Menag Tegaskan Umat Bertanggung Jawab Jaga Lingkungan Hidup

Menteri Agama Nasaruddin Umar menegaskan zakat hanya boleh disalurkan kepada delapan asnaf sesuai syariat. Kemenag membantah isu zakat digunakan untuk program MBG. (Foto: Istimewa)

SerambiMuslim.com – Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar menegaskan isu lingkungan hidup berkaitan erat dengan tanggung jawab keagamaan umat beragama.

Pernyataan tersebut disampaikan dalam Seminar Internasional Fikih Lingkungan di Al-Azhar Conference Center, Kairo, Mesir.

Menag menyebut bumi bukan milik mutlak manusia, melainkan amanah Ilahi yang wajib dijaga keseimbangannya.

“Setiap perusakan lingkungan menyimpang dari tujuan ibadah dan pembangunan peradaban,” ujar Nasaruddin dalam siaran persnya yang dikutip, Kamis (29/1/2026).

Ia menjelaskan ekoteologi menjadi fondasi kesadaran kolektif umat Islam dalam menjaga kelestarian alam.

Ekoteologi mengajarkan relasi manusia dan alam berbasis amanah, tanggung jawab moral, serta prinsip keseimbangan.

Menurut Menag, pendekatan ekoteologi menempatkan nurani dan etika dalam mengelola kemajuan peradaban modern.

“Dunia tidak hanya membutuhkan kecerdasan, tetapi juga nurani dan etika,” kata Nasaruddin.

Seminar bertajuk Tantangan Berinteraksi dengan Lingkungan dalam Tafsir dan Sunnah digelar atas sinergi lintas lembaga.

Kegiatan tersebut melibatkan Kementerian Agama RI, Al-Azhar Al-Sharif, KBRI Kairo, dan PPMI Mesir.

Ratusan peserta dari berbagai kalangan hadir membahas krisis lingkungan global melalui perspektif Islam.

Peserta terdiri atas ulama, akademisi, peneliti, mahasiswa, serta pemerhati isu lingkungan hidup.

Di sela acara, Menag menyerahkan mushaf Al Quran braille kepada Rektor Universitas Al-Azhar.

Rektor Al-Azhar Salama Gomaa Dawud menegaskan Islam memiliki perhatian besar terhadap pelestarian lingkungan.

“Menjaga lingkungan adalah kewajiban setiap individu, bukan hanya tanggung jawab institusi,” ujar Salama.

Ia menilai dampak kerusakan lingkungan akan dirasakan seluruh umat manusia tanpa terkecuali.

KUAI KBRI Kairo Zaim Al Khalis Nasution menilai seminar mempertegas hubungan historis Indonesia dan Mesir.

“Kerja sama ini penting untuk memperkuat kolaborasi pemikiran Islam menghadapi tantangan global,” kata Zaim. ***