Berita  

Menyantuni Anak Yatim Kunci Ketenangan Hati

Menyantuni anak yatim bukan hanya amal sosial, tetapi juga kunci kelembutan hati dan ketenangan batin. (Foto: iStockphoto/Ilustrasi)

SerambiMuslim.com – Menyantuni anak yatim bukan hanya amal sosial, tetapi juga kunci kelembutan hati dan ketenangan batin.

Rasulullah SAW menekankan bahwa perhatian dan kasih sayang terhadap anak-anak yatim dapat membawa kedamaian dan keberkahan bagi pelakunya.

Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Thabrani, Nabi Muhammad SAW bersabda:

“Bila engkau ingin agar hati menjadi lembut dan damai serta tercapai hajatmu, sayangilah anak yatim. Usaplah kepalanya, dan berilah ia makanan seperti yang engkau makan. Hatinya akan tenang, lembut, dan keinginanmu akan tercapai.”

Hadis ini menegaskan bahwa menyantuni anak yatim tidak sekadar menolong secara materi. Perlakuan penuh kasih kepada mereka menimbulkan efek positif pada sisi mental dan spiritual pelakunya.

Alquran juga menekankan kedudukan mulia anak yatim. Dalam Surah Ad-Dhuha ayat 9, Allah SWT berfirman:

“Adapun terhadap anak yatim, janganlah kamu berlaku sewenang-wenang.”

Rasulullah SAW terkenal dengan kelembutan beliau terhadap anak-anak yatim. Suatu hari, saat Idulfitri, Nabi SAW melihat seorang anak yatim dan mengajaknya ke rumah beliau, sambil berkata:

“Nak, maukah engkau bila aku menjadi ayahmu dan Aisyah menjadi ibumu?”

Anak itu pun bersuka cita, menyingkirkan kesedihan dari wajahnya.

Menyantuni anak yatim bisa dilakukan dengan berbagai cara, mulai dari memberi makanan, membimbing pendidikan, hingga membawa mereka ke dalam keluarga. Diriwayatkan Abu Umamah, Nabi SAW bersabda:

“Barang siapa yang mengusap kepala anak yatim laki-laki atau perempuan karena Allah, baginya setiap rambut yang diusap terdapat banyak kebaikan. Barang siapa berbuat baik kepada anak yatim, aku akan bersama dia di surga seperti ini”, sambil menyejajarkan jari telunjuk dan tengah.

Kisah Zainab, istri Ibnu Mas’ud, juga menegaskan pahala menyantuni anak yatim dan sedekah. Ketika ia menanyakan tentang sedekah untuk suami dan anak yatim kepada Rasulullah SAW, Nabi bersabda bahwa mereka mendapatkan dua pahala: pahala menjaga kekerabatan dan pahala sedekah (HR Bukhari dan Muslim).

Secara hakiki, menyantuni anak yatim berarti menjadikan mereka bagian dari keluarga, mencukupi kebutuhan mereka, serta membimbing dan mendidik hingga dewasa. Inilah amal utama yang dicontohkan para sahabat Nabi.

Menyantuni anak yatim, terutama menjelang dan selama bulan suci Ramadhan, menjadi ladang pahala sekaligus sumber ketenangan hati. Perbuatan mulia ini menguatkan jiwa, memperhalus batin, dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. ***