Fikih  

Tata Cara Salat Dhuha, Waktu Terbaik dan Keutamaannya

FOTO: Chatgpt/Serambi Muslim/Ilustrasi)

SerambiMuslim.com – Salat dhuha merupakan salah satu ibadah sunnah yang sangat dianjurkan dalam Islam. Amalan ini memiliki banyak keutamaan, mulai dari menjadi wujud rasa syukur kepada Allah SWT, membuka pintu rezeki, hingga termasuk ibadah yang rutin dikerjakan Rasulullah SAW.

Salah satu tata cara yang umum diamalkan adalah salat dhuha empat rakaat dengan dua kali salam.

Mengutip buku “Penuntun Mengerjakan Shalat Dhuha” karya Huriyah Huwaida, hukum salat dhuha adalah sunnah muakkadah atau sunnah yang sangat dianjurkan. Rasulullah SAW secara rutin melaksanakannya sekaligus menganjurkan para sahabat untuk mengerjakan ibadah tersebut.

Anjuran melaksanakan salat dhuha dijelaskan dalam hadits dari Abu Darda. Rasulullah SAW bersabda, “Kekasihku (Rasulullah SAW) berwasiat kepadaku agar melakukan tiga perkara: berpuasa tiga hari setiap bulan, salat dhuha dua rakaat, dan salat witir sebelum tidur.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Waktu Pelaksanaan Salat Dhuha

Secara umum, waktu salat dhuha dimulai sekitar 15–20 menit setelah matahari terbit hingga sebelum masuk waktu zuhur. Rentang waktu tersebut menjadi kesempatan bagi umat Islam untuk menunaikan ibadah sunnah ini sesuai kemampuan.

Meski dapat dikerjakan sepanjang waktu dhuha, waktu yang paling utama adalah ketika matahari mulai meninggi dan udara mulai terasa panas. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah SAW, “Salat orang-orang yang kembali kepada Allah adalah ketika anak-anak unta mulai kepanasan.” (HR. Muslim)

Salat Dhuha Empat Rakaat Dua Salam

Salah satu bentuk pelaksanaan salat dhuha yang banyak diamalkan adalah empat rakaat dengan dua kali salam. Tata cara ini dilakukan dengan mengerjakan dua rakaat, kemudian salam, lalu dilanjutkan dua rakaat berikutnya dan diakhiri salam.

Dasar pelaksanaan salat dhuha empat rakaat terdapat dalam hadits yang diriwayatkan dari Aisyah RA. Ia berkata, “Rasulullah salat dhuha empat rakaat dan menambahnya menurut kehendak Allah.” (HR Muslim)

Dengan berbagai keutamaan yang dimilikinya, salat dhuha menjadi salah satu amalan sunnah yang dianjurkan untuk dikerjakan secara rutin sebagai bentuk pendekatan diri kepada Allah SWT sekaligus mengharap keberkahan dalam kehidupan sehari-hari.

Bacaan Niat dan Tata Cara Salat Dhuha

Salat dhuha empat rakaat umumnya dikerjakan dengan dua kali salam. Artinya, setiap dua rakaat diakhiri dengan salam, kemudian dilanjutkan dua rakaat berikutnya. Sebelum memulai salat, umat Islam dianjurkan membaca niat sesuai jumlah rakaat yang akan dikerjakan.

1. Membaca Niat Salat Dhuha 4 Rakaat

Arab:

أصَلَّى سُنَّةَ الضُّحَى اَرْبَعَ رَكَعَاتٍ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ آدَاءً لِلَّهِ تَعَالَى

Latin: Usholli sunnata dhuhaa arba’a raka’aatin mustaqbilal qiblati adzaa’an lillaahi ta’aalaa.

Artinya: “Aku niat salat sunat dhuha empat rakaat dengan menghadap kiblat karena Allah Ta’ala.”

2. Membaca Doa Iftitah

Setelah takbiratul ihram, dilanjutkan dengan membaca doa iftitah.

