SerambiMuslim.com – Menjadi pribadi terbaik dan meraih kesuksesan di tengah masyarakat sejatinya bukanlah hal yang rumit. Kuncinya sederhana, menjadi manusia yang paling banyak memberi manfaat bagi orang lain.
Prinsip ini selaras dengan sabda Nabi Muhammad SAW bahwa sebaik-baik manusia adalah mereka yang paling bermanfaat bagi sesamanya (HR Ahmad).
Ajaran ini tidak hanya relevan dalam kehidupan spiritual, tetapi juga sangat sesuai dengan dinamika dunia modern, baik dalam bidang ekonomi, sosial, maupun kepemimpinan.
Nilai tersebut telah terbukti dalam kehidupan para sahabat Nabi. Mereka memahami bahwa kesuksesan tidak semata diukur dari harta atau jabatan, melainkan dari seberapa besar kontribusi yang diberikan kepada orang lain.
Salah satu teladan nyata adalah Utsman bin Affan. Ia dikenal sebagai sosok pebisnis sukses, dermawan, dan pemimpin yang bijaksana. Prinsip hidupnya jelas, tidak ingin melewatkan peluang untuk memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi umat.
Ketika kaum Muslimin berhijrah dari Makkah ke Madinah, mereka menghadapi kesulitan air. Saat itu, terdapat sebuah sumur milik seorang Yahudi yang airnya diperjualbelikan dengan harga tinggi.
Melihat kondisi tersebut, Utsman bin Affan tergerak. Ia menyadari bahwa banyak kaum Muhajirin yang tidak memiliki cukup harta untuk membeli air. Dengan kepekaan sosial yang tinggi, ia memutuskan membeli setengah kepemilikan sumur tersebut seharga 12.000 dirham.
Kesepakatannya adalah penggunaan sumur dilakukan bergantian, sehari milik pemilik sebelumnya, dan sehari berikutnya milik Utsman. Pada hari kepemilikannya, Utsman membebaskan kaum Muslimin untuk mengambil air secara gratis.
Dampaknya signifikan. Kaum Muslimin tidak lagi membeli air pada hari milik pemilik sebelumnya, sehingga ia mengalami kerugian.
Akhirnya, sisa kepemilikan sumur dijual kepada Utsman seharga 8.000 dirham. Sejak saat itu, sumur tersebut sepenuhnya menjadi milik Utsman dan dapat dimanfaatkan masyarakat tanpa batas.
Kisah ini menunjukkan bahwa kekuatan manfaat mampu mengalahkan model bisnis yang semata berorientasi keuntungan. Ketika manfaat menjadi prioritas, kepercayaan dan dukungan masyarakat akan mengikuti.
Menariknya, keputusan besar tersebut tidak membuat Utsman jatuh miskin. Justru sebaliknya, kekayaannya terus bertambah seiring berkembangnya usaha dan meningkatnya kepercayaan masyarakat. Ia bahkan dikenal sebagai salah satu sahabat terkaya pada masanya, dengan julukan Dzun Nurain.
Dari kisah ini, dapat diambil pelajaran bahwa kesuksesan sejati tidak hanya tentang apa yang dimiliki, tetapi tentang apa yang diberikan kepada orang lain. ***





