SerambiMuslim.com – Puncak ibadah haji berlangsung pada 8 hingga 13 Dzulhijjah. Pada fase ini, jutaan jemaah dari berbagai negara bergerak menuju Padang Arafah, Muzdalifah, dan Mina atau yang dikenal sebagai Armuzna. Setelah itu, jemaah kembali ke Makkah al-Mukarramah untuk menyempurnakan rangkaian ibadah haji.
Rangkaian puncak haji bukan sekadar ritual, melainkan sarat makna spiritual. Mulai dari wukuf di Arafah hingga melontar jumrah, seluruh prosesi menggambarkan perjuangan manusia melawan hawa nafsu dan godaan setan.
Pemerintah Arab Saudi menetapkan 1 Dzulhijjah 1447 Hijriah jatuh pada Senin, 18 Mei 2026. Dengan demikian, wukuf di Arafah berlangsung pada Selasa, 26 Mei 2026, yang bertepatan dengan 9 Dzulhijjah. Sementara Iduladha jatuh sehari setelahnya, yakni Rabu, 27 Mei 2026.
Sesuai jadwal, jemaah haji Indonesia mulai diberangkatkan menuju Arafah pada 8 Dzulhijjah 1447 H sebagai awal pelaksanaan puncak ibadah haji.
Wukuf di Arafah, Inti Ibadah Haji
Wukuf di Padang Arafah merupakan rukun haji yang paling utama. Bahkan Rasulullah SAW bersabda:
“Al-hajju Arafah” (Haji adalah Arafah).
Hadis tersebut menegaskan pentingnya wukuf dalam pelaksanaan ibadah haji.
Sebelum wukuf dimulai, jemaah biasanya mendengarkan khutbah sebagai pengantar. Setelah itu, mereka dianjurkan memperbanyak doa, dzikir, membaca Alquran, dan melakukan refleksi diri.
Wukuf berlangsung sejak Matahari tergelincir hingga waktu maghrib. Secara spiritual, Padang Arafah kerap dimaknai sebagai gambaran Padang Mahsyar, tempat seluruh manusia berkumpul menanti pengadilan Allah SWT.
Karena itu, suasana wukuf sering dipenuhi tangisan, penyesalan, dan doa memohon ampunan kepada Allah SWT.
Mabit di Muzdalifah, Belajar Sabar dan Sederhana
Usai Matahari terbenam di Arafah, jemaah bergerak menuju Muzdalifah untuk mabit atau bermalam pada malam 10 Dzulhijjah.
Di tempat terbuka itu, jemaah beristirahat sambil mengumpulkan batu kerikil yang akan digunakan untuk melontar jumrah di Mina.
Mabit di Muzdalifah mengajarkan nilai kesederhanaan dan kesabaran. Jutaan jemaah bermalam dalam kondisi sederhana tanpa memandang status sosial maupun asal negara.
Bagi jemaah lanjut usia dan disabilitas, sebagian mengikuti skema murur, yakni hanya melintas di Muzdalifah tanpa turun dari kendaraan. Meski demikian, makna spiritual dari prosesi tersebut tetap menjadi bagian penting dalam perjalanan haji.
Melontar Jumrah, Simbol Melawan Godaan
Pada 10 Dzulhijjah atau Hari Raya Iduladha, jemaah menuju Mina untuk melontar Jumrah Aqabah menggunakan tujuh batu kerikil.
Prosesi ini meneladani kisah Nabi Ibrahim AS saat mendapat godaan setan ketika menjalankan perintah Allah SWT untuk menyembelih putranya, Ismail AS.
Dalam kisah tersebut, Nabi Ibrahim tetap teguh menjalankan perintah Allah dan melempar setan dengan batu sebagai simbol penolakan terhadap godaan.
Karena itu, melontar jumrah dimaknai sebagai simbol perlawanan manusia terhadap hawa nafsu, kesombongan, dan berbagai bisikan keburukan dalam kehidupan.
Tahallul, Tanda Keluar dari Ihram
Setelah melontar jumrah, jemaah melaksanakan tahallul dengan mencukur atau memotong rambut.
Tahallul menjadi tanda berakhirnya sebagian larangan ihram sekaligus simbol penyucian diri setelah menjalani perjalanan spiritual.
Dalam pelaksanaannya, terdapat tahallul awal dan tahallul akhir. Setelah tahallul awal, sebagian larangan ihram telah diperbolehkan. Sedangkan setelah tahallul akhir, seluruh larangan ihram dinyatakan selesai.
Tawaf Ifadah dan Sai, Menyempurnakan Rukun Haji
Setelah tahallul, jemaah menuju Masjidil Haram untuk melaksanakan tawaf ifadlah dengan mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh putaran.
Tawaf mencerminkan kepatuhan total manusia kepada Allah SWT tanpa membedakan status, jabatan, maupun kebangsaan.
Usai tawaf, jemaah melaksanakan sai antara Bukit Shafa dan Marwah sebanyak tujuh kali. Prosesi ini mengenang perjuangan Siti Hajar mencari air untuk putranya, Ismail AS.
Sai mengandung pesan bahwa ikhtiar dan tawakal harus berjalan beriringan. Dari perjuangan itulah Allah SWT menghadirkan air Zamzam yang penuh keberkahan.
Mabit dan Melontar Tiga Jumrah di Mina
Pada 11 hingga 13 Dzulhijjah, jemaah kembali ke Mina untuk mabit dan melontar tiga jumrah, yakni Jumrah Ula, Wustha, dan Aqabah.
Prosesi tersebut dilakukan setiap hari sebagai simbol bahwa perjuangan melawan hawa nafsu harus dilakukan terus-menerus sepanjang hidup.
Sebagian jemaah memilih nafar awal dengan meninggalkan Mina pada 12 Dzulhijjah sebelum matahari terbenam. Sementara jemaah yang mengambil nafar tsani melanjutkan mabit hingga 13 Dzulhijjah.
Tawaf Wada, Perpisahan dengan Tanah Suci
Sebelum meninggalkan Makkah, jemaah melaksanakan tawaf wada atau tawaf perpisahan.
Bagi banyak jemaah, momen ini menjadi saat yang paling mengharukan. Tidak sedikit yang menangis ketika memandang Kabah sambil memanjatkan doa agar dapat kembali ke Tanah Suci.
Tawaf wada menjadi penutup seluruh rangkaian ibadah haji sekaligus simbol berakhirnya perjalanan spiritual di Tanah Haram.
Puncak ibadah haji sejatinya mengandung banyak pelajaran kehidupan, mulai dari keikhlasan di Arafah, kesabaran di Mina, kesederhanaan di Muzdalifah, hingga ketundukan total kepada Allah SWT dalam tawaf.
Karena itu, haji mabrur tidak hanya diukur dari kesempurnaan ritual ibadah, tetapi juga perubahan akhlak dan perilaku setelah kembali ke Tanah Air. (*)







