SerambiMuslim.com – Universitas Jayabaya resmi mengangkat Ustadz Das’ad Latif sebagai dosen luar biasa pada Fakultas Ilmu Komunikasi.
Langkah ini menjadi bagian dari strategi kampus menghadirkan pengajar yang tidak hanya kuat secara akademik, tetapi juga memiliki pengalaman praktik di tengah masyarakat.
Ketua Yayasan Universitas Jayabaya, Moestar Putrajaya, mengatakan kehadiran Ustadz Das’ad diharapkan mampu memperkaya perspektif mahasiswa, khususnya dalam memahami komunikasi berbasis nilai keislaman.
“Beliau bukan hanya akademisi, tetapi juga praktisi dakwah yang mampu menghubungkan teori komunikasi dengan realitas di masyarakat. Ini yang sangat dibutuhkan mahasiswa saat ini,” ujar Moestar dalam keterangan tertulis, Rabu, 7 April 2026.
Menurut dia, kolaborasi ini juga menjadi langkah strategis kampus dalam merespons tantangan komunikasi di era digital yang semakin kompleks. Pergeseran pola komunikasi yang serba cepat dan terbuka menuntut mahasiswa memiliki kemampuan adaptif sekaligus berlandaskan etika.
“Kami ingin mahasiswa tidak hanya cerdas secara teori, tetapi juga memiliki nilai, etika, dan kemampuan komunikasi yang berdampak,” kata Moestar.
Dalam rangkaian pengangkatan tersebut, Das’ad Latif turut menyampaikan kuliah umum bertajuk ‘Peranan Ilmu Komunikasi dalam Dakwah Bil Haq’. Dalam paparannya, ia menekankan bahwa komunikasi merupakan fondasi utama dalam kehidupan manusia sekaligus instrumen penting dalam aktivitas dakwah.
“Komunikasi itu bukan sekadar menyampaikan pesan, tetapi bagaimana pesan itu dipahami dan memberi dampak kepada audiens,” ujar Das’ad.
Ia merujuk pada model komunikasi Harold Lasswell yang menekankan pentingnya memahami unsur komunikator, pesan, media, audiens, dan efek sebagai satu kesatuan proses.
Menurutnya, pendekatan tersebut semakin relevan di tengah praktik dakwah modern yang memanfaatkan berbagai platform digital.
Das’ad juga menyoroti perubahan karakter komunikasi di era digital yang semakin interaktif dan berbasis multimedia. Kondisi ini, kata dia, menuntut para dai untuk mampu menyesuaikan pendekatan agar pesan tetap efektif, terutama bagi generasi muda.
“Di era digital, dakwah harus memahami audiens. Pesan yang baik adalah pesan yang disesuaikan dengan siapa yang mendengarkan,” tuturnya.
Ia pun mengingatkan pentingnya adab dalam berkomunikasi. Tanpa nilai etika, menurutnya, ilmu justru berpotensi disalahgunakan.
“Ilmu tanpa adab jadinya seperti api yang membakar,” ucapnya.
Sebagai penutup, Das’ad menegaskan bahwa tujuan utama komunikasi dalam dakwah adalah menghadirkan kemaslahatan. Karena itu, setiap pesan harus berorientasi pada kebaikan, kebenaran, dan kesabaran sebagai inti dari dakwah bil haq. ***







