Berita  

79 Tahun Indonesia, Ini Ulama Pejuang Kemerdekaan

(Foto: INT).

SERAMBIMUSLIM.COM — Hari ini 17 Agustus 2024, Indonesia genap berusia 79 tahun. Berbeda dengan tahun sebelumnya, tahun ini untuk pertama kalinya peringatan Kemerdekaan Indonesia digelar di dua tempat berbeda, yakni di Istina Negara Jakarta dan Istana Negara Ibu Kota Nusantara.

Bebicara mengenai kemerdekaan bangsa Indonesia, tentu tidaklepas dari peran para pejuang. Di antara pahlawan-pahlawan tersebut juga terdapat tokoh ulama Indonesia yang turut andil dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

Berikut Empat Ulama yang merupakan pejung kemerdekaan Indonesia:

1. KH Ahmad Dahlan
KH Ahmad Dahlan adalah salah satu pahlawan nasional yang yang berjasa dalam membangkitkan kesadaran masyarakat Indonesia melalui gagasannya mengenai pembaharuan Islam serta pendidikan.

KH Ahmad Dahlan merupakan tokoh pendiri Muhammadiyah. Ia adalah putra keempat dari tujuh bersaudara dari keluarga KH Abu Bakar. KH Abu Bakar adalah seorang ulama dan khatib terkemuka di Masjid Besar Kasultanan Yogyakarta pada masa itu, dan ibu dari KH Ahmad Dahlan adalah putri dari H. Ibrahim yang juga menjabat penghulu Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat pada masa itu.

Pemerintah Republik Indonesia menetapkan KH Ahmad Dahlan sebagai Pahlawan Nasional dengan surat Keputusan Presiden no. 657 tahun 1961. Dasar-dasar penetapan itu ialah sebagai berikut:

– KH. Ahmad Dahlan telah mempelopori kebangkitan ummat Islam untuk menyadari nasibnya sebagai bangsa terjajah yang masih harus belajar dan berbuat;
– Dengan organisasi Muhammadiyah yang didirikannya, telah banyak memberikan ajaran Islam yang murni kepada bangsanya. Ajaran yang menuntut kemajuan, kecerdasan, dan beramal bagi masyarakat dan umat, dengan dasar iman dan Islam;
– Dengan organisasinya, Muhammadiyah telah mempelopori amal usaha sosial dan pendidikan yang amat diperlukan bagi kebangkitan dan kemajuan bangsa, dengan jiwa ajaran Islam; dan
– Dengan organisasinya, Muhammadiyah bagian wanita (Aisyiyah) telah mempelopori kebangkitan wanita Indonesia untuk mengecap pendidikan dan berfungsi sosial, setingkat dengan kaum pria.

2. KH Hasyim Asy’ari

KH Hasyim Asy’ari merupakan ulama pendiri organisasi Islam terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama (NU).

KH Hasyim Asy’ari ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pada 17 November 1964 melalui Keppres Nomor 294 Tahun 1964.

Beliau merupakan pemimpin Pondok Pesantren Tebu Ireng, yang merupakan salah satu pondok pesantren terbesar dan terpenting di Jawa pada abad ke-20. Pondok Pesantren Tebu Ireng menjadi tempat bagi banyak santri untuk mendalami agama dan memperoleh ilmu pengetahuan.

Selain berperan sebagai ulama dan pemimpin pondok pesantren, KH Hasyim Asyari juga aktif dalam perjuangan merebut dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Ia adalah tokoh yang menggagas pendirian Tentara Sukarela Muslimin di Jawa yang dikenal dengan sebutan Hizbullah. Hizbullah menjadi salah satu tentara rakyat yang berkontribusi besar dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari penjajahan.

3. KH Zainul Arifin

KH Zainul Arifin merupakan tokoh politik dari Nahdlatul Ulama (NU) dan pernah menjabat sebagai Ketua DPR-GR pada masa demokrasi terpimpin.

Selama era pendudukan militer Jepang, Zainul Arifin ikut mewakili NU dalam kepengurusan Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi) dan terlibat dalam pembentukan pasukan semi militer Hizbullah.

Arifin dipercaya sebagai Panglima Hizbullah dengan tugas utama mengoordinasi pelatihan-pelatihan semi militer di Cibarusah, Bekasi, dekat Bogor. Dalam puncak kesibukan latihan perang guna mengantisipasi terjadinya Perang Asia Pasifik, Kemerdekaan Indonesia diproklamasikan Sukarno-Hatta pada 17 Agustus 1945 di Jakarta.

KH Zainul Arifin meninggal dunia di Jakarta pada tanggal 2 Maret 1963 dan ditetapkan sebagai pahlawan nasional pada 4 Maret 1963.

4. KH Wahid Hasyim

KH Wahid Hasyim merupakan putra dari tokoh agama terkemuka, KH Hasyim Asyari, pendiri Nahdlatul Ulama (NU).

Peran KH Wahid menjadi salah satu tokoh yang menandatangani Piagam Jakarta pada tanggal 22 Juni 1945. Piagam ini menjadi cikal bakal Undang-Undang Dasar 1945, yang merupakan landasan konstitusi negara Indonesia.

Setelah kemerdekaan, ia menjadi Menteri Agama pertama di Indonesia dan menjabat di sejumlah kabinet antara tahun 1946 hingga 1952.

Pada 19 April 1953, KH Wahid Hasyim meninggal dunia di Cimahi, Jawa Barat. Pada tanggal 24 Agustus 1964, ia secara resmi ditetapkan sebagai pahlawan nasional.