Fikih  

Tiga Golongan Ahli Amal yang Pertama Masuk Neraka

Tiga golongan ahli amal ini disebut pertama kali diadili pada hari kiamat karena beramal dengan riya dan ingin mendapat pujian. (Foto: iStockphoto/Ilustrasi)

SerambiMuslim.com – Amal saleh yang dilakukan tanpa keikhlasan akan kehilangan nilainya di hadapan Allah SWT.

Islam mengingatkan umatnya agar setiap amal dilakukan semata-mata untuk mencari ridha Allah SWT.

Sebab, terdapat orang yang tampak rajin beramal, tetapi justru menjadi golongan pertama yang diadili pada hari kiamat.

Mereka adalah orang yang beramal karena riya dan sumah, bukan karena mengharap ridha Allah SWT.

Riya merupakan sikap memamerkan amal ibadah agar mendapat pujian manusia. Sementara sumah adalah sikap menceritakan kelebihan diri untuk memperoleh simpati atau pujian.

3 Golongan yang Pertama Kali Diadili

Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW menjelaskan tiga golongan manusia yang pertama kali diputuskan perkaranya. Mereka terdiri dari orang yang mati syahid, orang berilmu dan pembaca Al-Qur’an, serta orang yang gemar bersedekah.

Namun, amal ketiganya dilakukan bukan karena Allah SWT.

Rasulullah SAW bersabda:

إن أول الناس يُقضى يوم القيامة عليه رجُل اسْتُشْهِدَ، فأُتي به، فعرَّفه نِعمته، فعرَفَها، قال: فما عَمِلت فيها؟ قال: قَاتَلْتُ فيك حتى اسْتُشْهِدْتُ. قال: كَذبْتَ، ولكنك قَاتَلْتَ لأن يقال: جَرِيء! فقد قيل، ثم أُمِرَ به فَسُحِب على وجهه حتى أُلقي في النار. ورجل تعلم العلم وعلمه، وقرأ القرآن، فأُتي به فعرَّفه نِعَمه فعرَفَها. قال: فما عملت فيها؟ قال: تعلمت العلم وعلمته، وقرأت فيك القرآن، قال: كَذَبْتَ، ولكنك تعلمت ليقال: عالم! وقرأت القرآن ليقال: هو قارئ؛ فقد قيل، ثم أُمِر به فَسُحِب على وجهه حتى ألقي في النار. ورجل وَسَّعَ الله عليه، وأعطاه من أصناف المال، فأُتي به فعرَّفه نِعَمه، فعرَفَها. قال: فما عملت فيها؟ قال: ما تركت من سبيل تُحِبُّ أن يُنْفَقَ فيها إلا أنفقت فيها لك. قال: كَذَبْتَ، ولكنك فعلت ليقال: جواد! فقد قيل، ثم أُمِر به فَسُحِب على وجهه حتى ألقي في النار

Artinya: “Sesungguhnya manusia yang pertama kali diputuskan perkaranya pada hari kiamat adalah orang yang mati syahid. Ia dihadapkan kepada Allah lalu dikenalkan kepadanya nikmat-Nya, maka ia pun mengenalnya. Allah berfirman, “Apa yang telah engkau lakukan dengan nikmat ini?” Ia menjawab, “Aku telah berperang di jalan-Mu sampai aku mati syahid.” Allah berfirman, “Engkau berdusta. Engkau berperang agar disebut pemberani, maka sungguh hal itu telah dikatakan.” Selanjutnya ia diperintahkan untuk dibawa lalu diseret dengan wajahnya sampai ia dilemparkan ke neraka. Selanjutnya, orang yang mempelajari satu ilmu dan mengajarkannya dan membaca Al-Qur’an. Ia pun dihadapkan kepada Allah, lalu dikenalkan kepadanya nikmat-Nya, maka ia pun mengenalinya. Allah berfirman, “Apa yang telah engkau lakukan dengan nikmat tersebut?” Ia menjawab, “Aku mempelajari satu ilmu dan mengajarkannya dan aku membaca Al-Qur’an karena-Mu.” Allah berfirman, “Engkau berdusta. Engkau belajar agar disebut seorang yang berilmu dan engkau membaca Al-Qur’an agar disebut pembaca, maka sungguh semua itu telah dikatakan.” Lalu ia diperintahkan untuk dibawa lalu diseret dengan wajahnya sampai ia dilemparkan ke neraka. Selanjutnya, orang yang diluaskan rezekinya dan diberi berbagai macam harta oleh Allah. Lalu ia dihadapkan kepada Allah kemudian dikenalkan nikmat-Nya, maka ia pun mengenalinya. Allah berfirman, “Apa yang telah engkau lakukan dengan nikmat ini?” Ia menjawab, “Aku berinfak karena-Mu di semua jalan yang Engkau sukai.” Allah berfirman, “Engkau berdusta. Engkau melakukan itu agar disebut dermawan, maka sungguh hal itu telah dikatakan.” Kemudian ia diperintahkan untuk dibawa lalu diseret dengan wajahnya sampai ia dilemparkan ke neraka. (HR Muslim dari Abu Hurairah RA)

Berdasarkan hadits tersebut, terdapat tiga golongan ahli amal yang perlu diwaspadai.

1. Orang yang Berjihad demi Mendapat Pujian

Golongan pertama adalah orang yang mati syahid karena berjihad. Namun, jihad tersebut tidak dilakukan semata-mata karena Allah SWT.

