Berita  

Makna Dayyuts dan Cemburu yang Dibolehkan dalam Islam

Foto: iStockphoto/Ilustrasi

SerambiMuslim.com – Menurut KBBI, dayus berarti hina budi pekertinya. Istilah ini berasal dari bahasa Arab, dayyuts (الدَّيُّوثُ).

Ulama mendefinisikan dayyuts sebagai hilangnya rasa cemburu terhadap kemungkaran dalam keluarga. Seseorang disebut dayyuts bila mengetahui keburukan keluarganya namun membiarkannya terjadi.

Alasan pembiaran bisa karena gengsi, takut konflik, atau pertimbangan duniawi lainnya. Sikap tersebut dinilai sebagai pembenaran terhadap kemungkaran.
Rasulullah SAW menyebut dayyuts termasuk golongan yang diharamkan masuk surga. Hadis tersebut diriwayatkan oleh Imam Ahmad.

Imam adz-Dzahabi menjelaskan dayyuts sebagai orang yang membenarkan kemungkaran keluarganya. Ia tetap menganggap baik perbuatan tersebut meski keburukan nyata terlihat.

Dalam rumah tangga, suami adalah pemimpin yang akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah. Kepemimpinan itu mencakup pembinaan moral dan agama keluarga.

Istri juga memiliki peran kepemimpinan dalam rumah tangga dan pendidikan anak-anak. Setiap peran akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah.

Fenomena dayyuts sering muncul akibat minimnya ilmu sebelum menikah. Kurangnya pemahaman hak dan kewajiban keluarga menjadi faktor utama.

Allah memerintahkan orang beriman menjaga diri dan keluarga dari api neraka. Perintah tersebut tertuang dalam Surah at-Tahrim ayat 6.

يٰۤاَيُّهَا الَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡا قُوۡۤا اَنۡفُسَكُمۡ وَاَهۡلِيۡكُمۡ نَارًا وَّقُوۡدُهَا النَّاسُ وَالۡحِجَارَةُ عَلَيۡهَا مَلٰٓٮِٕكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعۡصُوۡنَ اللّٰهَ مَاۤ اَمَرَهُمۡ وَيَفۡعَلُوۡنَ مَا يُؤۡمَرُوۡنَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan” (QS at-Tahrim: 6).

Cemburu Berlebihan

Cemburu berbeda dengan dayyuts dan merupakan fitrah manusia. Cemburu yang wajar menunjukkan kepedulian dan tanggung jawab.

Rasulullah SAW pernah menghadapi kecemburuan salah satu istrinya. Beliau menyikapinya dengan kelembutan dan kebijaksanaan.

Cemburu berlebihan justru termasuk perbuatan tercela. Islam mengajarkan keseimbangan dalam menyikapi rasa cemburu.

Rasulullah menjelaskan cemburu yang disukai dan dibenci Allah. Cemburu dibenarkan jika ada hal mencurigakan.

Cemburu yang dibenci Allah adalah tanpa alasan yang jelas. Sikap tersebut dapat menimbulkan kezaliman dan keretakan rumah tangga. ***