Cara AS Adu Domba Sunni dengan Syiah

Foto: iStockphoto/Ilustrasi

SerambiMuslim.com – Ketua Poros Dunia Wasatiyyat Islam, Din Syamsuddin, menilai serangan yang dilakukan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran bukan sekadar konflik antarnegara, tetapi bagian dari strategi yang lebih luas terhadap dunia Islam.

Menurut Din, langkah tersebut berkaitan dengan ambisi Israel untuk memperkuat dominasinya di kawasan sekaligus melemahkan pihak-pihak yang selama ini vokal membela Palestina.

“Serangan Zionis Israel dan Amerika terhadap Iran merupakan serangan terhadap dunia Islam, bahkan menjadi bagian dari penaklukan Palestina secara menyeluruh,” kata Din, Rabu, 4 Maret 2026.

Ia menilai, selama bertahun-tahun Israel dengan dukungan AS berupaya melumpuhkan kekuatan yang dianggap menghambat agenda politiknya di Timur Tengah.

“Ambisi Zionis Israel untuk menaklukkan Palestina merupakan bagian dari strategi dominasi atas dunia Islam, khususnya kawasan Arab, baik dengan motif ideologis, politik, maupun ekonomi,” ujarnya.

Din juga menyoroti keberadaan pangkalan militer AS di sejumlah negara Arab dan kawasan Teluk. Menurutnya, hal tersebut menjadi bagian dari strategi jangka panjang Washington dan Tel Aviv dalam mempertahankan pengaruh di kawasan.

Ia menambahkan, strategi lain yang kerap digunakan adalah politik adu domba dengan memainkan isu perpecahan internal umat Islam, seperti konflik antara Sunni dan Syiah maupun Arab dan Persia.

“Zionis Israel dan Amerika Serikat dapat memprovokasi dunia Arab dengan menyerang instalasi strategis, lalu menyebarkan isu bahwa Iran adalah pelakunya,” kata Din.

Din juga mengkritik inisiatif Board of Peace (BoP) yang menurutnya berpotensi menjadi skenario yang menguntungkan Israel. Ia menilai langkah diplomasi semacam itu harus disikapi secara hati-hati.

“Apa gunanya bergabung dalam Board of Peace bikinan Donald Trump kalau tidak berani menegurnya,” ujar tokoh senior Muhammadiyah tersebut.

Karena itu, ia mengimbau umat Islam di berbagai negara untuk tidak mudah terprovokasi oleh isu sektarian. “Umat Islam jangan terhasut dengan isu yang mempertentangkan antara Sunni dan Syiah. Yang diperlukan justru memperkuat soliditas dan solidaritas umat,” katanya.

Din juga meminta Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) lebih aktif dan responsif dalam membela kepentingan dunia Islam di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan.

Dukungan terhadap Iran di Kalangan Nahdliyin

Di tengah memanasnya konflik antara AS-Israel dan Iran, sikap sebagian warga Nahdlatul Ulama (NU) yang menyatakan dukungan kepada Iran memunculkan perdebatan.

Pertanyaan muncul apakah sikap tersebut membuat seseorang keluar dari manhaj Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) An-Nahdliyah.

Menanggapi hal itu, Wakil Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Situbondo, KH Afifuddin Muhajir, memberikan penjelasan dalam sebuah kajian yang diunggah akun Instagram Ma’had Aly Situbondo.

Menurut Kiai Afif, dalam menghadapi konflik global perlu melihat skala prioritas ancaman.

“Daripada mendukung Amerika, kan lebih baik mendukung Iran,” ujar Kiai Afif dalam video yang juga diunggah di akun Instagram pribadinya yang dikutip, Kamis, 5 Maret 2026.

Ulama yang juga menjabat Wakil Rais Aam PBNU itu menjelaskan adanya konsep “musuh besar” dan “musuh kecil” dalam membaca dinamika konflik.

“Barangkali kita bermusuhan dengan Syiah dalam pengertian tertentu. Akan tetapi dalam menghadapi musuh besar, kita bisa bersama-sama menghadapi musuh besar itu,” katanya.

Untuk memperkuat argumennya, Kiai Afif mencontohkan sikap ulama klasik, Al-Ghazali. Meski dikenal mengkritik keras teologi Mu’tazilah, Al-Ghazali disebut pernah bekerja sama dengan kelompok tersebut ketika menghadapi arus filsafat yang dianggap lebih mengancam akidah umat.

“Artinya lebih bahaya filsuf daripada Mu’tazilah, sebagaimana lebih bahaya Amerika daripada Syiah,” ujarnya. ***