Ia berjuang agar dikenal sebagai sosok yang gagah atau pemberani.

Karena niat tersebut, amal yang dilakukan tidak memperoleh balasan sebagaimana yang diharapkan.

2. Orang Berilmu dan Pembaca Al-Qur’an yang Ingin Disanjung

Golongan kedua adalah orang yang mempelajari ilmu dan mengajarkannya. Termasuk di dalamnya orang yang membaca Al-Qur’an.

Namun, amal tersebut dilakukan agar dirinya disebut sebagai orang berilmu atau seorang qari.

Keinginan mendapatkan pengakuan manusia membuat amal tersebut kehilangan keikhlasannya.

3. Orang yang Bersedekah agar Disebut Dermawan

Golongan ketiga adalah orang yang diberikan kelapangan rezeki dan memiliki banyak harta.

Ia kemudian menggunakan hartanya untuk bersedekah. Namun, sedekah tersebut dilakukan agar dirinya dikenal sebagai orang yang dermawan.

Allah SWT menilai niat di balik amal tersebut sehingga kebaikannya tidak mendapatkan balasan yang diharapkan.

Allah Hanya Menerima Amal yang Ikhlas

Prof Ali Muhammad Ash-Shallabi dalam “Al-Wasathiyyah fi Qur’anil Kariim” terjemahan Samson Rahman dan Tajuddinn menjelaskan tentang pentingnya keikhlasan.

Dalam riwayat yang dinukil dari Abu Umamah Al-Bahily, Rasulullah SAW menegaskan bahwa Allah SWT tidak menerima amal kecuali dilakukan secara murni.

Dari Abu Umamah Al-Bahily dia berkata, “Seorang laki-laki datang kepada Nabi dan berkata, ‘Apa pendapatmu tentang seorang yang berperang mencari pahala dan gelar nama? Apa yang dia akan peroleh?’ Rasulullah bersabda, ‘Dia tidak mendapat sesuatu pun.’ Dia mengulangi pertanyaannya sampai tiga kali, akan tetapi Rasulullah menjawab, ‘Dia tidak mendapatkan sesuatu pun.’ Kemudian Nabi bersabda, ‘Sesungguhnya Allah tidak menerima amalan kecuali amalan yang murni dan mencari Wajah (ridha) Allah’.” (HR An-Nasa’i dalam Kitab Al-Jihad)

Hadits tersebut menegaskan bahwa niat menjadi bagian penting dalam sebuah amal.

Amal yang terlihat baik belum tentu bernilai apabila tujuan utamanya hanya mencari pujian manusia.

Riya dan Sumah Harus Diwaspadai

Dalam riwayat lain, amal sederhana juga dapat bernilai pahala apabila dilakukan demi mencari ridha Allah SWT.

Tidur, membelanjakan harta, membantu teman, hingga menghindari kerusakan dapat bernilai ibadah. Syaratnya, seluruh perbuatan tersebut dilakukan dengan niat yang benar.

Dari Muadz bin Jabal RA, dari Rasulullah SAW bersabda, “Perang itu ada dua macam; Adapun orang yang berperang mencari Wajah (ridha) Allah, mentaati imam, membelanjakan harta yang mulia, memudahkan rekannya, dan menghindari kerusakan, maka tidurnya dan perampasannya adalah pahala seluruhnya. Adapun orang yang berperang dengan kecongkakan, riya (sombong agar dilihat) dan sumah (sombong agar harum namanya, pencitraan), membangkang kepada imam, dan melakukan kerusakan di muka bumi, maka sesungguhnya dia tidak kembali dengan kefakiran.” (HR An-Nasa’i dalam Kitab Al-Jihad)

Karena itu, umat Islam perlu berhati-hati terhadap riya dalam setiap amal.

Muhammad Nauval Al-Ammari dalam buku Memahami Ilmu Tauhid dan Amalan Ahli Surga menyebut riya sebagai syirik ashgar.

Dari Mahmud bin Labid, Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya yang paling kukhawatirkan akan menimpa kalian adalah syirik ashgar.” Para sahabat bertanya, “Apa itu syirik ashgar, wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “(Syirik ashgar adalah) riya. Allah Ta’ala berkata pada mereka yang berbuat riya pada hari kiamat ketika manusia mendapat balasan atas amalan mereka: ‘Pergilah kalian pada orang yang kalian tujukan perbuatan riya di dunia. Lalu lihatlah apakah kalian mendapatkan balasan dari mereka’?” (HR Ahmad. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan sanadnya shahih)

Rasulullah SAW juga mengingatkan bahwa riya merupakan perkara tersembunyi yang harus diwaspadai.

“Maukah aku kabarkan kepada kalian sesuatu yang lebih tersembunyi di sisiku atas kalian daripada Masiih ad-Dajjal?… Yaitu syirkul khafi, yaitu seseorang salat, lalu menghiasi (memperindah) salatnya, karena ada orang yang memperhatikan salatnya.” (HR Ibnu Majah)

Karena itu, umat Islam hendaknya selalu memeriksa kembali niat sebelum dan ketika beramal.

Amal yang dilakukan semata-mata untuk mencari ridha Allah SWT menjadi tujuan utama dalam beribadah.

Dengan demikian, kebaikan yang dilakukan tidak sekadar terlihat baik di hadapan manusia. Namun, amal tersebut juga diharapkan memperoleh penerimaan dan balasan dari Allah SWT. (*)