SerambiMuslim.com – Suatu hari, Umar bin Khattab duduk di dekat masjid dan mendengar seseorang membaca Alquran.
Umar terkejut karena bacaan tersebut menurutnya keliru dari yang ia pelajari. Sahabat Nabi bergelar al-Faruq itu segera mendatangi sumber suara.
Pembaca Alquran tersebut ternyata Hisyam bin Hakim, juga sahabat Nabi Muhammad SAW.
Umar bertanya dengan nada keras tentang siapa yang mengajarkan bacaan tersebut. Hisyam menjawab dengan tenang bahwa bacaan itu diajarkan Rasulullah SAW.
Umar tidak percaya dan menuduh Hisyam berdusta karena bacaan mereka berbeda.
Dalam keadaan marah, Umar menggenggam Hisyam dan membawanya menghadap Rasulullah SAW.
Umar mengadukan bacaan Alquran Hisyam yang dianggapnya keliru. Rasulullah SAW memerintahkan Umar melepaskan Hisyam.
Nabi kemudian meminta Hisyam membaca Alquran tanpa tekanan. Hisyam membaca ayat Alquran dengan dialek yang berbeda dari Umar.
Rasulullah SAW menegaskan bacaan Hisyam sesuai wahyu. Selanjutnya, Nabi meminta Umar membaca ayat yang sama.
Umar membaca Alquran sesuai dialek yang ia pelajari. Rasulullah SAW kembali menegaskan bacaan Umar juga benar.
Nabi SAW menjelaskan Alquran diturunkan dengan tujuh ragam bacaan. Umat diperintahkan membaca Alquran dengan cara yang paling mudah.
Peristiwa ini mengajarkan pentingnya tabayun dalam menyikapi perbedaan. Tabayun mencegah kesalahpahaman dan fitnah di tengah umat.
Allah SWT memerintahkan orang beriman memeriksa setiap berita dengan teliti. Perintah tersebut termaktub dalam Surah Al-Hujurat ayat enam. ***






