SerambiMuslim.com – Puluhan peserta non-Muslim tercatat mengikuti Ujian Masuk Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (UM-PTKIN) 2026. Fenomena ini menjadi cerminan semakin tingginya kepercayaan masyarakat lintas agama terhadap perguruan tinggi keagamaan Islam negeri yang dinilai terbuka dan inklusif.
Seleksi nasional UM-PTKIN 2026 digelar serentak pada 8-14 Juni 2026 melalui sistem ujian berbasis digital yang dilaksanakan di 59 titik lokasi di seluruh Indonesia. Sebanyak 64.479 peserta tercatat mengikuti seleksi masuk PTKIN tahun ini.
Ketua Panitia Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) PTKIN, Prof Abd Aziz, mengungkapkan bahwa peserta UM-PTKIN tidak hanya berasal dari kalangan Muslim. Berdasarkan data panitia, terdapat 20 peserta non-Muslim yang mendaftar dan mengikuti seleksi.
“Tercatat ada 20 peserta non-Muslim yang mengikuti ujian tahun ini, meliputi 17 pendaftar beragama Kristen, dua Katolik, dan satu pendaftar dari aliran Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa,” ujar Prof Abd Aziz dalam keterangan resminya, Senin, 8 Juni 2026.
Menurutnya, partisipasi peserta dari beragam latar belakang agama menunjukkan bahwa PTKIN semakin diterima sebagai ruang pendidikan yang aman, terbuka, dan memberikan kesempatan yang setara bagi seluruh warga negara.
Selain peserta non-Muslim, UM-PTKIN 2026 juga diikuti penyandang disabilitas. Tercatat sebanyak 43 peserta difabel mengikuti seleksi tahun ini, terdiri atas 11 tuna netra, delapan tuna rungu, tujuh tuna daksa, dan 17 tuna grahita.
“Kami memastikan seluruh titik lokasi ujian memberikan fasilitas terbaik dan akses yang ramah bagi mereka,” tegas Abd Aziz.
Tak hanya itu, pelaksanaan UM-PTKIN tahun ini juga menarik minat peserta dari luar negeri. Salah satu peserta yang mengikuti seleksi berasal dari Papua Nugini dan berencana melanjutkan pendidikan tinggi di Indonesia melalui jalur PTKIN.
“Tidak hanya itu, pada pergelaran tahun ini kami juga bangga karena terdapat mahasiswa asing, salah satunya dari Papua Nugini, yang ikut ambil bagian dalam seleksi UM-PTKIN untuk menempuh studi di Indonesia,” katanya.
Sementara itu, Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama, Prof Amin Suyitno, menyampaikan apresiasi atas meningkatnya jumlah pendaftar UM-PTKIN 2026. Ia menyebut tren tersebut menunjukkan semakin besarnya minat masyarakat terhadap PTKIN.
“Kita patut bersyukur karena jumlah pendaftar dan angka registrasi tahun ini mengalami peningkatan yang signifikan. Ada banyak inovasi serta metode baru yang kita munculkan pada proses pendaftaran tahun ini,” ujar Amin.
Menurutnya, peningkatan jumlah pendaftar juga tidak terlepas dari upaya berbagai PTKIN yang aktif melakukan sosialisasi dan strategi jemput bola untuk menjaring calon mahasiswa potensial di berbagai daerah.
“Saya mengapresiasi para pimpinan PTKIN yang telah melakukan strategi jemput bola untuk menjaring calon mahasiswa terbaik di wilayahnya masing-masing. Ini membuktikan bahwa keberadaan program studi di PTKIN sangat inklusif bagi siapa pun dan terbuka ramah untuk beragam latar belakang kepercayaan,” katanya.
Data panitia menunjukkan Jawa Barat menjadi provinsi dengan jumlah pendaftar UM-PTKIN 2026 terbanyak, yakni mencapai 9.245 peserta. Posisi berikutnya ditempati Jawa Timur dengan 8.971 pendaftar, Jawa Tengah 7.440 pendaftar, Aceh 4.083 pendaftar, dan Sumatra Utara sebanyak 3.956 pendaftar.
Tingginya minat masyarakat dari berbagai latar belakang, termasuk non-Muslim, penyandang disabilitas, hingga peserta internasional, menjadi indikator bahwa PTKIN terus berkembang sebagai institusi pendidikan tinggi yang inklusif dan semakin diminati masyarakat luas. (*)







