SerambiMuslim.com – Sahur merupakan aktivitas makan dan minum yang dilakukan sebelum terbitnya fajar sebagai persiapan menjalankan ibadah puasa sepanjang hari.
Dalam ajaran Islam, sahur bukan sekadar mengisi energi, tetapi juga memiliki nilai keberkahan yang dianjurkan oleh Nabi Muhammad SAW.
Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam An-Nasa’i, Rasulullah SAW mengajak umatnya untuk melaksanakan sahur karena mengandung keberkahan.
عَنْ الْعِرْبَاضِ بْنِ سَارِيَةَ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يَدْعُو إِلَى السَّحُورِ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ وَقَالَ هَلُمُّوا إِلَى الْغَدَاءِ الْمُبَارَكِ
Dari Al-Irbadh bin Sariyah radhiyallahu ‘anhu berkata, “Aku mendengar Rasulullah SAW mengajak makan sahur pada bulan Ramadhan. Beliau bersabda, ‘Marilah menuju santapan yang diberkahi’” (HR An-Nasa’i).
Hadis lain juga menjelaskan tentang keberkahan sahur. Rasulullah SAW menegaskan bahwa sahur merupakan karunia yang diberikan Allah SWT kepada umat Islam.
أَخْبَرَنَا إِسْحَقُ بْنُ مَنْصُورٍ قَالَ أَنْبَأَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ قَالَ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ عَبْدِ الْحَمِيدِ صَاحِبِ الزِّيَادِيِّ قَالَ سَمِعْتُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ الْحَارِثِ يُحَدِّثُ عَنْ رَجُلٍ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ دَخَلْتُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يَتَسَحَّرُ فَقَالَ إِنَّهَا بَرَكَةٌ أَعْطَاكُمْ اللَّهُ إِيَّاهَا فَلَا تَدَعُوهُ
Seorang sahabat Nabi menceritakan bahwa ia pernah mendatangi Rasulullah SAW saat beliau sedang makan sahur. Nabi kemudian bersabda, “Sesungguhnya sahur adalah berkah yang Allah berikan kepada kalian, maka janganlah meninggalkannya” (HR An-Nasa’i).
Dari dua hadis tersebut dapat dipahami bahwa makan sahur memiliki keutamaan tersendiri dalam ibadah puasa. Karena itu, Rasulullah SAW sangat menganjurkan umatnya untuk tidak meninggalkan sahur.
Selain itu, sahur juga menjadi salah satu pembeda antara puasa umat Islam dengan puasa yang dilakukan oleh Ahli Kitab, yaitu kaum Yahudi dan Nasrani. Dalam sebuah hadis riwayat Imam Muslim disebutkan:
“Perbedaan antara puasa kita dengan puasa Ahli Kitab adalah makan sahur.”
Sepanjang sejarah, tradisi sahur juga melahirkan berbagai kebiasaan unik di tengah masyarakat Muslim di berbagai wilayah. Salah satunya adalah tradisi membangunkan warga untuk sahur pada waktu dini hari.
Di Makkah, misalnya, masyarakat memiliki kelompok khusus yang bertugas berkeliling kampung untuk membangunkan penduduk agar tidak melewatkan waktu sahur. Mereka membawa lentera khas Arab yang disebut fanus serta menabuh gendang kecil bernama duf al-bazah. Suara tabuhan tersebut biasanya diiringi seruan atau yel-yel untuk menambah semarak suasana malam Ramadhan.
Adapun pada masa Rasulullah SAW, cara membangunkan kaum Muslimin untuk sahur lebih terpusat melalui panggilan azan. Nabi Muhammad SAW menugaskan sahabatnya, Bilal bin Rabah, untuk mengumandangkan azan pada malam hari sebagai tanda bahwa waktu sahur telah dimulai.
Sementara itu, sahabat lainnya, Abdullah bin Ummi Maktum, ditugaskan mengumandangkan azan ketika waktu subuh tiba. Azan tersebut menjadi tanda berakhirnya waktu sahur sekaligus dimulainya ibadah puasa. ***






