Fikih  

Ikhlas Jadi Kunci Utama Akhlak Mulia dalam Islam

ikhlas dalam Islam, keutamaan ikhlas, amal karena Allah, hadis ikhlas, Fikih Akhlak, Musthafa al Adawy, akhlak Islam (Foto: iStockphoto/Ilustrasi)

SerambiMuslim.com – Keikhlasan menjadi salah satu fondasi utama dalam ajaran Islam. Tidak hanya dalam ibadah, sikap ikhlas juga menjadi penentu nilai amal dan akhlak seseorang di hadapan Allah SWT.

Syekh Abu Abdullah Musthafa al-‘Adawy dalam kitab Fikih Akhlak menjelaskan bahwa kata ikhlas berasal dari bahasa Arab, yakni khalasha, yang berarti jernih atau suci dari campuran serta pencemaran.

Dalam praktik ibadah, seseorang disebut ikhlas apabila seluruh amal yang dilakukan semata-mata ditujukan karena Allah SWT, bukan demi pujian atau penilaian manusia.

Seorang yang ikhlas akan menjaga amalnya dari segala bentuk pencemaran, termasuk keinginan mendapatkan perhatian dan pujian dari makhluk.

Menurutnya, keikhlasan juga menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga konsistensi akhlak seorang Muslim.

Jika Anda memberi, maka berilah hanya karena Allah. Jika Anda mencintai, maka cintailah hanya karena Allah, dan jika Anda membenci, maka bencilah karena Allah.

Balasan bagi Orang yang Ikhlas

Allah SWT menjanjikan ganjaran besar bagi hamba yang beramal dengan penuh ketulusan. Salah satunya dijelaskan dalam Alquran Surah Al-Lail ayat 18-21:

“Orang yang menginfakkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkan dirinya, dan tidak ada seseorang pun memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya, tetapi dia memberikan itu semata-mata karena mencari keridaan Tuhannya Yang Mahatinggi. Dan sungguh, kelak dia akan memperoleh kepuasan.” (QS Al-Lail: 18-21).

Ayat tersebut menegaskan bahwa amal yang dilakukan dengan niat tulus hanya mengharap ridha Allah akan mendapat balasan sempurna di akhirat.

Ancaman bagi Amal yang Tidak Tulus

Sebaliknya, Islam juga memberikan peringatan keras kepada mereka yang beramal demi kepentingan duniawi, seperti mencari popularitas, pujian, maupun pengakuan manusia.

Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW menjelaskan tentang tiga golongan yang pertama kali diadili pada hari kiamat meski semasa hidup dikenal memiliki amal besar.

Golongan pertama adalah orang yang mati syahid. Namun Allah SWT menolaknya karena perjuangannya dilakukan agar dikenal sebagai sosok pemberani.

Golongan kedua ialah orang yang mempelajari ilmu agama dan membaca Alquran. Akan tetapi, amal tersebut dilakukan demi memperoleh gelar alim dan qari.

Sementara golongan ketiga adalah orang kaya yang gemar bersedekah, tetapi niatnya hanya untuk mendapat pujian sebagai dermawan.

Ketiganya beramal bukan karena Allah, melainkan demi penilaian manusia.

Karena itu, keikhlasan menjadi pembeda utama antara amal yang diterima dan yang tertolak di sisi Allah SWT.

Amal sebesar apa pun tidak akan bernilai apabila dilakukan tanpa ketulusan dan jauh dari niat mencari ridha-Nya.

Keikhlasan juga menjadi pengingat bahwa kualitas amal dalam Islam tidak hanya diukur dari tampilan lahiriah, tetapi terutama dari niat yang tersembunyi di dalam hati. (*)