Hadits Nabi Sebut Tanda-tanda Kiamat Wustha

FOTO: iStockphoto/Ilustrasi

SerambiMuslim.com – Nabi Muhammad SAW menyebut kemunculan pemimpin bodoh, gemar berbohong, dan zalim sebagai tanda kerusakan akhir zaman.

Fenomena tersebut dikenal sebagai salah satu ciri Kiamat Wustha dalam sejumlah riwayat hadits.

Dalam hadits disebutkan, umat Islam akan diuji dengan kezaliman penguasa yang menindas rakyatnya.

Syekh Mahir Ahmad Ash-Shuffi menjelaskan hal tersebut dalam kitab Asyratus Sa’ah.

Jabir bin Abdullah meriwayatkan sabda Nabi Muhammad SAW kepada Ka’ab bin Ujrah.

“Semoga Allah melindungimu dari kepemimpinan orang-orang bodoh,” sabda Rasulullah SAW.

Ka’ab bin Ujrah bertanya tentang makna kepemimpinan orang-orang bodoh tersebut. Rasulullah SAW menjelaskan, mereka adalah pemimpin setelah beliau wafat.

“Mereka tidak mengikuti petunjukku dan tidak menjalankan sunnahku,” sabda Nabi.

Rasulullah SAW menegaskan sikap terhadap pemimpin yang gemar berbohong dan zalim.

“Siapa yang membenarkan kebohongan mereka dan membantu kezaliman mereka, bukan golonganku,” sabda Nabi.

Ia menegaskan orang tersebut tidak akan mendatangi telaga Rasulullah kelak. Sebaliknya, Nabi menjanjikan kemuliaan bagi mereka yang menolak kezaliman penguasa.

“Mereka yang tidak membenarkan kebohongan dan tidak membantu kezaliman termasuk golonganku,” ujarnya.

Hadits tersebut diriwayatkan Imam Al-Hakim dalam kitab Al-Mustadrak.

Nabi Muhammad SAW juga mengabarkan penderitaan umat Islam menjelang akhir zaman. Umat disebut akan merasakan siksaan berat dari penguasa yang zalim.

Kezaliman tersebut membuat bumi terasa sempit bagi seorang mukmin. Seorang mukmin bahkan berharap berada di dalam kubur demi menghindari penderitaan tersebut. Kondisi ini akan berlangsung hingga munculnya Al-Mahdi.

Al-Mahdi akan melenyapkan kezaliman dan memenuhi bumi dengan keadilan.

Abu Sa’id Al-Khudri meriwayatkan hadits tentang siksaan berat dari penguasa akhir zaman.

“Bumi penuh kezaliman hingga seorang mukmin tidak menemukan tempat berlindung,” sabda Nabi.

Allah kemudian mengutus seorang pemimpin dari keturunan Nabi Muhammad SAW. Pemimpin tersebut memenuhi bumi dengan keadilan dan kebaikan.

Penduduk langit dan bumi ridha atas kepemimpinannya. Bumi mengeluarkan hasilnya dan langit menurunkan hujan dengan lebat.

Ia memimpin selama tujuh, delapan, atau sembilan tahun.

Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Al-Hakim. ****