SerambiMuslim.com – Menangis merupakan reaksi emosional yang wajar ketika seseorang menghadapi peristiwa yang menyentuh perasaannya. Hampir setiap manusia pernah mengalaminya. Hal yang sama juga terjadi pada Nabi Muhammad SAW.
Namun, tangisan Rasulullah SAW memiliki makna yang sangat mendalam. Air mata beliau tidak pernah jatuh untuk perkara yang sepele.
Tangisan Nabi SAW selalu berkaitan dengan rasa takut kepada Allah, kasih sayang kepada umat, serta kesedihan atas peristiwa besar yang menimpa orang-orang yang dicintainya.
Berikut beberapa peristiwa yang membuat Rasulullah SAW meneteskan air mata.
1. Menangis karena takut kepada Allah SWT
Rasulullah SAW dikenal sering menangis ketika melaksanakan shalat malam. Dalam sebuah riwayat, Bilal bin Rabah pernah melihat janggut Nabi SAW basah oleh air mata saat beliau beribadah.
Bilal kemudian bertanya, “Wahai Rasulullah, mengapa engkau menangis, padahal Allah telah mengampuni dosa-dosamu yang telah lalu dan yang akan datang?”
Rasulullah SAW menjawab, “Tidakkah aku pantas menjadi hamba yang banyak bersyukur?”
Tangisan tersebut menunjukkan betapa besar rasa takut dan syukur beliau kepada Allah SWT.
2. Menangis saat mendengar bacaan Alquran
Rasulullah SAW juga pernah menangis ketika mendengarkan bacaan Alquran. Beliau sering meminta Abdullah bin Mas’ud untuk membacakan ayat-ayat suci.
Ketika sampai pada Surah An-Nisa ayat 41, Nabi SAW tidak kuasa menahan tangisnya.
فَكَيْفَ إِذَا جِئْنَا مِن كُلِّ أُمَّةٍۭ بِشَهِيدٍ وَجِئْنَا بِكَ عَلَىٰ هَٰٓؤُلَآءِ شَهِيدًا
Artinya:
“Bagaimanakah keadaan mereka kelak apabila Kami mendatangkan seorang saksi dari setiap umat dan Kami mendatangkan engkau (Muhammad) sebagai saksi atas mereka.”
Ayat tersebut mengingatkan Rasulullah SAW akan tanggung jawab besar beliau sebagai saksi atas umatnya pada hari kiamat.
3. Menangis karena kehilangan orang yang dicintai
Sebagai manusia, Rasulullah SAW juga merasakan kesedihan mendalam ketika kehilangan anggota keluarga. Salah satu peristiwa yang mengharukan terjadi ketika putrinya, Ummu Kultsum, jatuh sakit.
Kondisi Ummu Kultsum semakin melemah hingga mendekati ajal. Ketika Rasulullah SAW datang menemuinya, beliau tidak kuasa menahan air mata. Tidak lama kemudian, putri beliau itu wafat.
Jenazah Ummu Kultsum dimandikan oleh beberapa sahabat perempuan, di antaranya Asma binti Umais, Shafiyah binti Abdul Muthalib, dan Ummu Atiyah Al-Anshari. Setelah itu, ia dimakamkan di kompleks pemakaman Baqi. Peristiwa tersebut terjadi pada bulan Syaban tahun kesembilan Hijriah.
Selain itu, Rasulullah SAW juga pernah menangis ketika mengunjungi makam ibunya, serta saat putranya yang masih bayi, Ibrahim, meninggal dunia.
4. Menangis atas gugurnya para sahabat
Rasulullah SAW juga menangisi para sahabat yang gugur di medan perjuangan. Salah satu peristiwa yang sangat menyedihkan adalah ketika Hamzah bin Abdul Muthalib syahid dalam Perang Uhud.
Beliau juga bersedih ketika Saad bin Muadz wafat setelah mengalami luka dalam peristiwa pengepungan Bani Quraidzah. Luka tersebut semakin parah hingga akhirnya Saad meninggal dunia.
Rasulullah SAW menyampaikan kepada ibu Saad bahwa Allah telah memuliakan putranya. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa puluhan ribu malaikat menghadiri pemakaman Saad bin Muadz.
5. Menangis karena memikirkan umatnya
Salah satu tangisan Rasulullah SAW yang paling mengharukan adalah ketika beliau memikirkan nasib umatnya.
Abdullah bin Amr meriwayatkan bahwa Nabi SAW pernah membaca kisah Nabi Ibrahim dalam Alquran. Setelah itu, beliau mengangkat kedua tangannya sambil berkata, “Umatku, umatku,” lalu menangis.
Malaikat Jibril kemudian datang menyampaikan bahwa Allah akan memberikan kabar gembira kepada Rasulullah SAW terkait umatnya.
Dalam hadis riwayat Muslim, Rasulullah SAW juga bersabda tentang telaga di hari kiamat. Beliau menyebutkan bahwa ada sebagian umat yang dijauhkan dari telaga tersebut karena melakukan penyimpangan setelah beliau wafat.
Peristiwa-peristiwa tersebut menunjukkan bahwa tangisan Rasulullah SAW bukanlah tanda kelemahan, melainkan wujud ketakwaan, kasih sayang, dan kepedulian beliau terhadap umat manusia. ***






