SerambiMuslim.com — Meningkatnya angka perceraian, rendahnya jumlah pernikahan, serta belum optimalnya pemanfaatan zakat dan wakaf menjadi sorotan utama dalam breakfast meeting Menteri Agama Nasaruddin Umar bersama pejabat Kementerian Agama, Selasa (27/5/2024).
Kegiatan ini dihadiri oleh pejabat Eselon I dan II pusat, pimpinan Kanwil Kemenag Provinsi, serta perwakilan Perguruan Tinggi Keagamaan Negeri (PTKN). Dalam arahannya, Menag menekankan pentingnya reposisi program keagamaan agar lebih berdampak nyata pada penguatan institusi keluarga dan pemberdayaan ekonomi umat.
“Data menunjukkan bahwa 80 persen perceraian terjadi dalam lima tahun pertama pernikahan. Ini menjadi indikator lemahnya ketahanan keluarga,” ujar Menag Nasaruddin.
Ia menilai, jauhnya individu dari nilai-nilai agama turut menjadi faktor penyebab rapuhnya bangunan rumah tangga. Karena itu, ia mendorong penguatan program bimbingan pranikah dan pascanikah oleh Kementerian Agama.
Direktur Bina KUA, Cecep Khairul Anwar, memaparkan bahwa pencatatan pernikahan sepanjang 2024 baru mencapai 1,47 juta pasangan, dari 66 juta penduduk usia siap nikah. “Target kami meningkatkan angka pernikahan hingga dua juta pasangan. Saat ini progresnya sudah mencapai 25 persen,” jelas Cecep.
Selain isu keluarga, Menag juga menyoroti potensi besar zakat dan wakaf yang belum tergarap optimal. Ia menyebutkan, potensi zakat nasional mencapai Rp230 triliun, namun baru sekitar Rp41 triliun yang berhasil dihimpun.
“Semua agama punya kewajiban charity. Dalam Islam, banyak pundi keagamaan seperti zakat, wakaf, infaq, sadaqah, jariyah, hingga hibah dan waris. Ini harus digerakkan,” tegasnya.
Kasubdit Bina Kelembagaan dan Kerja Sama Zakat dan Wakaf, Muhibuddin, menyampaikan bahwa gerakan wakaf uang ASN Kemenag saat ini baru mencapai 18 persen dari target. “Kami tengah mendorong penghimpunan dana sosial keagamaan hingga Rp3 miliar,” ujarnya.
Menag Nasaruddin menegaskan, seluruh program Kementerian Agama harus berbasis data kuantitatif dan kebutuhan riil masyarakat. “Kita perlu menengok ke bawah, bukan hanya ke atas, saat menyusun program. Harus ada pengayaan dan penajaman program yang berdampak langsung,” pungkasnya.






