Fikih  

Kapan Seseorang Dianjurkan Melakukan Ruqyah Mandiri?

ILUSTRASI - Ruqyah mandiri dapat dilakukan untuk memohon perlindungan dan kesembuhan. (Foto: Chatgpt/Serambi Muslim)

SerambiMuslim.com – Ruqyah mandiri dapat menjadi salah satu ikhtiar seorang muslim untuk memohon perlindungan dan kesembuhan kepada Allah SWT. Praktiknya dilakukan dengan membaca ayat Alquran, doa, dan zikir sesuai tuntunan syariat.

Dalam ajaran Islam, ruqyah bukanlah praktik yang memberikan kekuatan secara mandiri kepada seseorang. Kesembuhan dan perlindungan tetap diyakini berasal dari Allah SWT.

Ruqyah dapat dilakukan sendiri ketika seseorang sedang sakit, merasa takut atau gelisah, membutuhkan perlindungan, maupun sebelum tidur.

Mengutip buku “Memahami Ilmu Tauhid Dan Amalan Ahli Surga” karya Muhammad Nauval, ruqyah dalam bahasa Arab berarti meninggikan dan mengangkat.

Secara syar’i, ruqyah merupakan bacaan yang dirapalkan untuk menyembuhkan demam, kejang-kejang, dan penyakit lainnya.

H. Brilly El-Rasheed, S.Pd. dalam buku “Dzikir Dahsyat Doa Hebat” menjelaskan ruqyah sebagai bacaan ayat Alquran atau doa dari hadits. Bacaan tersebut diniatkan untuk melindungi diri dari penyakit, baik yang bersifat fisik maupun nonfisik.

Dalam hadits, Rasulullah SAW bersabda, “Tidak mengapa melakukan ruqyah selama tidak mengandung kesyirikan.” (HR Muslim)

Apa Itu Ruqyah Mandiri?

Secara umum, ruqyah merupakan bacaan berupa ayat Alquran, doa, atau zikir untuk memohon perlindungan dan kesembuhan kepada Allah SWT. Sementara ruqyah mandiri berarti seseorang membaca sendiri ayat Alquran dan doa tersebut untuk dirinya.

Dalam Islam, bacaan tersebut menjadi bentuk ikhtiar seorang muslim. Kesembuhan tetap diyakini berasal dari Allah SWT.

Rasulullah SAW juga pernah meruqyah dirinya sendiri sebelum tidur dengan membaca sejumlah surat Al-Qur’an.

Dalam hadis riwayat Bukhari nomor 5017, Aisyah RA meriwayatkan kebiasaan Rasulullah SAW tersebut.

Kapan Ruqyah Mandiri Bisa Dilakukan?

Ruqyah mandiri dapat dilakukan kapan saja ketika seseorang membutuhkan pertolongan, perlindungan, atau memohon kesembuhan kepada Allah SWT.

1. Ketika Mengalami Sakit

Ruqyah dapat dilakukan ketika seseorang mengalami sakit sebagai bagian dari ikhtiar memperoleh kesembuhan.

Islam mengajarkan umatnya untuk berdoa ketika mengalami penyakit. Selain pengobatan medis, seseorang dapat memohon kesembuhan kepada Allah SWT.

2. Ketika Merasa Takut atau Gelisah

Ruqyah mandiri juga dapat menjadi bentuk doa ketika seseorang merasa takut, cemas, atau membutuhkan ketenangan. Membaca ayat Alquran dan doa dapat menjadi sarana untuk mengingat Allah SWT.

Namun, rasa takut dan kegelisahan tidak selalu menunjukkan adanya gangguan tertentu. Perasaan tersebut dapat muncul karena berbagai sebab dan merupakan bagian dari pengalaman manusia.

3. Untuk Memohon Perlindungan

Ruqyah dapat dilakukan sebagai bentuk permohonan perlindungan kepada Allah SWT dari berbagai keburukan.

Seorang muslim dapat membaca ayat Alquran dan doa perlindungan pada pagi, petang, maupun sebelum tidur.

Bacaan yang dikenal luas untuk memohon perlindungan antara lain Surat Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas. Ketiganya dikenal sebagai Al-Mu’awwidzat.

4. Ketika Hendak Tidur

Ruqyah mandiri juga dapat dilakukan sebelum tidur. Rasulullah SAW memiliki kebiasaan membaca Surat Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas sebelum tidur. Setelah membacanya, beliau meniup kedua telapak tangan dan mengusapkannya ke tubuh.

Hadits riwayat Bukhari nomor 5017 menjelaskan bahwa Rasulullah SAW melakukan amalan tersebut sebanyak tiga kali.

Cara Ruqyah Mandiri

Ruqyah mandiri tidak harus dilakukan dengan tata cara yang rumit. Seseorang dapat berwudhu terlebih dahulu, kemudian memilih tempat yang bersih dan tenang. Setelah itu, bacalah ayat Alquran dan doa yang sesuai dengan tuntunan.

Salah satu tata cara yang dicontohkan Rasulullah SAW adalah menempelkan kedua telapak tangan. Kemudian membaca Surat Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas. Setelah itu, kedua telapak tangan ditiup dan digunakan untuk mengusap bagian tubuh yang mampu dijangkau.

Rasulullah SAW memulai dari kepala dan wajah, kemudian bagian depan tubuh. Amalan tersebut dilakukan sebanyak tiga kali.

Berdasarkan riwayat tersebut, bacaan yang digunakan untuk ruqyah mandiri antara lain Al-Fatihah, Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas. Naskah sumber juga menyebut Ayat Kursi sebagai bacaan tambahan.

