SerambiMuslim.com — Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf menyampaikan bahwa Ahlussunnah wal Jamaah tidak sekadar terbatas pada disiplin ilmu kalam atau argumentasi akidah, melainkan juga merupakan sarana untuk menyatukan umat Islam. Hal ini, menurutnya, merupakan aspek fundamental yang harus dipahami. “Ada hal yang sangat penting terkait Ahlussunnah wal Jamaah yang perlu kita resapi, yaitu bahwa Ahlussunnah wal Jamaah dibentuk sebagai wahana pemersatu umat Islam,” jelas Gus Yahya saat memberikan sambutan pada Pelantikan Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Sumatra Barat Masa Khidmah 2025-2030, di Auditorium Universitas Negeri Padang, Sumatra Barat, pada Selasa (29/4/2025).
Gus Yahya mengungkapkan bahwa pada masa lalu terdapat berbagai kelompok dalam tubuh umat Islam, seperti Jabariyah, Qadariyah, dan Karamiyah. Oleh karena itu, Imam Abu Hasan Al-Asyari merumuskan pemahaman Ahlussunnah wal Jamaah sebagai fondasi untuk menyatukan semua kelompok tersebut, yang pada akhirnya mendorong lahirnya peradaban besar di dunia Islam.
Selain membahas Ahlussunnah wal Jamaah, Pengasuh Pesantren Raudlatut Thalibin Leteh, Rembang, ini juga menguraikan makna khidmah, selaras dengan tema pelantikan PWNU Sumatra Barat yang mengusung slogan “Khidmah Memperkokoh Ahlussunnah wal Jamaah”. “Khidmah adalah pemberian jasa tanpa mengharap balasan apapun,” tegasnya. “Apapun yang kita lakukan, jika itu untuk kebaikan sesama tanpa berharap imbalan, itulah yang disebut khidmah,” imbuhnya.
Selanjutnya, Gus Yahya mengapresiasi perkembangan signifikan yang dialami NU di Sumatra Barat dalam tiga tahun terakhir. Menurutnya, ini merupakan buah dari konsolidasi yang dilakukan oleh organisasi. “Nahdlatul Ulama di Sumatra Barat berkembang dengan pesat, ini adalah kebahagiaan tersendiri bagi saya. Dulu, saat menjelang Muktamar, saya memperkirakan pencapaian ini akan memakan waktu 5 hingga 7 tahun. Namun, sungguh luar biasa, semua itu tercapai dalam waktu hanya tiga tahun,” ungkap Gus Yahya.
Ketua PWNU Sumatra Barat terlantik, Prof. Ganefri, turut menambahkan bahwa jumlah peserta yang hadir dalam pelantikan ini mencapai sekitar 2.640 orang, sebuah angka yang jauh berbeda dengan lima tahun lalu yang hanya mencatatkan 200 orang. “Alhamdulillah, di bawah kepemimpinan Gus Ketum, tata kelola organisasi NU semakin terstruktur dengan baik. Manfaat dari tata kelola PBNU sangat terasa di sini. Lihat saja, lima tahun lalu hanya 200 orang yang hadir, kini kita memiliki 2.640 orang, ini luar biasa,” ucapnya.
Ganefri juga menjelaskan bahwa PWNU dan PCNU di Sumatra Barat telah menggelar proses kaderisasi setiap bulan, bahkan sebelum bulan puasa. “Kaderisasi yang kami lakukan inilah yang membuat Nahdlatul Ulama semakin meresap dan diterima di tanah Minang. Komitmen luar biasa dari pengurus cabang NU menjadi kunci utama dalam perkembangan ini,” tambahnya. Di penghujung sambutannya, Ganefri mengutip hasil survei dari Lembaga Survei Indonesia (LSI) yang menyatakan bahwa 57 persen warga Indonesia merupakan warga Nahdliyin. “Ini merupakan kebanggaan besar bagi kami. Hal ini juga tercermin di Sumatra Barat, yang tumbuh pesat berkat proses kaderisasi yang telah dilakukan,” pungkasnya.






