Fikih  

Apakah Benar Dajjal Sudah Muncul? Ini Tanda-tandanya

ILUSTRASI - Tiga tahun sebelum Dajjal muncul, manusia disebut mengalami kelaparan akibat berkurangnya hujan dan tumbuhan. (Foto: Chatgpt/Serambi Muslim)

SerambiMuslim.com – Dajjal disebut sebagai salah satu fitnah terbesar pada akhir zaman. Nabi Muhammad SAW telah mengingatkan umat Islam tentang kemunculannya.

Dalam sejumlah hadits, Rasulullah SAW menjelaskan berbagai hal mengenai Dajjal. Di antaranya arah kemunculan, lama keberadaannya di bumi, hingga tanda-tanda yang mendahuluinya.

Rasulullah SAW bersabda:

“Dan tidaklah diutus seorang nabi yang diikuti itu, kecuali untuk memperingatkan kaumnya terhadap Dajjal…” (HR Ahmad)

Mengenai waktu kemunculannya, hanya Allah SWT yang mengetahuinya. Namun, terdapat sejumlah keterangan dalam hadits mengenai Dajjal dan peristiwa yang disebut akan mendahului kemunculannya.

Dajjal Akan Muncul dari Arah Timur

Dalam kitab An-Nihayah karya Ibnu Katsir terjemahan Anshori Umar Sitanggal dan Imron Hasan, dikisahkan perjalanan Tamim Ad-Dari yang bertemu Jassasah dan Dajjal.

Rasulullah SAW naik mimbar setelah salat dan menceritakan kisah tersebut.

Tamim Ad-Dari pernah berlayar di laut bersama 30 orang dari Lakhm dan Judzam. Selama satu bulan, mereka dipermainkan ombak hingga akhirnya berlabuh di sebuah pulau di tengah laut.

Tamim dan rombongannya kemudian melihat sosok makhluk gimbal dengan rambut lebat. Makhluk tersebut menyuruh mereka menemui seorang laki-laki di sebuah biara.

Mereka kemudian memasuki biara dan bertemu sosok manusia berukuran sangat besar. Sosok tersebut lantas mengajukan sejumlah pertanyaan kepada Tamim dan rombongannya.

Hingga akhirnya, sosok tersebut berkata:

“Adapun sesungguhnya, memang sebaiknya mereka (kaum Arab) mematuhi dia (Nabi Muhammad SAW) dan sesungguhnya aku akan memberitahukan kepadamu sekalian mengenai diriku. Sesungguhnya aku inilah si Picak, dan sesungguhnya takkan lama lagi aku akan diizinkan keluar. Di kala itu, maka aku pun keluar dan berjalan di muka bumi. Takkan ada satu kota pun yang aku biarkan, kecuali aku singgahi selama empat puluh malam, selain Makkah dan Thaibah (Madinah). Kedua kota itu terlarang bagiku. Setiap kali aku hendak memasuki salah satu dari kedua kota itu, aku dihadang oleh seorang malaikat yang menggenggam sebilah pedang terhunus. Dia menghalau aku dari kota itu. Dan sesungguhnya, pada setiap lorong dari kota itu ada malaikat-malaikat yang menjaganya.”

Setelah menceritakan kisah tersebut, Rasulullah SAW menyebut kisah Tamim sesuai dengan keterangan yang sebelumnya disampaikan mengenai Dajjal.

Kemudian Rasulullah SAW bersabda:

“Sesungguhnya aku tertarik dengan cerita dari Tamim itu. Cerita itu benar-benar sesuai dengan yang pernah aku ceritakan kepadamu mengenai Dajjal itu, dan mengenai Madinah dan Makkah. Ketahuilah, sesungguhnya apakah dia (Dajjal) ada di laut Syam atau laut Yaman? Tidak, bahkan (dia akan datang) dari arah timur,” demikian sabda beliau sambil menunjuk dengan tangannya ke timur.

Dajjal Akan Mengaku sebagai Tuhan

Dajjal digambarkan sebagai sosok dari keturunan manusia yang akan muncul sebagai seorang maharaja. Ia disebut akan mengaku sebagai Tuhan.

Orang-orang yang tidak memiliki pengetahuan dan keimanan yang kuat disebut akan mengikutinya. Sementara orang-orang yang mendapat hidayah Allah SWT akan menolak mengikuti Dajjal.

Dalam Shahih Muslim, dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda:

لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يُبْعَثَ دَجَّالُونَ كَذَّابُونَ قَرِيبٌ مِنْ ثَلَاثِينَ كُلُّهُمْ يَزْعُمُ أَنَّهُ رَسُولُ اللَّهِ.

