SerambiMuslim.com – Nabi Musa AS menjadi nabi yang kisahnya paling banyak disebut dalam Al-Qur’an.
Kisahnya mencakup perjalanan panjang sejak kelahiran hingga perjuangannya menghadapi Firaun.
Al-Qur’an juga mengisahkan perjuangan Nabi Musa AS bersama Bani Israil setelah mereka terbebas dari Firaun.
Lantas, mengapa kisah Nabi Musa AS begitu banyak disebut dalam Al-Qur’an?
Alasan Nabi Musa Banyak Disebut di Al-Qur’an
Kisah Nabi Musa AS menjadi salah satu kisah paling lengkap dalam Al-Qur’an.
Mengutip buku “Musa: Penentang Kezaliman, Pembela Kaum Tertindas” karya Ali Muhammad Ash-Shallabi, kisah tersebut memiliki banyak pelajaran.
Allah SWT mengabadikan kisah Nabi Musa AS karena beliau merupakan hamba yang muhsin.
Nabi Musa AS juga dikenal sebagai sosok yang menyempurnakan janji.
Kisahnya mencakup kelahiran, pengangkatan sebagai rasul, serta perjuangannya menghadapi tirani. Perjuangan tersebut terutama terlihat saat Nabi Musa AS menghadapi kekuasaan Firaun.
Al-Qur’an juga mengisahkan perjalanan Nabi Musa AS bersama Bani Israil. Karena itu, kisah Nabi Musa AS tersebar dalam banyak surah.
Hampir tidak ada surah panjang atau menengah yang tidak memuat kisahnya.
Surah yang Banyak Menyebut Nabi Musa
Masih merujuk sumber yang sama, nama Nabi Musa AS disebut dalam 34 surah Al-Qur’an.
Beberapa surah memuat kisah kehidupan Nabi Musa AS secara lebih panjang. Surah tersebut antara lain Al-Baqarah, Al-A’raf, Yunus, Thaha, dan Asy-Syu’ara’.
Kemudian An-Naml, Al-Qashash, Ghafir, dan An-Nazi’at juga memuat kisah Nabi Musa AS.
Ada pula surah yang mengisahkan beberapa bagian singkat kehidupan Nabi Musa AS.
Surah tersebut meliputi An-Nisa’, Al-Maidah, Hud, Ibrahim, dan Al-Isra’. Kemudian Al-Anbiya’, Al-Mu’minun, Al-Ahzab, Ash-Shaffat, dan Az-Zukhruf.
Selain itu, kisah singkat Nabi Musa AS terdapat dalam Adz-Dzariyat dan Ash-Shaff.
Sementara itu, beberapa surah lainnya hanya menyebut nama Nabi Musa AS. Surah tersebut antara lain Ali ‘Imran, Al-An’am, Al-Kahfi, dan Maryam. Kemudian Al-Hajj, Al-Furqan, Al-Ankabut, As-Sajdah, dan Fushshilat.
Nama Nabi Musa AS juga disebut dalam Asy-Syura, Al-Ahqaf, An-Najm, dan Al-A’la.
Pujian Allah kepada Nabi Musa AS
Banyaknya penyebutan Nabi Musa AS tidak hanya berkaitan dengan perjalanan hidupnya.
Al-Qur’an juga memuat berbagai pujian Allah SWT terhadap Nabi Musa AS. Pujian tersebut menunjukkan kedudukan khusus Nabi Musa AS sebagai seorang nabi dan rasul. Salah satunya terdapat dalam Surah Maryam ayat 51-53.
Allah SWT menyebut Nabi Musa AS sebagai sosok yang terpilih, rasul dan nabi.
Dalam ayat tersebut, Allah SWT juga menyebut Nabi Musa AS sebagai sosok yang didekatkan untuk bermunajat.
