Fikih  

Ngeri! Begini Rasanya Sakaratul Maut

Simak penjelasan tentang sakaratul maut dan tanda su’ul khatimah dalam Islam, lengkap dengan riwayat hadits dan pandangan ulama. (Foto: iStockphoto/Ilustrasi)

SerambiMuslim.com – Sakaratul maut merupakan fase paling menentukan dalam kehidupan manusia, yang menggambarkan rasa sakit luar biasa saat menjelang kematian.

Dalam ajaran Islam, kondisi ini diyakini sebagai momen di mana rasa sakit menjalar ke seluruh tubuh hingga ke inti jiwa.

Sejumlah riwayat menyebutkan bahwa sakaratul maut menjadi salah satu ujian paling berat yang akan dialami setiap manusia, meski tingkat rasa sakitnya berbeda-beda.

Rasulullah SAW pernah memberikan gambaran tentang rasa tersebut melalui sebuah perumpamaan.

“Kematian yang paling mudah adalah seperti duri yang menancap pada kain sutra. Apakah duri itu dapat dicabut tanpa merusak kainnya?” sabda Rasulullah SAW.

Gambaran serupa juga dikisahkan Al-Hasan yang menyebut bahwa rasa sakit sakaratul maut setara dengan ratusan tusukan pedang.

Dalam riwayat lain, Nabi Ibrahim AS menggambarkan pengalaman menghadapi kematian seperti kait yang ditarik dari gumpalan bulu basah, yang menunjukkan betapa beratnya proses tersebut.

Meski demikian, Islam mengajarkan agar kematian tidak semata-mata ditakuti, melainkan dijadikan sebagai pengingat untuk mempersiapkan kehidupan setelahnya.

Bahkan, bagi orang yang memiliki tingkat keimanan tinggi, kematian dipandang sebagai pintu menuju perjumpaan dengan Allah SWT.

“Barang siapa membenci pertemuan dengan Allah, maka Allah pun membenci bertemu dengannya,” sabda Rasulullah SAW.

Menjelang wafatnya, Rasulullah SAW juga memanjatkan doa agar diringankan dari rasa sakit sakaratul maut, menunjukkan bahwa fase tersebut tetap berat bahkan bagi seorang nabi.

“Ya Allah, ringankanlah aku dari sakitnya sakaratul maut,” doa Rasulullah SAW.

Tanda-Tanda Su’ul Khatimah

Selain sakaratul maut, Islam juga mengenal istilah su’ul khatimah, yakni kondisi akhir kehidupan yang buruk. Ulama menjelaskan bahwa terdapat sejumlah tanda yang bisa menjadi pelajaran bagi umat.

Dalam kitab Al-Khauf min Su’il Khatimah, Syekh Mahmud al-Mishri mengungkapkan bahwa salah satu tanda su’ul khatimah adalah keluarnya ucapan buruk saat menjelang ajal.

Ucapan tersebut bisa berupa kata-kata kotor, penolakan terhadap kalimat tauhid, hingga pernyataan yang bertentangan dengan ketentuan Allah SWT.

Sebuah kisah yang dinukil Ibnu Rajab menceritakan seseorang yang dibimbing mengucapkan kalimat tahlil saat sakaratul maut. Namun, yang keluar dari lisannya justru kata-kata kekafiran.

Setelah ditelusuri, orang tersebut diketahui memiliki kebiasaan buruk semasa hidupnya, yakni kecanduan minuman keras.

Selain dari ucapan, tanda su’ul khatimah juga disebut dapat terlihat dari kondisi jasad setelah meninggal dunia. Beberapa riwayat menyebut adanya perubahan fisik, seperti warna kulit yang menghitam atau munculnya bau tidak sedap.

Dalam kisah lain, terdapat jenazah yang sulit dimakamkan, seperti posisi tubuh yang sulit diarahkan ke kiblat hingga keluarnya darah dari bagian tertentu.

Meski demikian, para ulama menekankan bahwa tanda-tanda tersebut bukan untuk menghakimi, melainkan sebagai pelajaran agar manusia senantiasa memperbaiki diri.

Faktor Penyebab dan Pentingnya Tobat

Syekh Mahmud al-Mishri menjelaskan bahwa salah satu penyebab su’ul khatimah adalah penyimpangan akidah semasa hidup, terlebih jika seseorang menyebarkan kesesatan kepada orang lain.

Faktor lain adalah kebiasaan menunda tobat dan terus mengikuti hawa nafsu tanpa upaya memperbaiki diri.

Karena itu, umat Islam diingatkan untuk segera kembali kepada Allah SWT dan tidak berputus asa dari rahmat-Nya.

“Jangan menunda tobat, karena penyesalan di akhir tidak akan memberi manfaat,” demikian pesan para ulama.

Kematian pada akhirnya menjadi pengingat bahwa kehidupan di dunia bersifat sementara. Persiapan terbaik yang dapat dilakukan adalah memperbaiki amal dan menjaga keimanan hingga akhir hayat. ***