Tanda-tanda Puasa Diterima Allah

Islam mengajarkan adab makan dan minum mulai dari membaca basmalah, menggunakan tangan kanan, hingga larangan berlebihan untuk menjaga kesehatan. (Int/Ilustrasi)

SerambiMuslim.com – Pendakwah kondang, Ustadz Abdul Somad (UAS) menjelaskan bahwa puasa yang diterima Allah SWT memiliki tanda-tanda yang nyata, terutama dalam perubahan sikap dan akhlak seorang Muslim.

Menurutnya, tujuan utama ibadah Ramadan adalah membentuk ketakwaan dan perubahan diri yang dapat dilihat dalam kehidupan sehari-hari.

“Tanda ibadah itu diterima ada perubahan,” ujar UAS. “Yang sebelumnya pelit menjadi orang yang dermawan. Yang emosinya tidak terkendali menjadi orang yang bijaksana. Dari yang kasar, menjadi orang yang lembut, sopan santun, berbudi bahasa, tatakrama, dan berakhlakul karimah,” sambungnya.

UAS menjelaskan, perubahan sikap ini tidak hanya terjadi dalam hubungan seorang Muslim dengan sesama, tetapi juga dengan rumah ibadah.

Jika sebelumnya kurang peduli terhadap masjid, setelah menjalani Ramadan, hati seseorang menjadi lebih terpaut dengan masjid. “Belum masuk waktu shalat, dia sudah menyiapkan diri karena pendidikan madrasah Ramadan,” kata alumnus Al-Azhar University ini.

UAS juga menekankan pentingnya membiasakan diri memakmurkan masjid, mulai dari shalat berjamaah subuh hingga tarawih. Menurutnya, Ramadan bukan sekadar bulan penumpukan amal ibadah, tetapi bulan yang mengajarkan pembiasaan fisik dan mental umat Islam.

“Ramadan adalah momentum pembiasaan diri secara fisik dan mental. Jika sebelumnya sangat tidak peduli kepada masjid, setelah berpuasa, dia menjadi orang yang hatinya tergantung di masjid,” tegasnya.

Dalam kesempatan ini, UAS juga mengutip firman Allah SWT dalam Alquran, tepatnya surah Al-Baqarah ayat 183, yang menegaskan bahwa tujuan utama puasa adalah untuk mencapai derajat ketakwaan kepada Allah.

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,” kata UAS, mengutip ayat tersebut. (QS: Al-Baqarah 183)

Lebih lanjut, UAS memaparkan bahwa selama bulan Ramadan, umat Islam dilatih untuk menahan diri dari segala hal yang dilarang. “Takut makan, takut minum, takut berhubungan kelamin, takut bicara aib orang, itu semua terasa saat Ramadan,” ujarnya.

Ramadan, bagi UAS, juga merupakan kesempatan untuk melatih disiplin spiritual, yang terlihat dalam kebiasaan melaksanakan shalat berjamaah, bangun malam untuk sahur, serta menjaga ketepatan waktu dalam segala ibadah. “Ramadan bukan bulan penumpukan amal, tapi bulan pembiasaan diri,” tandasnya. ***