SerambiMuslim.com – Perkembangan kecerdasan buatan (AI), otomatisasi, dan transformasi digital telah mengubah berbagai aspek kehidupan, mulai dari cara belajar dan bekerja hingga pola interaksi sosial dan praktik keagamaan.
Di tengah perubahan tersebut, lembaga pendidikan Islam dituntut mampu beradaptasi tanpa kehilangan jati diri dan nilai-nilai dasarnya.
Direktur Centre for Islamic Development Management Studies (ISDEV), Universiti Sains Malaysia (USM), Prof. Shahir Akram Hassan, menegaskan bahwa transformasi digital tidak boleh menggeser prinsip-prinsip dasar Islam.
Menurutnya, teknologi harus dimanfaatkan sebagai sarana memperkuat pembangunan umat yang berlandaskan etika dan tujuan syariah.
“Tantangan kita hari ini bukan mengganti atau meninggalkan tradisi Islam, tetapi menerjemahkan nilai-nilai Islam menjadi praktik pembangunan modern yang efektif dan relevan dengan perkembangan zaman,” ujar Prof. Shahir dalam Seminar Internasional yang menjadi bagian dari rangkaian Rapat Kerja Nasional (Rakernas), Seminar Internasional, Focus Group Discussion (FGD), dan Kaderisasi Ulama Non-Degree Komisi Pendidikan dan Kaderisasi (KPK) Majelis Ulama Indonesia (MUI) di Jakarta, Minggu (12/7/2026).
Dalam presentasi bertajuk “From Tradition to Transformation: Islamic Development Management in a Digital World”, Prof. Shahir menjelaskan bahwa revolusi digital telah memengaruhi hampir seluruh sektor kehidupan. Dampaknya terlihat pada dunia pendidikan, tata kelola pemerintahan, struktur sosial, hingga praktik keberagamaan.
Ia menilai transformasi tersebut membuka peluang besar, tetapi juga menghadirkan berbagai tantangan. Perkembangan AI, penyebaran disinformasi, persoalan etika digital, perlindungan data pribadi, hingga meningkatnya fragmentasi sosial menjadi isu yang harus direspons oleh dunia pendidikan Islam.
“Tradisi Islam memiliki fondasi etika yang kuat dan tetap relevan sepanjang masa untuk membangun manusia dan masyarakat secara utuh. Karena itu, teknologi harus dipandu oleh nilai, bukan sebaliknya,” kata Prof. Shahir.
Pentingnya Integrasi Ilmu Agama dan Teknologi
Prof. Shahir menilai masih terdapat kesenjangan antara kajian keislaman klasik dengan kebutuhan pembangunan serta manajemen modern. Sebagian lulusan memiliki pemahaman agama yang baik, tetapi belum cukup menguasai teknologi dan tata kelola kontemporer. Di sisi lain, ada lulusan yang unggul dalam teknologi, namun belum memiliki fondasi etika dan nilai keislaman yang kuat.
Menurutnya, kesenjangan tersebut harus segera dijembatani agar umat Islam mampu beradaptasi dengan perubahan zaman sekaligus berkontribusi dalam peradaban digital.
Sebagai solusi, ia menawarkan konsep Islamic Development Management (IDM) yang mengintegrasikan pandangan hidup Islam, maqashid syariah, tata kelola digital, literasi AI, serta inovasi sosial dalam pembangunan masyarakat.
Melalui pendekatan tersebut, teknologi tidak hanya dipandang sebagai alat untuk meningkatkan efisiensi, tetapi juga sebagai instrumen untuk mewujudkan pembangunan yang berkeadilan, berkelanjutan, dan berorientasi pada kemaslahatan umat.
Pendidikan Jadi Kunci Transformasi Digital
Prof. Shahir menegaskan lembaga-lembaga Islam tidak lagi cukup mengandalkan metode konvensional dalam menghadapi perubahan global yang berlangsung sangat cepat. Menurutnya, lembaga pendidikan Islam harus terlibat aktif dalam transformasi digital.
“Kita membutuhkan tata kelola yang beretika, berbasis bukti, dan mampu memanfaatkan teknologi secara bertanggung jawab untuk kepentingan umat,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya menyiapkan generasi yang memiliki kompetensi lintas disiplin. Lulusan masa depan, kata dia, harus mampu mengintegrasikan ilmu agama dengan penguasaan teknologi agar dapat menjawab kebutuhan masyarakat modern.
“Kita memerlukan pemimpin masa depan yang memiliki landasan etika Islam yang kuat, menguasai teknologi digital, dan mampu menghadirkan solusi nyata bagi masyarakat,” kata Prof. Shahir.
Seminar internasional tersebut menghadirkan sejumlah akademisi dari berbagai negara, di antaranya Prof. Anwar Rajamoda dari Mindanao State University Shariah Center, Filipina, serta Prof. Tulus Suryanto, Direktur Pascasarjana UIN Raden Intan Lampung. Forum ini menjadi wadah memperkuat kolaborasi internasional dalam pengembangan pendidikan Islam yang adaptif terhadap kemajuan teknologi tanpa meninggalkan nilai-nilai keislaman.
Menutup paparannya, Prof. Shahir menegaskan bahwa keberhasilan transformasi digital umat Islam sangat bergantung pada kualitas pendidikan.
“Transformasi tidak dimulai dari teknologi, tetapi dari pendidikan. Dari sanalah lahir generasi yang mampu memimpin perubahan tanpa kehilangan nilai-nilai yang menjadi fondasinya,” ujarnya.
Jika diinginkan, saya juga dapat mengoptimalkan artikel ini agar lebih berpeluang masuk Google Discover dengan judul yang lebih menarik dan lead yang lebih kuat tanpa mengubah isi kutipan. (*)






