SerambiMuslim.com – Dalam karya tasawufnya, At-Tanwir fi Isqath at-Tadbir, Ibnu Athaillah al-Sakandari mengingatkan pentingnya menjaga pandangan sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT.
Menurut ulama besar mazhab Maliki ini, menundukkan pandangan bukan sekadar etika, tetapi kewajiban spiritual yang berdampak pada kebersihan hati.
“Wahai orang yang beriman, wajib bagimu menundukkan pandangan ketika keluar rumah dan menjemput rezekimu sampai kembali,” tulisnya dalam kitab tersebut.
Pesan itu selaras dengan firman Allah dalam Surah An-Nur ayat 30:
“Katakanlah kepada laki-laki yang beriman agar mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya. Yang demikian itu lebih suci bagi mereka.”
Ibnu Athaillah menekankan bahwa penglihatan adalah nikmat sekaligus amanah. Karena itu, mata tidak boleh digunakan untuk melihat hal-hal yang dilarang syariat.
Ia mengingatkan ayat lain yang menegaskan bahwa Allah Maha Mengetahui setiap lirikan mata, bahkan yang tersembunyi di balik hati (QS Al-Mu’min: 19), serta firman-Nya,
“Tidakkah dia mengetahui bahwa sesungguhnya Allah melihat?” (QS Al-‘Alaq: 14).
Menurutnya, siapa yang menjaga pandangannya dari perkara haram, Allah akan membalas dengan cahaya di dalam hati.
“Siapa yang membatasi pandangan matanya dari yang tidak patut, Allah akan meluaskan pandangan batinnya,” demikian penjelasan yang dinukil dari ajarannya.
Sebagian ulama juga menyebut, menahan pandangan dari yang diharamkan akan menghadirkan nur (cahaya) spiritual yang memberikan ketenangan dan kenikmatan iman.
Mengenal Ibnu Athaillah
Ibnu Athaillah al-Sakandari bernama lengkap Ahmad bin Muhammad bin Atha’illah. Ia lahir di Iskandariah, Mesir, pada 648 H/1250 M dan wafat di Kairo pada 1309 M. Julukan As-Sakandari merujuk pada kota kelahirannya.
Ia merupakan tokoh penting dalam Tarekat Syadziliyah, murid dari Abu Al-Abbas Al-Mursi, yang merupakan penerus Abu Al-Hasan Asy-Syadzili.
Dalam bidang fikih, ia bermazhab Maliki, sementara dalam tasawuf ia dikenal sebagai salah satu perumus ajaran Syadziliyah yang sistematis.
Dari sekitar 20 karya yang ditulisnya, kitab paling populer adalah Al-Hikam, yang hingga kini dipelajari luas di dunia Islam, termasuk di pesantren-pesantren Nusantara.
Selain itu, ia juga menulis At-Tanwir, Miftah al-Falah, dan sejumlah karya lain di bidang akidah, tafsir, serta ushul fikih.
Pemikiran tasawuf Ibnu Athaillah dikenal moderat dan berakar kuat pada Alquran serta Sunnah. Ia menekankan keseimbangan antara syariat, tarekat, dan hakikat.
Beberapa pokok ajarannya antara lain:
1. Tidak meninggalkan dunia secara total
Seorang murid tidak harus meninggalkan profesi atau kehidupan dunia, selama hatinya tidak bergantung pada dunia.
2. Menegakkan syariat
Tasawuf tidak boleh lepas dari kepatuhan pada hukum Islam.
3. Zuhud adalah sikap hati
Dunia yang tercela adalah yang melalaikan dari Allah, bukan dunia itu sendiri.
4. Harta bukan penghalang spiritual
Seseorang boleh kaya, asalkan tidak diperbudak kekayaan.
5. Tasawuf sebagai tazkiyatun nafs
Jalan sufi adalah latihan jiwa untuk memperbaiki akhlak dan mendekat kepada Allah.
6. Ma’rifat sebagai tujuan
Ma’rifat dapat diperoleh melalui anugerah Allah (mawahib) atau melalui usaha spiritual (makasib) seperti dzikir, riyadhah, dan amal saleh.
Melalui karya-karyanya, Ibnu Athaillah berupaya menjembatani kebutuhan spiritual umat dengan kehidupan sosial yang dinamis. Ia tidak mengajarkan pelarian dari dunia, tetapi penguatan hati agar tidak dikuasai dunia. ***






