SerambiMuslim.com – Rasulullah SAW pernah mengungkapkan kekhawatirannya terhadap tabiat sebagian wanita yang dapat membawa kerugian di akhirat.
Kekhawatiran itu disampaikan Nabi Muhammad SAW melalui sebuah hadis yang menyebutkan bahwa mayoritas penghuni neraka adalah wanita karena mereka kerap mengingkari kebaikan suaminya.
Dalam hadis tersebut Rasulullah SAW bersabda, meskipun seorang suami telah banyak berbuat baik, ketika sang istri melihat satu kesalahan saja, ia bisa berkata seolah tidak pernah merasakan kebaikan apa pun dari suaminya.
Menanggapi hadis tersebut, Dr. Karim asy-Syadzili dalam buku terjemahan Kado Pernikahan terbitan Insan Kamil menjelaskan bahwa salah satu penyebabnya adalah karakter bahasa yang umum digunakan oleh wanita. Menurutnya, perempuan sering menyampaikan maksud melalui kata-kata umum dan ungkapan kiasan.
Sebagai contoh, ketika seorang istri berkata, “Kamu tidak pernah memperhatikanku,” yang sebenarnya ia maksud bisa jadi adalah permintaan akan perhatian, hadiah, atau ajakan untuk menghabiskan waktu bersama.
Begitu pula ketika seorang wanita mengucapkan, “Kamu tidak pernah mencintaiku,” hakikatnya ia hanya ingin mendengar ungkapan cinta secara langsung dari suaminya.
Asy-Syadzili menilai, gaya bahasa semacam inilah yang kerap memicu kesalahpahaman dalam rumah tangga.
Banyak persoalan keluarga bermula dari ketidakmampuan suami memahami tabiat dan cara komunikasi istri, yang kemudian berujung pada anggapan bahwa istri mengingkari kebaikan suami.
Menurutnya, suami yang bijak adalah mereka yang memahami karakter tersebut dan tidak terpancing oleh ungkapan-ungkapan kiasan yang diucapkan istri. Sebab, kata-kata itu sering kali bukan bermakna harfiah, melainkan menjadi sarana untuk memperoleh perhatian dan apresiasi yang lebih besar.
“Aslinya, ungkapan itu adalah cara istri menyampaikan isi hatinya,” jelas asy-Syadzili.
Mengutip para pakar hubungan sosial dan keluarga, ia juga menegaskan bahwa bahasa komunikasi suami dan istri memang berbeda. Wanita cenderung menyampaikan perasaan melalui bahasa tidak langsung, sementara pria lebih terbiasa dengan ungkapan lugas. Oleh karena itu, suami dituntut untuk memahami makna tersembunyi di balik kata-kata istri demi menjaga keharmonisan rumah tangga. ***






