Tips Hafal Alquran ala Qari Cilik Juara MTQ Dunia

Empat kebiasaan sederhana orang tua agar anak mencintai Alquran sejak dini, berdasarkan pengalaman ayah Muhammad Zian Fahrezi, juara MTQ Internasional Irak. (Foto: Dok Kemenag)

SerambiMuslim.com – Di balik penampilan memukau Muhammad Zian Fahrezi saat melantunkan Surah Ar-Rahman pada Dzikir dan Doa Kebangsaan di Monumen Nasional (Monas), Sabtu, 1 Agustus 2026, tersimpan kebiasaan sederhana yang telah ditanamkan orang tuanya sejak ia masih balita.

Kebiasaan itu menjadi fondasi yang mengantarkan qari berusia 11 tahun tersebut meraih gelar juara I Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Internasional di Irak.

Ayah Zian, Azka, mengungkapkan bahwa putranya telah dibiasakan mendengarkan lantunan ayat suci Alquran sejak berusia sekitar empat tahun. Menurutnya, kebiasaan sederhana itu membuat Zian lebih mudah belajar membaca, menghafal, sekaligus memahami seni tilawah.

“Kalau Zian itu dulu waktu masih kecil, hampir setiap sebelum tidur kita putarkan tilawah-tilawah di YouTube. Random saja, qari Indonesia maupun qari Mesir. Alhamdulillah ketika diajarkan, karena dia sudah sering dengar, jadi lebih mudah,” ujar Azka yang dikutip dari laman resmi Kementerian Agama (Kemenag), Selasa, 4 Agustus 2026.

Dari pengalaman mendampingi Zian, Azka membagikan sejumlah kebiasaan yang dinilai dapat membantu orang tua menumbuhkan kecintaan anak terhadap Alquran sejak usia dini.

Biasakan Anak Mendengar Tilawah Sejak Dini

Azka mengatakan, memperdengarkan bacaan Alquran secara rutin merupakan langkah awal yang penting. Anak yang terbiasa mendengar tilawah akan lebih mudah mengenali irama, makhraj, dan pelafalan saat mulai belajar membaca maupun menghafal Alquran.

Kebiasaan sederhana seperti memutar tilawah sebelum tidur, menurutnya, memberikan dampak besar terhadap perkembangan kemampuan Zian dalam membaca Alquran.

Asah Bakat dengan Latihan yang Konsisten

Selain membangun kebiasaan, Azka menilai setiap anak memiliki potensi yang perlu terus dikembangkan. Dalam diri Zian, potensi tersebut berupa suara yang merdu sehingga harus diasah melalui latihan yang berkesinambungan.

“Alhamdulillah Allah memberikan suara yang bagus. Tinggal bagaimana kita memaksimalkan bakatnya. Tidak banyak orang yang diberi bakat seperti ini. Jadi kalau sudah punya bakat, ya diasah terus, dilatih,” katanya.

Latihan yang dilakukan secara konsisten akhirnya mengantarkan Zian mampu bersaing hingga tingkat internasional dan meraih prestasi sebagai juara MTQ Internasional di Irak.

Ciptakan Lingkungan yang Dekat dengan Alquran

Menurut Azka, lingkungan keluarga juga memiliki peran penting dalam membentuk kecintaan anak terhadap Alquran.

Zian tumbuh di keluarga yang akrab dengan dunia tilawah. Buyut dan kakeknya pernah menorehkan prestasi pada ajang MTQ internasional, sementara sang ayah juga berprofesi sebagai qari. Lingkungan tersebut membuat Zian terbiasa mendengar, membaca, dan mencintai Alquran sejak usia dini.

Jaga Semangat Meski Menghadapi Tantangan

Perjalanan Zian menuju panggung nasional tidak selalu berjalan mulus. Menjelang tampil pada Dzikir dan Doa Kebangsaan di Monas, ia sempat mengalami batuk dan pilek.

Keluarga kemudian berupaya menjaga kondisi fisiknya dengan membawanya berobat ke dokter, memberikan vitamin, serta membiasakannya mengonsumsi air hangat dan madu setiap pagi.

“Khawatir banget takut ganggu ke acara ini. Kemarin dibawa ke dokter, dikasih vitamin, kemudian tiap pagi minum air hangat sama madu,” ujar Azka.

Berawal dari Kebiasaan Sederhana

Ketekunan tersebut membawa Zian lolos seleksi nasional sebelum mewakili Indonesia pada MTQ Internasional di Irak. Dari lebih dari 20 video peserta yang dikirim, hanya dua peserta yang dipilih dan Zian menjadi salah satunya. Ia kemudian berhasil meraih juara pertama sekaligus mengharumkan nama Indonesia.

Meski telah mencatatkan prestasi di tingkat dunia dan tampil pada panggung kebangsaan, Zian tetap memiliki cita-cita sederhana. Ia ingin menjadi dokter agar dapat membantu orang-orang yang sakit sembari terus menjaga kecintaannya kepada Alquran.

Kisah Muhammad Zian Fahrezi menunjukkan bahwa kemampuan membaca dan menghafal Alquran tidak terbentuk secara instan. Kebiasaan mendengarkan tilawah sejak dini, latihan yang konsisten, dukungan keluarga, serta lingkungan yang dekat dengan Alquran menjadi bekal penting yang dapat mulai dibangun orang tua sejak anak masih kecil. (*)