SerambiMuslim.com – PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk (BSI) menargetkan naik kelas ke kelompok bank berdasarkan modal inti (KBMI) IV dalam jangka menengah. Upaya ini dinilai krusial untuk memperbesar kapasitas pembiayaan, baik bagi pelaku usaha maupun masyarakat luas.
Wakil Direktur Utama BSI Bob Tyasika Ananta mengatakan bahwa kunci utama untuk mencapai target tersebut terletak pada penguatan permodalan. Oleh karena itu, langkah ini harus selaras dengan pemegang saham pengendali, yakni Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara).
“Dalam rencana jangka menengah, kami memang mengarah ke sana. Namun kuncinya ada di permodalan, sehingga harus diusulkan dan diselaraskan dengan pemegang saham,” ujar Bob usai menghadiri acara Halal Bihalal Forum Group (FG) Ekonomi dan Keuangan Syariah PP-ISEI 2026 di BSI Tower, Jakarta, Selasa, 14 April 2026.
Menurut dia, peningkatan kapasitas bank tidak hanya berdampak pada kinerja perseroan, tetapi juga membuka peluang pembiayaan yang lebih luas bagi masyarakat. Dengan modal yang lebih besar, bank memiliki ruang untuk menyalurkan pembiayaan dalam skala yang lebih besar, terutama ke sektor-sektor produktif.
Untuk mencapai target tersebut, BSI menyiapkan dua strategi, yakni jalur organik dan nonorganik. Secara organik, penguatan dilakukan melalui akumulasi laba serta ekspansi bisnis.
Sementara itu, jalur nonorganik ditempuh melalui opsi akuisisi bank lain. Namun, Bob mengakui bahwa langkah tersebut tidak mudah untuk direalisasikan.
“Ada pemikiran ke arah anorganik, tetapi memang tidak mudah. Pengalaman sebelumnya juga menunjukkan hal tersebut,” katanya.
Selain akuisisi, BSI juga membuka peluang masuknya investor strategis, termasuk dari luar negeri. Meski demikian, skema ini masih dalam tahap kajian agar tetap sejalan dengan arah pengembangan perusahaan.
“Kalau ada investor tentu akan kami pertimbangkan, tetapi harus dilihat kesesuaiannya dengan strategi perusahaan,” ujar Bob.
Ia menambahkan, pengalaman menunjukkan bahwa investor asing, khususnya dari kawasan Timur Tengah, umumnya menginginkan porsi kepemilikan yang dominan. Hal ini menjadi salah satu pertimbangan penting bagi perseroan dalam menentukan langkah ke depan.
Di tengah rencana ekspansi tersebut, BSI menilai penguatan permodalan menjadi faktor kunci dalam meningkatkan daya saing industri perbankan syariah nasional. Dengan kapasitas yang lebih besar, bank diharapkan mampu menjangkau lebih banyak masyarakat sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis syariah. ***







