SerambiMuslim.com — Sebanyak 8.340 santri dari 1.061 lembaga pendidikan pesantren di seluruh Indonesia mengikuti seleksi tahap awal Musabaqah Qira’atil Kutub (MQK) Nasional VIII tahun 2025 melalui Computer-Based Test (CBT). Tingkat partisipasi seleksi ini mencapai 95 persen, menyisakan 418 santri yang terdata namun tidak hadir mengikuti ujian.
Direktur Pesantren Ditjen Pendidikan Islam, Basnang Said, menyatakan bahwa pelaksanaan CBT menjadi tonggak penting dalam modernisasi sistem seleksi keilmuan pesantren. Menurutnya, penggunaan teknologi mencerminkan keseriusan Kementerian Agama dalam mendorong pesantren menjadi institusi yang adaptif terhadap perkembangan zaman.
“Antusiasme para santri mengikuti tes berbasis komputer ini menunjukkan keseriusan mereka dalam menguasai kitab kuning (turats) dengan cara-cara yang modern dan terukur. MQK adalah ajang prestisius bagi para pengkaji kitab kuning, dan seleksi ini menjadi pintu gerbangnya. Kami ingin memastikan bahwa seleksi berlangsung objektif dan menjangkau seluruh daerah,” ujar Basnang, Jumat (22/6/2025).
Ia menambahkan bahwa MQK bukan semata lomba membaca kitab, melainkan ruang pembuktian penting bagi pesantren dalam menjaga otoritas keilmuan Islam klasik yang berbasis sanad, tafaqquh, dan pemahaman mendalam terhadap teks.
“Ini bukan hanya soal lomba, tapi tentang menjaga kesinambungan tradisi keilmuan Islam yang telah berakar ratusan tahun di bumi Nusantara. Dengan CBT, kita ingin melihat wajah santri masa depan yang mahir membaca kitab sekaligus cakap menggunakan teknologi,” tambahnya.
Penanggung Jawab MQK Nasional VIII, Yusi Damayanti, menyampaikan bahwa seleksi CBT berjalan lancar, tertib, dan partisipatif. Menurutnya, CBT memberi peluang yang adil bagi seluruh santri dari berbagai penjuru negeri, termasuk dari daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), untuk berkompetisi secara setara.
“Komposisi peserta yang terdiri atas 4.365 putra, 3.827 putri, dan 148 peserta campuran menunjukkan keterlibatan luas dan merata. Yang menggembirakan, santri putri tampil luar biasa. Mereka menembus berbagai kode ujian dengan hasil memuaskan, bahkan meraih nilai sempurna di beberapa bidang. Ini menjadi bukti bahwa pesantren kita semakin memberi ruang dan peluang yang setara bagi santri perempuan untuk berkembang,” jelas Yusi.
Ia menekankan bahwa CBT bukan sekadar seleksi administratif, melainkan tahap awal penting untuk menyaring peserta terbaik berdasarkan kemampuan akademik dan pemahaman terhadap turats.
“Kami mendesain soal secara berjenjang dan terstandar, dan senang sekali melihat para santri mampu menaklukkannya dengan baik, bahkan mencapai skor sempurna di tujuh kode ujian,” katanya.
Nilai sempurna di tujuh kode ujian
Sebanyak tujuh kode ujian berhasil dipecahkan oleh para santri dengan nilai sempurna (100), yaitu: Ula-Fiqh, Ula-Nahwu, Ulya-Nahwu, Ulya-Tafsir-Ilmu Tafsir, Ulya-Tauhid, Wustha-Hadis, dan Wustha-Nahwu. Para peserta dengan nilai sempurna ini berasal dari berbagai provinsi, didominasi oleh Aceh, Jawa Tengah, Kalimantan Barat, dan Sumatera Utara.
Jawa Tengah menjadi provinsi dengan variasi kode ujian terbanyak yang berhasil diraih dengan nilai 100. Sementara itu, Jawa Barat tercatat sebagai provinsi dengan jumlah peserta terbanyak, yaitu 1.421 santri. Adapun provinsi dengan nilai rata-rata tertinggi adalah Jawa Timur, dengan skor rata-rata 67,46.
Seleksi CBT MQK Nasional 2025 menjadi bukti bahwa pesantren mampu menjaga warisan keilmuan klasik sekaligus beradaptasi dengan era digital. Tahapan berikutnya akan dilanjutkan dengan seleksi lanjutan dan pelaksanaan MQK Nasional secara luring pada bulan mendatang. (MS)