Artinya: “Kiamat takkan terjadi sebelum dibangkitkannya para Dajjal, yakni para pendusta (yang jumlahnya) hampir tiga puluh orang. Masing-masing mengaku dirinya utusan Allah.” (HR Muslim)

Masih merujuk pada Shahih Muslim, dari Tsauban, Rasulullah SAW bersabda:

وَإِنَّهُ سَيَكُونُ فِي أُمَّتِي ثَلَاثُونَ كَذَّابُونَ كُلُّهُمْ يَزْعُمُ أَنَّهُ نَبِيٌّ وَأَنَا خَاتَمُ النَّبِيِّينَ لَا نَبِيَّ بَعْدِي.

Artinya: “Dan sesungguhnya akan muncul di kalangan umatku tiga puluh orang pendusta, masing-masing mengaku dirinya nabi, padahal aku adalah penutup para Nabi, tidak ada lagi nabi sesudahku….” (HR Muslim)

Dajjal Akan Berada di Bumi Selama 40 Hari

Dajjal disebut akan memasuki berbagai penjuru bumi. Ia tidak menyisakan tempat untuk dijelajahi dengan kuda maupun berjalan kaki, kecuali Makkah dan Madinah.

Dalam keterangan hadits, Dajjal akan berada di bumi selama 40 hari. Satu hari disebut seperti satu tahun. Hari berikutnya seperti satu bulan. Hari berikutnya seperti satu Jumat. Setelah itu, hari-harinya seperti hari biasa. Dengan demikian, masa keberadaan Dajjal tersebut berlangsung lebih dari satu tahun.

Selama masa tersebut, Allah SWT akan mengadakan berbagai hal luar biasa melalui Dajjal sebagai ujian dan fitnah bagi manusia. Orang-orang beriman disebut akan tetap teguh dalam keimanannya.

Dari Nu’man yang mendengar keterangan Abdullah bin Amr, ia mengatakan sabda Rasulullah SAW sebagai berikut:

“Dajjal akan muncul di tengah umatku. Dia akan tinggal selama 40 hari, atau 40 bulan, atau 40 tahun. Lalu Allah mengutus Nabi Isa bin Maryam. Dia seperti ‘Urwah bin Mas’ud. Dia akan mencari Dajjal dan membinasakannya…” (HR Muslim)

Apakah Dajjal Sudah Muncul?

Kemunculan Dajjal hingga kini masih menjadi perkara yang berkaitan dengan tanda-tanda akhir zaman.

Dajjal tidak disebut muncul secara tiba-tiba. Sejumlah sumber keislaman menyebut adanya peristiwa yang akan mendahului kemunculannya.

Mengutip buku “The Story of Dajjal: Mengungkap Tanda-tanda Kemunculan Dajjal dan Rahasia Selamat dari Fitnah Akhir Zaman” karya Muhammad Muhlisin, berikut sejumlah tanda yang disebut berkaitan dengan kemunculan Dajjal.

1. Munculnya Al-Mahdi Al-Muntazhar

Kemunculan Al-Mahdi Al-Muntazhar disebut sebagai salah satu tanda menjelang munculnya Dajjal.

Dalam sumber tersebut, Al-Mahdi disebut akan memimpin umat Islam. Dajjal kemudian muncul untuk memerangi Al-Mahdi.

Naafi’i bin ‘Utbah berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda:

“Kalian akan memerangi jazirah Arab, lalu Allah menaklukannya. Setelah itu, kalian menyebut Romawi, dan Allah menaklukkannya. Kemudian kalian menyerbu Dajjal, lalu Allah memenangkannya.”

2. Al-Quds dan Al-Aqsha Direbut Kembali

Tanda berikutnya yang disebut dalam buku tersebut adalah kaum muslimin merebut kembali Al-Quds dan Al-Aqsha. Peristiwa tersebut dikaitkan dengan masa Al-Mahdi.

Rasulullah SAW bersabda:

“Seandainya umur di dunia hanya tersisa satu hari pun, tentu Allah akan mengutus seseorang dari kami ahlulbait yang akan mengisi dunia dengan keadilan sebagaimana sebelumnya telah dipenuhi dengan kezaliman.” (HR Ahmad dan Abu Dawud)

3. Keringnya Danau Thabariyyah

Danau Thabariyyah atau Danau Tiberias juga disebut dalam kisah pertemuan Tamim Ad-Dari dengan Dajjal. Danau tersebut dikenal dengan beberapa nama, seperti Danau Kinneret, Laut Galilea, dan Danau Gennesaret.

