SerambiMuslim.com – Ustadz Abdul Somad (UAS) membedah buku terbarunya berjudul 35 Kisah Saat Maut Menjemput di Masjid Baitut Tholibin, Jakarta, Jumat, 27 Februari 2026. Kegiatan tersebut turut dihadiri tiga menteri Kabinet Indonesia Maju.
Tiga pejabat yang hadir yakni Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto, Menteri Kebudayaan Fadli Zon, dan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti.
Dalam pengantarnya, Ustadz Abdul Somad mengaku momentum tersebut menjadi pengalaman tersendiri baginya.
“Sudah lama saya bedah buku, baru hari ini dihadiri tiga menteri,” ujar UAS di hadapan jamaah.
Ditulis dari Refleksi Pandemi dan Ujian Pribadi
Alumnus Universitas Al-Azhar, Mesir ini menjelaskan, gagasan buku tersebut mulai ia kumpulkan sejak masa pandemi COVID-19. Periode tersebut, menurutnya, menjadi fase perenungan mendalam, terlebih setelah ia kehilangan sang ibunda pada 18 Maret 2019 dan menghadapi berbagai dinamika kehidupan, termasuk tekanan sosial dan politik.
“Beberapa teman saya meninggal waktu COVID. Buku ini sudah mulai saya kumpul-kumpulkan saat itu. Di situlah saya berpikir untuk menulis semacam surat wasiat. Nanti kalau saya mati, semua sudah saya tulis,” ungkapnya.
Ia juga menyinggung suasana batin yang pernah dirasakannya pada masa itu. “Memang waktu itu dunia sudah gelap. Jadi kalau ada sekarang yang mengatakan Indonesia gelap, saya sudah gelap dari dulu,” katanya.
Buku 35 Kisah Saat Maut Menjemput memuat refleksi tentang kematian melalui kisah para nabi, sahabat Nabi, ulama, serta tokoh-tokoh bersejarah. Di dalamnya juga diangkat pesan-pesan terakhir mereka menjelang wafat sebagai bahan perenungan spiritual.
Komentar Para Menteri
Di kesempatan yang sama, Abdul Mu’ti menyampaikan apresiasinya terhadap karya tersebut. Ia menilai buku itu tidak hanya menghadirkan kisah sejarah, tetapi juga memuat keteladanan dan refleksi moral yang relevan bagi masyarakat.
“Buku ini mengingatkan kita tentang kematian. Dengan membaca kisah-kisah ini, semoga kita semakin bersemangat menyiapkan bekal untuk kehidupan setelah mati,” ujarnya.
Senada, Brian Yuliarto menyebut tema kematian yang diangkat UAS relevan dengan suasana Ramadan yang identik dengan perenungan diri.
“Mengingat kematian membuat kita lebih bijaksana. Kekayaan dan jabatan tidak akan kita bawa. Pada akhirnya, kita semua sama di hadapan Allah. Semoga refleksi ini melembutkan hati kita dan menjadikan sikap kita lebih baik,” kata Brian.
Sementara itu, Fadli Zon menekankan pentingnya literasi spiritual sebagai bagian dari khazanah kebudayaan bangsa. Ia menilai refleksi tentang kematian dapat memperkaya kesadaran manusia dalam memaknai hidup.
“Kematian adalah sesuatu yang pasti. Buku ini mengingatkan kita untuk memaknai hidup sebagai hadiah yang harus digunakan sebaik-baiknya. Pengalaman spiritual dan kisah para tokoh dalam buku ini memberi pelajaran penting bagi kehidupan,” ujar Fadli.
Bedah buku tersebut berlangsung khidmat dan dihadiri jamaah serta sejumlah tokoh masyarakat.
Momentum ini sekaligus menjadi ruang dialog antara literasi keagamaan dan refleksi kebangsaan di tengah bulan suci Ramadan. ***







