SerambiMuslim.com – Rasulullah SAW pernah memasuki masjid dan mendapati seutas tali terikat di antara dua tiang. Tali tersebut digunakan seorang sahabat untuk membantu berdiri saat melaksanakan shalat malam.
Beliau kemudian bertanya mengenai fungsi tali itu. Seorang sahabat menjelaskan bahwa tali tersebut milik Zainab, yang dipakai untuk menopang tubuh ketika merasa lelah dalam ibadah.
Rasulullah SAW lantas memerintahkan agar tali tersebut dilepaskan. Beliau menegaskan agar umat Islam beribadah dengan kondisi yang wajar dan tidak memaksakan diri hingga berlebihan.
“Shalatlah dengan kondisi yang baik. Jika lelah, maka sebaiknya tidur,” demikian pesan Nabi SAW.
Peristiwa tersebut menjadi salah satu bentuk peringatan Rasulullah agar umat tidak melampaui batas dalam beribadah, termasuk dalam pelaksanaan shalat.
Sahabat Jabir bin Samurah juga pernah menyampaikan kesaksian mengenai cara Rasulullah SAW beribadah. Ia menyebut bahwa shalat dan khutbah Nabi dilakukan secara seimbang.
Menurutnya, bacaan shalat Rasulullah tidak terlalu panjang, namun juga tidak singkat, melainkan berada pada posisi tengah.
Dalam kesempatan lain, Rasulullah SAW juga menegaskan agar umat tidak berlebihan dalam menjalankan agama. Tiga orang sahabat pernah mendatangi rumah beliau dan bertanya mengenai ibadah Nabi.
Setelah mendengar penjelasan, mereka merasa perlu meningkatkan ibadah secara ekstrem. Salah satu di antaranya bertekad salat sepanjang malam, yang lain berpuasa tanpa henti, dan lainnya berniat tidak menikah.
Saat Rasulullah SAW mengetahui hal tersebut, beliau memberikan teguran tegas.
“Demi Allah, aku adalah orang yang paling takut dan paling bertakwa kepada Allah di antara kalian. Namun aku berpuasa dan juga berbuka, aku shalat malam dan juga tidur, serta aku menikah. Barang siapa membenci sunnahku, maka ia bukan dari golonganku,” sabda beliau.
Dalam hadis lain yang diriwayatkan Imam Bukhari dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW menegaskan bahwa agama Islam adalah agama yang mudah.
“Sesungguhnya agama ini mudah. Siapa yang mempersulitnya, maka ia akan dikalahkan. Bersikaplah lurus, mendekatlah kepada kebenaran, dan bergembiralah. Gunakan waktu pagi, sore, dan sebagian malam untuk beribadah,” demikian sabda Nabi SAW.
Islam sebagai Agama Moderat
Alquran menyebut umat Islam sebagai umat pertengahan (ummatan wasathan), umat yang seimbang (ummatan muqtashidah), dan umat terbaik (khairu ummah).
Ketiga konsep tersebut tercantum dalam Surah Al-Baqarah ayat 143, Al-Ma’idah ayat 66, dan Ali Imran ayat 110.
Konsep ummatan wasathan menggambarkan sikap moderat, adil, dan proporsional dalam kehidupan beragama. Umat Islam berada di tengah antara kebutuhan spiritual dan material.
Kaum Muslimin tetap meyakini kehidupan akhirat, namun tidak meninggalkan urusan dunia seperti bekerja, makan, minum, dan membangun keluarga.
Menurut ulama Ibnu Taimiyah, Islam merupakan agama jalan tengah. Para nabi dan orang saleh dimuliakan, tetapi tidak untuk disembah.
Sikap moderat juga tercermin dalam penerapan syariat, yakni tidak mengharamkan yang halal dan tidak menghalalkan yang haram. (*)