Arab:

اَللهُ اَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ لِلّهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَاَصِيْلًا. اِنِّى وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِيْ فَطَرَالسَّمَاوَاتِ وَالْاَرْضَ حَنِيْفًا مُسْلِمًا وَمَا اَنَا مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ. اِنَّ صَلَاتِيْ وَنُسُكِيْ وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِيْ لِلّهِ رَبِّ الْعَا لَمِيْنَ. لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَبِذَلِكَ اُمِرْتُ وَاَنَا مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ

Latin: Allaahu akbar kabiraa walhamdulillaahi katsiiraa, wa subhaanallaahi bukratan wa’ashiilaa. Innii wajjahtu wajhiya lilladzii fatharas samaawaati wal ardha haniifan musliman wa maa anaa minal musyrikiin. Inna shalaatii wa nusukii wa mahyaaya wa mamaatii lillaahi rabbil ‘aalamiin. Laa syariikalahu wa bidzaalika umirtu wa ana minal muslimiin.

Artinya: “Allah Maha Besar lagi sempurna kebesaran-Nya, segala puji hanya kepunyaan Allah. Maha Suci Allah pagi dan petang. Sesungguhnya aku hadapkan wajahku (hatiku) kepada Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dengan keadaan lurus dan menyerahkan diri, dan aku bukanlah dari golongan kaum musyrikin. Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah Tuhan Semesta Alam, yang tidak ada sekutu bagi-Nya. Dengan yang demikian itulah aku diperintahkan untuk tidak menyekutukan-Nya. Dan aku adalah termasuk orang-orang muslim.”

3. Membaca Surah Al-Fatihah dan Surah Pendek

Pada setiap rakaat, setelah membaca Al-Fatihah, dianjurkan membaca surah pendek. Dalam pelaksanaan salat dhuha, surah yang kerap dianjurkan adalah Surah Asy Syams dan Surah Ad Dhuha, meski pada dasarnya boleh membaca surah lain yang dihafal.

Setelah membaca Surah Al-Fatihah, jamaah dapat melanjutkan dengan:

Surah Asy Syams pada rakaat pertama.

٥ وَالْاَرْضِ وَمَا طَحٰىهَاۖ ٦ وَنَفْسٍ وَّمَا سَوّٰىهَاۖ ٧ فَاَلْهَمَهَا فُجُوْرَهَا وَتَقْوٰىهَاۖ ٨ قَدْ اَفْلَحَ مَنْ زَكّٰىهَاۖ ٩ وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسّٰىهَاۗ ١٠ كَذَّبَتْ ثَمُوْدُ بِطَغْوٰىهَآ ۖ ١١ اِذِ انْۢبَعَثَ اَشْقٰىهَاۖ ١٢ فَقَالَ لَهُمْ رَسُوْلُ اللّٰهِ نَاقَةَ اللّٰهِ وَسُقْيٰهَاۗ ١٣ فَكَذَّبُوْهُ فَعَقَرُوْهَاۖ فَدَمْدَمَ عَلَيْهِمْ رَبُّهُمْ بِذَنْۢبِهِمْ فَسَوّٰىهَاۖ ١٤ وَلَا يَخَافُ عُقْبٰهَا ࣖ ١٥

Latin: Wasy-syamsi wa ḍuḥāhā, wal-qamari iżā talāhā, wan-nahāri iżā jallāhā, wal-laili iżā yagsyāhā, was-samā`i wa mā banāhā, wal-arḍi wa mā ṭaḥāhā, wa nafsiw wa mā sawwāhā, fa al-hamahā fujụrahā wa taqwāhā, qad aflaḥa man zakkāhā, wa qad khāba man dassāhā, każżabaṡ ṡamụdu biṭagwāhā, iżimba’aṡa asyqāhā, fa qāla lahum rasụlullāhi nāqatallāhi wa suqyāhā, fa każżabụhu fa ‘aqarụhā fa damdama ‘alaihim rabbuhum biżambihim fa sawwāhā, wa lā yakhāfu ‘uqbāhā