Allah SWT berfirman:
وَاذْكُرْ فِى الْكِتٰبِ مُوْسٰٓىۖ اِنَّهٗ كَانَ مُخْلَصًا وَّكَانَ رَسُوْلًا نَّبِيًّا وَنَادَيْنٰهُ مِنْ جَانِبِ الطُّوْرِ الْاَيْمَنِ وَقَرَّبْنٰهُ نَجِيًّا وَوَهَبْنَا لَهٗ مِنْ رَّحْمَتِنَآ اَخَاهُ هٰرُوْنَ نَبِيًّا
Artinya: “Ceritakanlah (Nabi Muhammad, kisah) Musa di dalam Kitab (Al-Qur’an). Sesungguhnya dia adalah orang yang terpilih, rasul, dan nabi. Kami telah memanggilnya dari sebelah kanan (Gunung) Tur (Sinai) dan Kami dekatkan dia untuk bermunajat (berbicara tanpa perantara). Kami telah menganugerahkan kepadanya sebagian rahmat Kami, yaitu (menjadikan) saudaranya, Harun, sebagai nabi.”
Pujian lainnya terdapat dalam Surah Al-A’raf ayat 144. Dalam ayat tersebut, Allah SWT menyebut Nabi Musa AS sebagai sosok yang dipilih untuk membawa risalah.
Allah SWT juga menyebut keistimewaan Nabi Musa AS yang mendapat kesempatan berbicara dengan-Nya.
Allah SWT berfirman:
قَالَ يٰمُوْسٰٓى اِنِّى اصْطَفَيْتُكَ عَلَى النَّاسِ بِرِسٰلٰتِيْ وَبِكَلَامِيْ ۖفَخُذْ مَآ اٰتَيْتُكَ وَكُنْ مِّنَ الشّٰكِرِيْنَ
Artinya: “Dia berfirman, “Wahai Musa, sesungguhnya Aku memilih (melebihkan) engkau dari manusia (yang lain) untuk membawa risalah dan berbicara (langsung) dengan-Ku. Maka, berpegang teguhlah pada apa yang Aku berikan kepadamu dan jadilah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur.”
Dalam Surah Al-Ahzab ayat 69, Allah SWT juga menyebut kedudukan Nabi Musa AS di sisi-Nya.
Ayat tersebut menjelaskan bahwa Allah membersihkan Nabi Musa AS dari tuduhan yang dilontarkan kepadanya.
Allah SWT berfirman:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَكُوْنُوْا كَالَّذِيْنَ اٰذَوْا مُوْسٰى فَبَرَّاَهُ اللّٰهُ مِمَّا قَالُوْا ۗوَكَانَ عِنْدَ اللّٰهِ وَجِيْهًا ۗ
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu seperti orang-orang (dari Bani Israil) yang menyakiti Musa, lalu Allah membersihkannya dari tuduhan-tuduhan yang mereka lontarkan. Dia seorang yang mempunyai kedudukan terhormat di sisi Allah.”
Taurat sebagai Petunjuk bagi Bani Israil
Al-Qur’an juga mengingatkan tentang kitab yang diberikan Allah SWT kepada Nabi Musa AS.
Dalam Surah Al-An’am ayat 91-92, Taurat disebut sebagai cahaya dan petunjuk bagi manusia.
