SerambiMuslim.com – Ratusan umat Islam memprotes rencana pembongkaran sebagian Masjid Shahi di Ujjain, India.
Masjid tersebut berusia hampir 600 tahun dan terdampak proyek pelebaran jalan.
Proyek tersebut dilakukan menjelang pelaksanaan Simhastha Kumbh 2028 yang diperkirakan menarik banyak peziarah.
Polisi dalam jumlah besar dikerahkan ketika pembongkaran sebagian bangunan masjid mulai dilakukan.
Dalam video yang dirilis Aljazeera pada Senin (28/9/2026), aparat terlihat berjaga di sekitar lokasi.
” Pemerintah negara bagian yang dipimpin oleh partai sayap kanan BJP menyatakan bahwa sejumlah bangunan sedang dibongkar untuk melebarkan jalan,” tulis Aljazeera.
Sebelumnya, Pengadilan Tinggi Madhya Pradesh menolak permohonan yang menggugat rencana pembongkaran tersebut.
Putusan pada 9 September 2026 memungkinkan pemerintah melanjutkan tindakan terhadap bagian masjid yang masuk jalur pelebaran jalan.
Pihak yang mengajukan gugatan menyebut bagian terdampak mencakup ruang sholat, menara, dan halaman masjid.
Warga Gelar Protes Tengah Malam
Warga berkumpul di sekitar Masjid Shahi pada Minggu (27/9/2026) tengah malam waktu setempat. Mereka meminta pemerintah mencari alternatif pelebaran jalan tanpa mengganggu masjid bersejarah tersebut.
Para pengunjuk rasa juga meminta bangunan tersebut tetap dilindungi. Mereka menyerukan dialog antara pemerintah, pengelola masjid, dan masyarakat setempat.
Aksi tersebut kemudian berkembang menjadi ketegangan dengan aparat kepolisian.
Aljazeera melaporkan polisi menggunakan gas air mata dan pentungan untuk membubarkan demonstran. Sejumlah orang dilaporkan ditangkap dalam bentrokan tersebut.
Pelebaran Jalan untuk Simhastha Kumbh 2028
Pemerintah menyebut proyek pelebaran jalan merupakan bagian persiapan Simhastha Kumbh 2028. Pemerintah Kota Ujjain berencana memperlebar jalan menjadi 15 meter.
Sebagian Masjid Shahi berada dalam jalur yang ditetapkan untuk pelebaran tersebut.
Ujjain Collector Roshan Singh mengatakan pembangunan dilakukan berdasarkan rencana induk persiapan Simhastha 2028.
Menurut pemerintah, proyek tersebut diperlukan untuk mengantisipasi peningkatan lalu lintas dan pergerakan peziarah.
Qazi Kota Ujjain Khaliq ur Rehman mengatakan umat Islam tidak menolak pelaksanaan Simhastha. Ia meminta alternatif dicari agar bangunan bersejarah tidak terdampak.
“Simhastha sudah pernah digelar sebelumnya dan akan kembali digelar pada masa mendatang. Komunitas Muslim selalu mendukungnya. Kami hanya meminta agar alternatif pengaturan dipertimbangkan dan tidak ada bangunan keagamaan yang dibongkar, karena banyak di antaranya merupakan bangunan bersejarah. Masjid Shahi sendiri berusia sekitar 650 tahun,” katanya.
Minta Tempat Ibadah Diperlakukan Setara
Perselisihan tersebut muncul setelah sebagian masjid lain di Ujjain dibongkar awal September.
Pembongkaran dilakukan dalam proyek pelebaran jalan dengan pengerahan polisi dalam jumlah besar. Tindakan tersebut memicu protes dari sebagian komunitas Muslim.
Warga meminta pemerintah lebih memperhatikan keberadaan situs keagamaan dalam proyek infrastruktur.
Khaliqur Rahman sebelumnya meminta seluruh tempat ibadah diperlakukan setara selama proyek pelebaran jalan.
“Tidak boleh ada diskriminasi dalam kegiatan pelebaran jalan, dan tempat-tempat ibadah dari semua komunitas harus diperlakukan secara setara,” katanya.
Ia juga meminta pemerintah menghormati sentimen keagamaan selama menjalankan pembangunan.
Warga yang menolak pembongkaran mempertanyakan rencana pengurangan bagian Masjid Shahi. Mereka menilai usia dan nilai keagamaan masjid perlu menjadi pertimbangan pemerintah.
Millat Times melaporkan, pihak masjid sebelumnya telah menyerahkan sebagian lahan untuk pelebaran jalan.
Menurut laporan tersebut, pihak masjid meminta pemerintah mempertimbangkan alternatif sebelum mengambil bagian tambahan.
Pihak berwenang menyatakan proyek tersebut berkaitan dengan kebutuhan infrastruktur menghadapi Simhastha Kumbh 2028.
Sementara itu, komunitas Muslim meminta dialog untuk mencari solusi tanpa menghilangkan bagian masjid bersejarah tersebut. (*)