Artinya: “Demi matahari dan sinarnya pada waktu duha (ketika matahari naik sepenggalah), demi bulan saat mengiringinya, demi siang saat menampakkannya, demi malam saat menutupinya (gelap gulita), demi langit serta pembuatannya, demi bumi serta penghamparannya, dan demi jiwa serta penyempurnaan (ciptaan)-nya, lalu Dia mengilhamkan kepadanya (jalan) kejahatan dan ketakwaannya, sungguh beruntung orang yang menyucikannya (jiwa itu) dan sungguh rugi orang yang mengotorinya. (Kaum) Samud telah mendustakan (rasulnya) karena mereka melampaui batas ketika orang yang paling celaka di antara mereka bangkit (untuk menyembelih unta betina Allah). Rasul Allah (Saleh) lalu berkata kepada mereka, “(Biarkanlah) unta betina Allah ini beserta minumannya.” Namun, mereka kemudian mendustakannya (Saleh) dan menyembelih (unta betina) itu. Maka, Tuhan membinasakan mereka karena dosa-dosanya, lalu meratakan mereka (dengan tanah). Dia tidak takut terhadap akibatnya.”

Surah Ad Dhuha pada rakaat kedua.

وَالضُّحٰىۙ ١ وَالَّيْلِ اِذَا سَجٰىۙ ٢ مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلٰىۗ ٣ وَلَلْاٰخِرَةُ خَيْرٌ لَّكَ مِنَ الْاُوْلٰىۗ ٤ وَلَسَوْفَ يُعْطِيْكَ رَبُّكَ فَتَرْضٰىۗ ٥ اَلَمْ يَجِدْكَ يَتِيْمًا فَاٰوٰىۖ ٦ وَوَجَدَكَ ضَاۤلًّا فَهَدٰىۖ ٧ وَوَجَدَكَ عَاۤىِٕلًا فَاَغْنٰىۗ ٨ فَاَمَّا الْيَتِيْمَ فَلَا تَقْهَرْۗ ٩ وَاَمَّا السَّاۤىِٕلَ فَلَا تَنْهَرْ ١٠ وَاَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ ࣖ ١١

Latin: Waḍ-ḍuḥā, wal-laili iżā sajā, mā wadda’aka rabbuka wa mā qalā, wa lal-ākhiratu khairul laka minal-ụlā, walasaufa yu’ṭīka rabbuka fa tarḍā, alam yajidka yatīman fa āwā, wa wajadaka ḍāllan fa hadā, wawajadaka ‘ā`ilan fa agnā, fa ammal-yatīma fa lā taq-har, wa ammas-sā`ila fa lā tan-har, wa ammā bini’mati rabbika fa ḥaddiṡ

Artinya: “Demi waktu duha dan demi waktu malam apabila telah sunyi, Tuhanmu (Nabi Muhammad) tidak meninggalkan dan tidak (pula) membencimu. Sungguh, akhirat itu lebih baik bagimu daripada yang permulaan (dunia). Sungguh, kelak (di akhirat nanti) Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu sehingga engkau rida. Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungi(-mu); mendapatimu sebagai seorang yang tidak tahu (tentang syariat), lalu Dia memberimu petunjuk (wahyu); dan mendapatimu sebagai seorang yang fakir, lalu Dia memberimu kecukupan? Terhadap anak yatim, janganlah engkau berlaku sewenang-wenang. Terhadap orang yang meminta-minta, janganlah engkau menghardik. Terhadap nikmat Tuhanmu, nyatakanlah (dengan bersyukur).”

Selanjutnya, pada rakaat ketiga dan keempat dapat membaca Al-Fatihah dan surah pendek lainnya sesuai kemampuan.

4. Rukuk

Setelah selesai membaca surah, lakukan rukuk sambil membaca:

سُبْحَانَ رَبِّيَ الْعَظِيمِ وَبِحَمْدِهِ

Latin: Subhaana robbiyal ‘adziimi wabihamdih (dibaca tiga kali).

