SerambiMuslim.com – Di tengah padatnya kawasan sekitar Masjidil Haram, berdiri sebuah bangunan bercat putih dengan jendela berwarna cokelat yang sekilas tampak seperti gedung biasa.
Letaknya berada tidak jauh dari area Marwah, titik akhir pelaksanaan sai, dan setiap hari dilalui ribuan jemaah dari berbagai negara.
Namun, tak banyak yang mengetahui bahwa bangunan yang kini dikenal sebagai Maktabah Makkah Al-Mukarramah atau Perpustakaan Makkah itu diyakini sebagai lokasi rumah kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Penerjemah resmi khutbah Masjidil Haram asal Indonesia, Ahmad Musyaddad, menjelaskan bahwa bangunan tersebut berada di kawasan Syi’ab Bani Hasyim, yakni lembah yang pada masa lalu menjadi permukiman keluarga besar Rasulullah SAW.
“Syi’ab artinya lembah. Bani Hasyim adalah keluarga besar kabilah Nabi SAW. Kalau diterjemahkan lebih sederhana, ini adalah perkampungan Bani Hasyim. Di sinilah keluarga besar Nabi SAW dahulu tinggal,” ujar Musyaddad saat memandu tur jejak sirah di kawasan Masjidil Haram beberapa waktu lalu.
Diyakini Sebagai Rumah Kelahiran Rasulullah SAW
Menurut Musyaddad, para sejarawan sepakat bahwa Nabi Muhammad SAW lahir di kawasan Syi’ab Bani Hasyim pada Tahun Gajah. Bahkan, sejumlah catatan sejarah menunjuk lokasi Maktabah Makkah Al-Mukarramah sebagai titik yang diyakini menjadi rumah kelahiran Rasullulah SAW.
“Sebagian pencatat sejarah menunjuk spot yang lebih definitif bahwa rumah kelahiran itu adalah tempat yang sekarang menjadi Maktabah Makkah Al-Mukarramah,” katanya.
Meski memiliki nilai sejarah yang tinggi, bangunan tersebut tidak dibuka secara bebas untuk umum. Jemaah juga tidak diperkenankan mendekati lokasi guna mencegah munculnya praktik yang bertentangan dengan ajaran Islam, seperti mengultuskan tempat tertentu.
Masa Kecil Rasulullah SAW
Musyaddad menjelaskan, masa kecil Nabi Muhammad SAW tidak sepenuhnya dihabiskan di Syi’ab Bani Hasyim. Saat masih bayi, beliau diasuh oleh ibu susuannya, Halimah As-Sa’diyah, di perkampungan Bani Sa’ad yang berjarak sekitar 120 kilometer dari Makkah.
Di tempat itulah terjadi peristiwa Syaq al-Sadr, yakni pembelahan dada Rasulullah SAW oleh malaikat sebagai bagian dari penyucian hati beliau.
“Suatu hari malaikat mendatangi beliau yang sedang bermain-main, lalu membelah dada beliau, menyucikannya, dan memasukkan hikmah ke dalamnya,” tutur Musyaddad.
Peristiwa tersebut membuat Halimah merasa khawatir sehingga Rasulullah SAW dikembalikan kepada ibundanya, Aminah, saat berusia sekitar empat tahun.
Beliau kemudian tumbuh di Syi’ab Bani Hasyim hingga usia enam tahun sebelum sang ibu wafat. Setelah itu, pengasuhan beralih kepada sang kakek, Abdul Muthalib. Dua tahun kemudian, Rasulullah SAW diasuh oleh pamannya, Abu Thalib.
Dijaga Allah Sejak Kecil
Menurut Musyaddad, sejak usia dini Rasulullah SAW berada dalam penjagaan Allah SWT sehingga terhindar dari perilaku yang lazim dilakukan masyarakat Quraisy saat itu.
“Beliau tidak pernah bermaksiat. Tidak pernah melakukan hal-hal yang tidak diridhai Allah SWT sebagaimana dilakukan orang-orang Quraisy. Beliau dijaga oleh Allah SWT,” jelasnya.
Di bawah asuhan Abu Thalib, Rasulullah SAW tumbuh menjadi pribadi yang mandiri. Beliau menggembala kambing untuk membantu perekonomian keluarga, kemudian ikut berdagang ke Negeri Syam bersama sang paman.
Kejujuran Rasulullah Menarik Perhatian Khadijah
Perjalanan dagang tersebut membentuk karakter Rasulullah SAW sebagai pribadi yang jujur, amanah, dan profesional. Reputasi itu kemudian sampai kepada saudagar Quraisy, Siti Khadijah.
Khadijah mempercayakan barang dagangannya kepada Rasulullah SAW dengan didampingi pembantunya, Maisarah. Setelah perjalanan selesai, Maisarah menyampaikan berbagai kesaksian mengenai akhlak dan kejujuran Rasulullah SAW.
“Itulah yang diceritakan kepada Siti Khadijah. Yang membuat Siti Khadijah tertarik. Dan pada akhirnya kemudian mereka menikah,” ungkap Musyaddad.
Pernikahan tersebut menjadi penanda berakhirnya masa Rasulullah SAW tinggal di Syi’ab Bani Hasyim. Setelah menikah, beliau menetap di rumah yang disediakan Khadijah di kawasan Bani Abd Syams dan memulai kehidupan rumah tangga bersama sosok yang kelak menjadi pendamping utama dalam perjuangan dakwah Islam.
Bagi banyak sejarawan, bangunan yang kini berdiri sebagai Maktabah Makkah Al-Mukarramah bukan sekadar perpustakaan. Tempat itu diyakini menjadi titik awal perjalanan hidup Nabi Muhammad SAW sebelum diutus Allah SWT sebagai penutup para nabi dan rasul. (*)







