumrah.
Padahal, Allah SWT melarang umat Islam menggunjing sebagaimana disebutkan dalam surah Al-Hujurat ayat 12.
…وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا…
Artinya: “…Dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain…” (QS Al-Hujurat: 12).
Karena itu, penting untuk membangun pertemanan yang mendorong perilaku saling menghormati, menjaga lisan, dan menghindari pembicaraan yang merugikan orang lain.
5. Tidak Mengingatkan Ketika Kita Berbuat Salah
Teman yang baik bukan berarti orang yang selalu membenarkan setiap tindakan kita. Sahabat sejati justru bersedia mengingatkan ketika kita melakukan kesalahan.
Nasihat terkadang terasa tidak menyenangkan. Namun, teguran yang disampaikan dengan cara baik dapat membantu seseorang memperbaiki diri.
Sahabat Rasulullah SAW, Umar bin Khathab RA, berkata:
“Tidak ada kebaikan pada kaum yang tidak saling menasihati, dan tidak ada kebaikan pula pada kaum yang tidak mencintai nasihat.”
Abu Darda RA juga berpesan:
“Bila salah seorang temanmu berubah dan berbuat dosa, maka janganlah meninggalkannya dan membuangnya, tapi nasihatilah dengan nasihat yang terbaik, dan bersabarlah karena saudaramu itu terkadang bengkok dan terkadang lurus.”
Pesan tersebut menunjukkan bahwa menghadapi teman yang berbuat salah tidak selalu berarti harus memutus hubungan. Menasihati dengan cara yang baik dan tetap menjaga batasan merupakan langkah yang dapat dipertimbangkan.
Pada akhirnya, memilih teman yang membawa pengaruh baik merupakan bagian dari ikhtiar menjaga perilaku dan keimanan. Pertemanan yang sehat tidak hanya menghadirkan kebahagiaan, tetapi juga mendorong setiap orang menjadi pribadi yang lebih baik. (*)