Artinya: “Maha suci Tuhan yang Maha Agung serta memujilah aku kepada-Nya.”

5. I’tidal

Setelah rukuk, berdiri tegak (i’tidal) sambil membaca:

سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ

Latin: Sami Allahu liman hamidah.

Artinya: “Allah mendengar orang-orang yang memuji-Nya.”

Setelah i’tidal, salat dilanjutkan dengan sujud, duduk di antara dua sujud, sujud kedua, kemudian berdiri untuk rakaat berikutnya hingga empat rakaat selesai. Setiap dua rakaat diakhiri dengan salam sehingga pelaksanaan salat dhuha empat rakaat dilakukan dengan dua kali salam.

6. Sujud Pertama

Setelah i’tidal, lakukan sujud pertama sambil membaca:

سُبْحَانَ رَبِّيَ الْأَعْلَى وَبِحَمْدِهِ

Latin: Subhaana robbiyal a’laa wabihamdih (dibaca tiga kali).

Artinya: “Mahasuci Tuhanku yang Maha tinggi.”

7. Duduk di Antara Dua Sujud

Setelah sujud pertama, duduk di antara dua sujud sambil membaca doa berikut.

رب اغْفِرلي وَارْحَمْنِى واجبرني وَارْفَعْنِي وَارْزُقْنِى وَاهْدِنِى وَعَافِنِى وَاعْفُ عَنِّى

Latin: Robbighfirlii warhamnii wajburnii warfa’nii warzuqnii wahdinii wa’aafinii wa’fu ‘annii.

Artinya: “Ya Allah, ampunilah aku, rahmatilah aku, cukupkanlah aku, angkatlah derajatku, berilah aku rezeki, berikanlah aku petunjuk, sehatkanlah aku, dan maafkanlah aku.”

8. Sujud Kedua

Selanjutnya lakukan sujud kedua dengan membaca:

سُبْحَانَ رَبِّيَ الْأَعْلَى وَبِحَمْدِهِ

Latin: Subhaana robbiyal a’laa wabihamdih (dibaca tiga kali).

Artinya: “Mahasuci Tuhanku yang Maha tinggi.”

9. Mengulangi Rakaat Berikutnya

Setelah sujud kedua, berdiri untuk melanjutkan rakaat berikutnya dengan tata cara yang sama seperti rakaat pertama. Pada setiap rakaat, setelah membaca Surah Al-Fatihah, dianjurkan membaca surah pendek yang berbeda dari rakaat sebelumnya.

10. Membaca Tasyahud Akhir

Setelah menyelesaikan dua rakaat, bacalah tasyahud akhir sebelum mengucapkan salam.

اَلتَّحِيَّاتُ الْمُبَارَكَاتُ الصَّلَوَاتُ الطَّيِّبَاتُ ِللهِ. اَلسَّلامُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ، اَلسَّلامُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللهِ الصَّالِحِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

Latin: Attahiyyaatul mubaarokaatush sholawaatuth thoyyibaatu lillaah. Assalaamu ‘alaika ayyuhan nabiyyu wa rohmatullahi wa barokaatuh. Assalaaamu ‘alainaa wa ‘alaa ‘ibaadillaahish shoolihiin. Asyhadu allaa ilaaha illallah, wa asyhadu anna Muhammadar rosuulullah.

Allahumma sholli ‘ala Muhammad wa ‘ala aali Muhammad, kamaa shollaita ‘ala Ibrahim wa ‘ala aali Ibrahim. Wa baarik ‘ala Muhammad wa ‘ala aali Muhammad, kamaa baarokta ‘ala Ibrahim wa ‘ala aali Ibrahim, fil ‘alamiina innaka hamiidum majiid.