Bacaan Ruqyah Mandiri

Surat Al-Fatihah

بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ

Latin: bismillāhir-raḥmānir-raḥīm

Artinya: Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَٰلَمِينَ

Latin: al-ḥamdu lillāhi rabbil-‘ālamīn

Artinya: Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ

Latin: ar-raḥmānir-raḥīm

Artinya: Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

مَٰلِكِ يَوْمِ ٱلدِّينِ

Latin: māliki yaumid-dīn

Artinya: Yang menguasai di Hari Pembalasan.

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

Latin: iyyāka na’budu wa iyyāka nasta’īn

Artinya: Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan.

ٱهْدِنَا ٱلصِّرَٰطَ ٱلْمُسْتَقِيمَ

Latin: ihdinaṣ-ṣirāṭal-mustaqīm

Artinya: Tunjukilah kami jalan yang lurus.

صِرَٰطَ ٱلَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ ٱلْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا ٱلضَّآلِّينَ

Latin: ṣirāṭallażīna an’amta ‘alaihim gairil-magḍụbi ‘alaihim wa laḍ-ḍāllīn

Artinya: (Yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan jalan mereka yang dimurkai dan bukan pula jalan mereka yang sesat.

Surat Al-Ikhlas

قُلْ هُوَ ٱللَّهُ أَحَدٌ

Latin: qul huwallāhu aḥad

Artinya: Katakanlah: “Dialah Allah, Yang Maha Esa.”

ٱللَّهُ ٱلصَّمَدُ

Latin: allāhuṣ-ṣamad

Artinya: Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.

لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ

Latin: lam yalid wa lam yụlad

Artinya: Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan.

وَلَمْ يَكُن لَّهُۥ كُفُوًا أَحَدٌۢ

Latin: wa lam yakul lahụ kufuwan aḥad

Artinya: dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia.

Surat Al-Falaq

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ ٱلْفَلَقِ

Latin: qul a’ụżu birabbil-falaq

Artinya: Katakanlah: “Aku berlindung kepada Tuhan Yang Menguasai subuh.”

مِن شَرِّ مَا خَلَقَ

Latin: min syarri mā khalaq

Artinya: dari kejahatan makhluk-Nya.

وَمِن شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ

Latin: wa min syarri gāsiqin iżā waqab

Artinya: dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita.

وَمِن شَرِّ ٱلنَّفَّٰثَٰتِ فِى ٱلْعُقَدِ

Latin: wa min syarrin-naffāṡāti fil-‘uqad

Artinya: dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul.

وَمِن شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ

Latin: wa min syarri ḥāsidin iżā ḥasad

Artinya: dan dari kejahatan pendengki bila ia dengki.

Surat An-Nas

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ ٱلنَّاسِ

Latin: qul a’ụżu birabbin-nās

Artinya: Katakanlah: “Aku berlindung kepada Tuhan yang memelihara dan menguasai manusia.”

مَلِكِ ٱلنَّاسِ

Latin: malikin-nās

Artinya: Raja manusia.

إِلَٰهِ ٱلنَّاسِ

Latin: ilāhin-nās

Artinya: Sembahan manusia.

مِن شَرِّ ٱلْوَسْوَاسِ ٱلْخَنَّاسِ

Latin: min syarril-waswāsil-khannās

Artinya: Dari kejahatan bisikan setan yang biasa bersembunyi.

ٱلَّذِى يُوَسْوِسُ فِى صُدُورِ ٱلنَّاسِ

Latin: allażī yuwaswisu fī ṣudụrin-nās

Artinya: yang membisikkan kejahatan ke dalam dada manusia.

مِنَ ٱلْجِنَّةِ وَٱلنَّاسِ

Latin: minal-jinnati wan-nās

Artinya: dari golongan jin dan manusia.

Ayat Kursi

ٱللَّهُ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ٱلْحَىُّ ٱلْقَيُّومُ ۚ لَا تَأْخُذُهُۥ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ ۚ لَّهُۥ مَا فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِى ٱلْأَرْضِ ۗ مَن ذَا ٱلَّذِى يَشْفَعُ عِندَهُۥٓ إِلَّا بِإِذْنِهِۦ ۚ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ ۖ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَىْءٍ مِّنْ عِلْمِهِۦٓ إِلَّا بِمَا شَآءَ ۚ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ ۖ وَلَا يَـُٔودُهُۥ حِفْظُهُمَا ۚ وَهُوَ ٱلْعَلِىُّ ٱلْعَظِيمُ

Latin: allāhu lā ilāha illā huw, al-ḥayyul-qayyụm, lā takhużuhụ sinatuw wa lā naụm, lahụ mā fis-samāwāti wa mā fil-arḍ, man żallażī yasyfa’u ‘indahū illā biiżnih, ya'lamu mā baina aidīhim wa mā khalfahum, wa lā yuḥīṭụna bisyaiim min ‘ilmihī illā bimā syā, wasi'a kursiyyuhus-samāwāti wal-arḍ, wa lā yaụduhụ ḥifẓuhumā, wa huwal-‘aliyyul-‘aẓīm.

Artinya: Allah, tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus-menerus mengurus makhluk-Nya; tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafaat di sisi Allah tanpa izin-Nya. Allah mengetahui apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka. Mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Dia Maha Tinggi lagi Maha Besar.

Ruqyah mandiri pada dasarnya merupakan bentuk ikhtiar melalui bacaan Al-Qur’an dan doa. Seorang muslim tetap perlu meyakini bahwa perlindungan dan kesembuhan berasal dari Allah SWT.

Selain ikhtiar melalui doa dan zikir, orang yang mengalami keluhan kesehatan tetap dapat menggunakan pengobatan medis sesuai kebutuhannya. (*)