SerambiMuslim.com – Peran ibu rumah tangga kerap dipandang sederhana. Padahal, dalam perspektif Islam, tanggung jawab tersebut memiliki nilai yang besar, bahkan disandingkan dengan perjuangan di jalan jihad.
Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW menegaskan bahwa setiap jerih payah seorang istri di rumah memiliki nilai ibadah yang tinggi. Upaya yang dilakukan dalam mengelola rumah tangga, apabila dilandasi keikhlasan, dipandang sebagai bagian dari pengabdian yang bernilai spiritual.
Peran domestik yang dijalankan seorang ibu sejatinya tidak sekadar berkutat pada urusan rumah tangga. Ia memegang peran sentral dalam membentuk karakter generasi sejak usia dini. Dari tangan ibu, nilai-nilai dasar kehidupan, moral, hingga pola pikir anak mulai ditanamkan.
Pertumbuhan sebuah generasi, dalam banyak hal, bermula dari lingkungan keluarga. Di titik ini, ibu menjadi figur kunci yang menentukan arah pendidikan anak, baik secara emosional, intelektual, maupun spiritual.
Dalam ajaran Islam, tanggung jawab tersebut juga ditegaskan sebagai bentuk kepemimpinan. Rasulullah SAW menyebut seorang istri sebagai pemimpin di rumah suaminya dan bertanggung jawab atas amanah tersebut. Artinya, peran ibu bukan sekadar pelengkap, melainkan penentu kualitas keluarga.
Namun, dalam perkembangan sosial modern, peran domestik kerap mengalami pergeseran makna. Sebagian perempuan memandang aktivitas di rumah sebagai simbol ketergantungan ekonomi, sementara pekerjaan di ruang publik dianggap lebih prestisius. Persepsi ini secara tidak langsung mendorong meredupnya penghargaan terhadap peran ibu rumah tangga.
Padahal, pendidikan formal yang dimiliki seorang perempuan tetap relevan dalam peran tersebut. Bekal ilmu dan pola pikir yang diperoleh di bangku pendidikan justru menjadi modal penting dalam mendidik anak secara lebih sistematis dan berkualitas.
Seorang ibu tidak hanya bertugas memenuhi kebutuhan fisik anak, tetapi juga membentuk karakter, menanamkan nilai agama, serta membimbing mereka menghadapi tantangan lingkungan dan perkembangan teknologi. Tugas ini menuntut kecerdasan, kesabaran, dan keteladanan.
Islam Menempatkan Ibu pada Posisi Utama
Sejak lebih dari 14 abad lalu, Islam telah menegaskan pentingnya penghormatan kepada orang tua, dengan menempatkan ibu pada posisi yang sangat istimewa.
Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW menyebut nama ibu hingga tiga kali ketika ditanya siapa yang paling berhak mendapatkan perlakuan baik, sebelum kemudian menyebut ayah. Penegasan ini menunjukkan besarnya penghargaan terhadap peran dan pengorbanan seorang ibu.
Ulama Abdullah Nashih Ulwan dalam karyanya tentang pendidikan anak menjelaskan bahwa keutamaan tersebut tidak lepas dari peran ibu yang dominan sejak masa kehamilan, melahirkan, menyusui, hingga membesarkan anak.
Alquran juga menegaskan hal serupa, antara lain dalam Surah Luqman ayat 14 yang menggambarkan perjuangan seorang ibu dalam mengandung dan merawat anak.
Selain itu, Surah Al-Isra ayat 23 mengingatkan pentingnya menjaga sikap kepada orang tua, bahkan melarang ucapan yang berpotensi menyakiti hati mereka.
Dalam sejumlah riwayat, konsekuensi dari mengabaikan bakti kepada ibu digambarkan secara tegas. Salah satu kisah yang sering dikutip adalah tentang seorang pemuda bernama Alqamah yang mengalami kesulitan menjelang wafat karena persoalan bakti kepada ibunya.
Kisah tersebut menjadi pengingat bahwa hubungan antara anak dan ibu tidak hanya bersifat sosial, tetapi juga memiliki dimensi moral dan spiritual yang kuat. ***






