Berita  

Keutamaan Mendidik Anak Perempuan dalam Islam

Islam memuliakan anak perempuan dan menjadikan pendidikan mereka sebagai sumber kebaikan dunia dan akhirat. Simak dalil Al-Qur’an dan kisah inspiratifnya. (Foto: iStockphoto/Ilustrasi)

SerambiMuslim.com – Islam memberikan perhatian besar terhadap pendidikan dan pemuliaan anak perempuan.

Sikap merendahkan atau membenci kelahiran anak perempuan merupakan warisan perilaku jahiliyah yang secara tegas dicela oleh Allah SWT.

Dalam buku Panduan Mendidik Anak Sesuai Sunnah Nabi SAW, Syekh Abdussalam as-Sulayman menjelaskan bahwa rasa benci terhadap anak perempuan sejatinya sama dengan perangai orang-orang jahiliyah terdahulu. Allah SWT menggambarkan kondisi mereka dalam Al-Qur’an:

“Apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, wajahnya menjadi hitam (merah padam), dan dia sangat marah. Dia bersembunyi dari orang banyak, disebabkan kabar buruk yang disampaikan kepadanya. Apakah dia akan memeliharanya dengan (menanggung) kehinaan atau akan membenamkannya ke dalam tanah (hidup-hidup)? Ingatlah alangkah buruknya (putusan) yang mereka tetapkan itu.” (QS an-Nahl: 58–59)

Padahal, manusia tidak pernah mengetahui di mana letak kebaikan yang sesungguhnya. Allah SWT berfirman:

“Boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan kebaikan yang banyak padanya.” (QS an-Nisa’: 19)

Anak perempuan bisa menjadi sumber kebaikan yang besar bagi orang tua, baik di dunia maupun di akhirat. Membenci anak perempuan berarti menolak ketentuan dan karunia yang Allah SWT berikan, sesuatu yang jelas tidak dibenarkan dalam ajaran Islam.

Ironisnya, masih ada sebagian orang yang memperlakukan istrinya dengan buruk hanya karena melahirkan anak perempuan. Ada yang menjauhi istrinya, mencela, bahkan menceraikannya. Padahal, jenis kelamin anak bukanlah pilihan manusia, melainkan ketetapan Allah SWT.

Sejarah para nabi justru menunjukkan kemuliaan anak perempuan. Allah SWT mengaruniakan anak-anak perempuan kepada nabi-nabi mulia seperti Nabi Luth dan Nabi Syu’aib. Bahkan Rasulullah SAW tidak memiliki anak laki-laki yang hidup hingga dewasa, namun Allah menggantinya dengan putri tercinta, Fatimah az-Zahra, yang darinya lahir keturunan Rasulullah SAW.

Kisah menyentuh juga diriwayatkan dari Thorif (atau Thuraif) tentang seorang Arab bernama Abu Hamzah adh-Dhabi. Ia sangat menginginkan anak laki-laki. Namun ketika istrinya melahirkan anak perempuan, Abu Hamzah marah dan menjauhi rumah istrinya.

Suatu hari, ia melewati kemah istrinya dan mendengar sang istri sedang bermain dengan putrinya sambil melantunkan syair:

“Abu Hamzah enggan mendatangi kami, padahal kami masih berteduh dalam rumah penuh kasih sayang.

Ia murka karena kami melahirkan anak perempuan, padahal demi Allah, kami tak kuasa memilihnya.

Kami hanya menerima apa yang dianugerahkan, laksana tanah yang menumbuhkan benih yang ditanam.”

Syair itu menggugah hati Abu Hamzah. Naluri kasih sayang seorang ayah pun bangkit. Ia masuk ke rumah, memeluk dan mengecup istrinya serta putri kecilnya. (Kisah ini diriwayatkan dalam al-Bayan wat Tabyin, Jilid 1, halaman 108).

Kisah-kisah tersebut menegaskan bahwa memuliakan dan mendidik anak perempuan adalah bagian dari keimanan dan ketaatan kepada Allah SWT. Islam datang untuk mengangkat derajat perempuan, bukan merendahkannya. ***