Allah SWT berfirman:
وَمَا قَدَرُوا اللّٰهَ حَقَّ قَدْرِهٖٓ اِذْ قَالُوْا مَآ اَنْزَلَ اللّٰهُ عَلٰى بَشَرٍ مِّنْ شَيْءٍۗ قُلْ مَنْ اَنْزَلَ الْكِتٰبَ الَّذِيْ جَاۤءَ بِهٖ مُوْسٰى نُوْرًا وَّهُدًى لِّلنَّاسِ تَجْعَلُوْنَهٗ قَرَاطِيْسَ تُبْدُوْنَهَا وَتُخْفُوْنَ كَثِيْرًاۚ وَعُلِّمْتُمْ مَّا لَمْ تَعْلَمُوْٓا اَنْتُمْ وَلَآ اٰبَاۤؤُكُمْ ۗقُلِ اللّٰهُ ۙثُمَّ ذَرْهُمْ فِيْ خَوْضِهِمْ يَلْعَبُوْنَ وَهٰذَا كِتٰبٌ اَنْزَلْنٰهُ مُبٰرَكٌ مُّصَدِّقُ الَّذِيْ بَيْنَ يَدَيْهِ وَلِتُنْذِرَ اُمَّ الْقُرٰى وَمَنْ حَوْلَهَاۗ وَالَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِالْاٰخِرَةِ يُؤْمِنُوْنَ بِهٖ وَهُمْ عَلٰى صَلَاتِهِمْ يُحٰفِظُوْنَ
Artinya: “Mereka (Bani Israil) tidak mengagungkan Allah sebagaimana mestinya ketika mereka berkata, “Allah tidak menurunkan sesuatu pun kepada manusia.” Katakanlah (Nabi Muhammad), “Siapakah yang menurunkan kitab suci (Taurat) yang dibawa Musa sebagai cahaya dan petunjuk bagi manusia? Kamu (Bani Israil) menjadikannya lembaran-lembaran lepas. Kamu memperlihatkan (sebagiannya) dan banyak yang kamu sembunyikan, padahal telah diajarkan kepadamu apa yang tidak diketahui baik olehmu maupun oleh nenek moyangmu.” Katakanlah, “Allah.” Kemudian, biarkanlah mereka bermain-main dalam kesesatannya. Ini (Al-Qur’an) adalah kitab suci yang telah Kami turunkan lagi diberkahi yang membenarkan kitab-kitab yang (diturunkan) sebelumnya dan agar engkau memberi peringatan kepada penduduk Ummul Qura (Makkah) dan orang-orang yang ada di sekitarnya. Orang-orang yang beriman pada kehidupan akhirat tentu beriman padanya dan mereka selalu memelihara salatnya.”
Sementara itu, Surah Al-An’am ayat 154 menjelaskan pemberian kitab kepada Nabi Musa AS. Kitab tersebut diberikan sebagai penyempurna bagi orang yang berbuat kebaikan.
Allah SWT juga menyebut Taurat sebagai petunjuk dan rahmat bagi Bani Israil.
Allah SWT berfirman:
ثُمَّ اٰتَيْنَا مُوْسَى الْكِتٰبَ تَمَامًا عَلَى الَّذِيْٓ اَحْسَنَ وَتَفْصِيْلًا لِّكُلِّ شَيْءٍ وَّهُدًى وَّرَحْمَةً لَّعَلَّهُمْ بِلِقَاۤءِ رَبِّهِمْ يُؤْمِنُوْنَ وَهٰذَا كِتٰبٌ اَنْزَلْنٰهُ مُبَارَكٌ فَاتَّبِعُوْهُ وَاتَّقُوْا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَۙ
Artinya: “Kemudian, Kami telah menganugerahkan kepada Musa Kitab (Taurat) untuk menyempurnakan (nikmat Kami) kepada orang yang berbuat kebaikan, menjelaskan secara rinci segala sesuatu, serta memberi petunjuk dan rahmat agar mereka beriman kepada pertemuan dengan Tuhannya. (Al-Qur’an) ini adalah Kitab yang Kami turunkan lagi diberkahi. Maka, ikutilah dan bertakwalah agar kamu dirahmati.”
Dari berbagai kisah tersebut, Nabi Musa AS tampil sebagai sosok yang menghadapi ujian besar. Kisahnya memperlihatkan perjuangan menghadapi kezaliman dan membimbing umat menuju petunjuk Allah SWT.
Karena itu, banyaknya kisah Nabi Musa AS dalam Al-Qur’an tidak hanya menghadirkan sejarah.
Kisah tersebut juga memuat pelajaran tentang keteguhan iman, keberanian, kesabaran, dan perjuangan menghadapi kezaliman. (*)







