SerambiMuslim.com – Pada masa Bani Israil, hiduplah sebuah keluarga miskin yang terdiri atas seorang ayah lanjut usia dan empat anak laki-laki. Sang ayah hidup dalam kondisi serba kekurangan hingga kesulitan menjalani hari-harinya.
Dari keempat anaknya, hanya seorang putra bernama Abdullah yang bersedia merawat ayahnya dengan penuh kesabaran. Sementara saudara-saudaranya enggan membantu karena merasa tidak akan memperoleh warisan.
“Kalian tidak mau merawat ayah karena tidak akan mendapat warisan. Biarlah aku yang merawatnya,” ujar Abdullah.
Setiap hari, Abdullah melayani seluruh kebutuhan ayahnya dengan lembut dan penuh hormat. Hingga akhirnya, sang ayah wafat tanpa meninggalkan harta warisan sedikit pun.
Setelah ayahnya meninggal dunia, Abdullah mengurus seluruh prosesi pemakaman. Ia memandikan, menyalatkan, hingga menguburkan jenazah ayahnya sebelum kembali ke rumah.
Pada malam harinya, Abdullah bermimpi didatangi seorang pria berpakaian lusuh namun bersikap angkuh. Sosok misterius itu meminta Abdullah mendatangi sebuah tempat dan menggali tanah di sana.
“Engkau akan menemukan 100 keping koin emas. Ambillah semuanya,” kata pria tersebut.
Abdullah lalu bertanya, “Apakah ada keberkahan dari uang itu?” “Tidak ada,” jawab pria itu sebelum menghilang.
Keesokan pagi, Abdullah menceritakan mimpinya kepada sang istri. Ia disarankan mendatangi lokasi tersebut dan mengambil uang yang ada di sana untuk memenuhi kebutuhan hidup. Namun Abdullah menolak melakukannya.
Mimpi serupa terus datang selama beberapa malam berikutnya. Sang istri kembali memintanya mengambil koin emas tersebut, tetapi Abdullah tetap tidak tergoda.
Pada malam keempat, mimpi itu berubah. Pria misterius tersebut meminta Abdullah hanya mengambil satu keping koin emas.
“Apakah ada keberkahannya?” tanya Abdullah. “Ada,” jawab pria itu singkat.
Keesokan harinya, Abdullah mendatangi tempat yang dimaksud. Ia menemukan tumpukan koin emas di dalam tanah. Namun, sesuai pesan dalam mimpinya, Abdullah hanya mengambil satu keping saja.
Dalam perjalanan pulang, Abdullah bertemu seorang nelayan penjual ikan. Ia membeli dua ekor ikan menggunakan satu koin emas tersebut.
Sesampainya di rumah, sang istri membersihkan ikan itu. Betapa terkejutnya mereka ketika menemukan dua butir intan indah di dalam perut ikan tersebut.
Abdullah meyakini batu mulia itu bernilai sangat tinggi dan layak dimiliki raja. Kabar penemuan intan tersebut pun cepat menyebar hingga sampai ke istana.
Raja kemudian datang langsung menemui Abdullah untuk melihat intan itu.
“Berapa harga intan ini?” tanya sang raja. “Sebanyak emas seberat 30 angkutan kuda,” jawab Abdullah.
Tanpa menawar, raja langsung menyetujui harga tersebut. Tak lama kemudian, puluhan pengawal istana datang membawa emas sebagai pembayaran.
Keesokan harinya, utusan kerajaan kembali mendatangi rumah Abdullah. Raja rupanya mengetahui bahwa Abdullah masih memiliki satu intan lain yang menjadi pasangan batu mulia sebelumnya.
“Jika engkau memiliki pasangannya, raja akan membelinya dengan harga lebih tinggi,” ujar utusan kerajaan.
Abdullah akhirnya menjual intan kedua itu. Sejak saat itu, kehidupannya berubah menjadi berkecukupan.
Kisah tersebut menjadi pelajaran tentang pentingnya berbakti kepada orang tua. Ketulusan Abdullah merawat ayahnya diyakini membawa keberkahan rezeki dalam hidupnya. (*)