Dalam hadits yang diriwayatkan Muslim dari Fathimah binti Qais, Dajjal disebut berkata:

“Air danau itu nanti akan habis.”

Perkataan tersebut disampaikan ketika Dajjal bertemu Tamim Ad-Dari. Saat itu, Tamim bersama 30 awak kapalnya terdampar di sebuah pulau yang tidak berpenghuni.

4. Kurma Baisan Tidak Lagi Berbuah

Tidak berbuahnya pohon kurma Baisan juga disebut dalam kisah pertemuan Dajjal dengan Tamim Ad-Dari.

Dajjal menyebut bahwa tidak lama lagi pohon-pohon kurma tersebut tidak akan berbuah.

Baisan merupakan sebuah kota yang berada di Palestina, kawasan Al-Ghaur utara.

5. Kekeringan, Kelaparan dan Krisis Ekonomi

Tanda berikutnya berkaitan dengan kekeringan dan kelaparan yang disebut berlangsung selama tiga tahun sebelum kemunculan Dajjal.

Dalam keterangan hadits, hujan disebut berkurang secara bertahap. Kondisi tersebut kemudian berdampak pada tumbuhan dan kehidupan manusia.

Berikut hadits yang menjelaskan kondisi tersebut:

اللَّهُ السَّمَاءَ فِي السَّنَةِ الأُولَى أَنْ تَحْبَسَ ثُلُثَ مَطَرِهَا، وَيَأْمُرُ الْأَرْضَ فَتَحْبَسُ ثُلُثَ نَبَاتِهَا، ثُمَّ يَأْمُرُ السَّمَاءَ فِي الثَّانِيَةِ فَتَحْبَسُ ثُلُثَي مَطَرِهَا، وَيَأْمُرُ الأَرْضَ فَتَحْبَسُ ثُلُثَ نَبَاتِهَا، ثُمَّ يَأْمُرُ السَّمَاءَ فِي السَّنَةِ الثَّالِثَةِ فَتَحْبَسُ مَطَرَهَا كُلَّهُ، فَلَا تَقْطُرُ قَطْرَةً، وَيَأْمُرُ الْأَرْضِ فَتَحْبَسُ نَبَاتُهَا كُلَّهُ، فَلَا تَنْبُتُ خَضْرَاءَ، فَلَا تَبْقَى ذَاتَ ظُلْفِ إِلَّا هَلَكَتْ إِلَّا مَا شَاءَ اللَّهُ.

Artinya: “Sesungguhnya sebelum kemunculan Dajjal, selama tiga tahun manusia ditimpa kelaparan besar. Allah memerintahkan langit pada tahun pertama untuk menahan sepertiga hujannya dan memerintahkan bumi untuk menahan sepertiga tumbuhannya. Kemudian la memerintahkan langit pada tahun kedua untuk menahan dua pertiga hujannya dan memerintahkan bumi untuk menahan dua pertiga tumbuhannya. Kemudian Allah memerintahkan langit pada tahun ketiga untuk menahan hujan secara keseluruhan. Maka hujan pun tidak turun setetes pun. Lalu ia memerintahkan bumi untuk menahan tumbuhan seluruhnya, maka tidak ada tumbuhan hijau. Tidak ada mahluk yang berkuku kecuali binasa, kecuali yang dikehendaki oleh Alah SWT.”

Dalam hadits tersebut, terdapat pula pertanyaan mengenai bagaimana manusia dapat bertahan hidup dalam kondisi tersebut.

قِيلَ: فَمَا يُعِيشُ النَّاسُ فِي ذَلِكَ الزَّمَانِ؟ قَالَ : التَّهْلِيلُ وَالتَّكْبِيرُ، وَالتَّسْبِيحُ، وَالتَّحْمِيدُ، وَيَجْرِي ذَلِكَ عَلَيْهِمْ مَجْرَى الطَّعَامِ.

Artinya: Seseorang bertanya, “Apa yang membuat manusia dapat hidup pada zaman itu?” Beliau menjawab, “Tahlil, takbir, tasbih, dan tahmid. Kesemuanya berfungsi makanan.”

Dengan demikian, berbagai keterangan mengenai Dajjal bersumber dari hadits dan literatur keislaman yang membahas tanda-tanda akhir zaman.

Waktu pasti kemunculan Dajjal tidak disebutkan dalam naskah tersebut. Karena itu, perkara tersebut tetap menjadi bagian dari hal gaib yang pengetahuannya berada di sisi Allah SWT. (*)