Artinya: “Segala kehormatan, keberkahan, kebahagiaan dan kebaikan itu kepunyaan Allah. Keselamatan atas engkau wahai Nabi Muham-mad, demikian pula rahmat Allah dan berkah-Nya. Keselamatan dicurahkan pula untuk kami dan atas seluruh hamba Allah yang saleh-saleh. Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan melainkan Allah. Dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah.

Ya Allah, limpahkanlah rahmat atas keluarga Nabi Muhammad. Sebagaimana telah Engkau beri rahmat kepada Nabi Ibrahim dan keluarganya. Dan limpahkanlah berkah atas Nabi Muhammad beserta para keluarganya. Sebagaimana Engkau telah memberi berkah kepada Nabi Ibrahim dan keluarganya. Bahwasanya Engkau, Tuhan yang sangat terpuji lagi sangat Mulia di seluruh alam.”

11. Salam dan Melanjutkan Dua Rakaat Berikutnya

Setelah tasyahud akhir, ucapkan salam untuk mengakhiri dua rakaat pertama. Selanjutnya berdiri kembali dan mengerjakan dua rakaat berikutnya dengan tata cara yang sama hingga genap empat rakaat atau dua kali salam.

12. Doa Setelah Salat Dhuha

Setelah menyelesaikan salat dhuha empat rakaat, umat Islam dianjurkan membaca doa berikut.

اللَّهُمَّ إِنَّ الضُّحَاءَ ضُحَاءُكَ وَالْبَهَاءَ بَهَاءُكَ وَالْجَمَالَ جَمَالِكَ وَالْقُوَّةَ قُوَّتُكَ وَالْقُدْرَةَ قُدْرَتُكَ وَالْعِصْمَةَ عِصْمَتُكَ. اللَّهُمَّ إِنْ كَانَ رِزْقِي فِي السَّمَاءِ فَانْزِلْهُ وَإِنْ كَانَ فِي الْأَرْضِ فَأَخْرِجْهُ وَإِنْ كَانَ مُعَسّرًا فَيَسِرْهُ وَإِنْ كَانَ حَرَامًا فَطَهِّرْهُ وَإِنْ كَانَ بَعِيدًا فَقَرِّبْهُ بِحَقِّ ضُحَاءِكَ وَبَهَاءِكَ وَجَمَالِكَ وَقُوَّتِكَ وَقُدْرَتِكَ آتِنِي مَا أَتَيْتَ عِبَادَكَ الصَّالِحِينَ.

Latin: Allaahumma innadh dhuhaa-a dhuhaa-uka wal bahaa-a bahaa-uka wal jamaala jamaaluka wal quwwata quwwatuka wal qudrata qudratuka wal ‘ishmata ‘ishmatuka. Allaahumma inkaana rizqii fis samaa-i fa anzilhu wa inkaana fil ardhi fa akhrijhu wa inkaana mu’siraan fa yassirhu wa inkaana haraaman fa thahhirhu wa inkaana ba’iidan fa qarribhu bihaqqi dhuhaa-ika wa bahaa-ika wa jamaalika wa quwwatika wa qudratika aatiinii maa aataita ‘ibaadakash shaalihiin.

Artinya: “Ya Allah, ya Tuhan kami, bahwasanya waktu dhuha itu dhuha-Mu, keagungan adalah keagungan-Mu, keindahan itu adalah keindahan-Mu, kekuatan itu adalah kekuatan-Mu, kekuasaan itu adalah kekuasaan-Mu, dan perlindungan itu adalah perlindungan-Mu. Ya Allah, ya Tuhan kami, jika rezekiku masih di atas langit, maka turunkanlah, dan jika di dalam bumi maka keluarkanlah, dan jika sukar maka mudahkanlah, jika haram maka sucikanlah, serta jika masih jauh maka dekatkanlah. Berkat waktu dhuha, keagungan, keindahan, kekuatan, dan kekuasaan-Mu, limpahkanlah kepada kami segala yang telah Engkau limpahkan kepada hamba-hamba-Mu yang saleh.” (*)