Fikih  

Kisah Nabi Muhammad Sebelum Jadi Utusan Allah

Kisah Nabi Muhammad SAW dalam meredam konflik Hajar Aswad dan menjalani hidup sederhana menjadi teladan kepemimpinan dan akhlak bagi umat manusia. (Foto: iStockphoto/Ilustrasi)

SerambiMuslim.com – Dalam Alquran, Allah SWT menegaskan posisi Nabi Muhammad SAW sebagai teladan utama. Hal itu tercantum dalam Surat Al-Ahzab ayat 21 yang menyebutkan bahwa Rasulullah merupakan suri teladan terbaik bagi umat manusia.

Sepanjang hidupnya, Nabi Muhammad SAW membimbing manusia menuju kebaikan, baik dalam urusan dunia maupun akhirat.

Kehadiran Nabi Muhammad SAW menjadi titik balik bagi masyarakat Arab yang sebelumnya hidup dalam ikatan kabilah dengan fanatisme kesukuan yang kuat.

Konflik kerap dipicu persoalan sepele yang berujung pada peperangan antarkelompok. Dalam situasi seperti itu, kepentingan elite kabilah sering kali mengorbankan masyarakat luas.

Namun jauh sebelum diangkat sebagai nabi, Muhammad telah dikenal sebagai pribadi yang jernih dalam berpikir dan adil dalam bersikap. Salah satu peristiwa yang mencerminkan hal tersebut adalah saat renovasi Kabah di Makkah, ketika usianya sekitar 35 tahun.

Kala itu, proses perbaikan Kabah hampir rampung. Persoalan muncul ketika Hajar Aswad hendak dikembalikan ke tempat semula. Setiap pemimpin kabilah ingin memperoleh kehormatan untuk meletakkan batu tersebut, sehingga berpotensi memicu konflik besar.

Untuk menghindari perselisihan, para tokoh kabilah sepakat menunjuk orang pertama yang memasuki area Kabah keesokan harinya sebagai penengah. Sosok yang datang adalah Muhammad, yang saat itu telah dikenal dengan julukan Al-Amin karena kejujuran dan integritasnya.

Alih-alih memutuskan secara sepihak, Muhammad menawarkan solusi yang merangkul semua pihak. Ia membentangkan kain sorban, meletakkan Hajar Aswad di atasnya, lalu meminta setiap perwakilan kabilah memegang ujung kain tersebut. Dengan cara itu, seluruh kabilah terlibat dalam proses peletakan, tanpa menimbulkan konflik baru.

Peristiwa ini menunjukkan pendekatan kepemimpinan yang inklusif dan solutif, sebuah pelajaran penting dalam meredam konflik sosial.

Selain kecakapan dalam menyelesaikan konflik, Nabi Muhammad SAW juga mencontohkan kesederhanaan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam sebuah riwayat, Umar bin Khaththab pernah menangis saat melihat alas tidur Rasulullah yang kasar hingga membekas di tubuhnya. Ia membandingkan kondisi tersebut dengan kemewahan para penguasa Romawi dan Persia.

Rasulullah SAW tidak menginginkan kemewahan. Bahkan, dalam riwayat lain yang disampaikan Hafshah binti Umar, Rasulullah menolak alas tidur yang dibuat lebih empuk karena dianggap mengganggu kekhusyukan ibadahnya.

Keteladanan Nabi tidak hanya berhenti pada ucapan, tetapi tercermin dalam tindakan nyata. ‘Aisyah pernah menyebut akhlak Rasulullah sebagai “Alquran yang hidup,” menggambarkan keselarasan antara ajaran dan praktik kehidupan beliau.

Meski memiliki kedudukan tinggi sebagai utusan Tuhan, Nabi Muhammad SAW menolak segala bentuk pengkultusan. Dalam sebuah hadits, beliau mengingatkan umatnya agar tidak berlebihan dalam memuliakan dirinya, sebagaimana yang terjadi pada umat terdahulu terhadap Nabi Isa.

“Aku hanyalah hamba Allah, utusan dan hamba-Nya,” demikian pesan Rasulullah SAW, menegaskan posisi beliau sebagai manusia yang menjalankan amanah ilahi. ***