SerambiMuslim.com – Sebuah manuskrip langka kembali membuka lembar sejarah peradaban Islam.
Naskah yang baru diakuisisi Perpustakaan Umum King Abdulaziz di Riyadh itu mengungkap bagaimana para orientalis Barat sejak awal telah mengkaji karya monumental pelancong muslim, Ibnu Batutah, melalui terjemahan dan kajian ilmiah.
Dilansir dari SPA, manuskrip tersebut merupakan salinan tahun 1829 dari cetakan pertama terjemahan bahasa Inggris catatan perjalanan Ibnu Batutah. Naskah setebal 294 halaman itu ditulis oleh orientalis Inggris Samuel Lee dari University of Cambridge.
Manuskrip tersebut memuat komentar sejarah dan geografis yang luas, disertai rujukan terhadap berbagai teks Arab klasik. Karya ini menjadi salah satu bukti penting keterlibatan akademisi Barat dalam mendokumentasikan sekaligus mengkaji warisan intelektual Islam.
Teks asli perjalanan Ibnu Batutah disusun oleh ulama Andalusia, Ibnu Juzayy al-Kalbi, pada 1355 atas perintah Sultan Abu Inan al-Marini. Naskah tersebut merekam perjalanan panjang Ibnu Batutah melintasi Afrika, Timur Tengah, Andalusia, hingga Asia selama sekitar 30 tahun.
Catatan perjalanan itu kemudian menjadi salah satu manuskrip paling berpengaruh dalam sejarah dunia Islam. Karya tersebut diterjemahkan ke berbagai bahasa dan menjadi rujukan penting dalam kajian sejarah, geografi, serta peradaban Islam.
Sosok Ibnu Batutah
Ibnu Batutah dikenal sebagai ahli geografi muslim asal Maroko yang hidup pada Abad Pertengahan. Ia mendapat julukan “Pangeran Para Pelancong Muslim” berkat perjalanan lintas benua yang menjangkau Asia, Afrika, hingga Eropa.
Pemilik nama lengkap Abu Abdullah Muhammad bin Abdullah al-Lawati at-Tanji bin Batutah itu lahir dari keluarga ulama fikih. Dalam buku Ibnu Batutah karya Rizem Aizid disebutkan bahwa ia menempuh pendidikan di madrasah Sunni bermazhab Maliki.
Sejak muda, Ibnu Batutah dikenal gemar membaca dan mendalami ilmu agama. Kepakarannya membuat ia berpeluang mengikuti jejak keluarga sebagai hakim syariat (qadhi). Namun, ia justru memilih menempuh jalan sebagai pengembara.
Perjalanan besarnya dimulai saat berusia 22 tahun. Selama sekitar tiga dekade, Ibnu Batutah menempuh perjalanan sejauh kurang lebih 120.700 kilometer. Perjalanan itu diawali dengan keberangkatannya menuju Makkah untuk menunaikan ibadah haji.
Menurut catatannya, Ibnu Batutah berangkat ke Makkah pada 2 Rajab 725 Hijriah. Ia melakukan perjalanan seorang diri dengan tekad kuat dan kerinduan mendalam untuk mengunjungi Tanah Suci.
“Aku bertekad meninggalkan orang-orang yang kucintai, laki-laki maupun perempuan. Kutinggalkan negeriku, laksana burung meninggalkan sarangnya. Waktu itu, kedua orang tuaku masih hidup, dan aku berusia 22 tahun. Meninggalkan mereka berdua adalah suatu beban berat yang melelahkan,” tulis Ibnu Batutah dalam Rihlah Ibnu Bathuthah yang diterjemahkan Muhammad Muchson Anasy.
Setelah menunaikan ibadah haji, perjalanan Ibnu Batutah berlanjut ke berbagai wilayah dunia Islam. Ia menjelajahi Afrika, Timur Tengah, Asia, hingga Andalusia yang kini menjadi bagian dari Spanyol. Perjalanan panjang tersebut kemudian menjadikannya salah satu tokoh penjelajah paling berpengaruh dalam sejarah dunia. (*)







