SerambiMuslim.com – Puasa Ramadan bukan hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga melatih pengendalian diri. Salah satu ujian terbesar saat berpuasa adalah menahan amarah.
Para ulama menegaskan, meski marah tidak membatalkan puasa, perilaku tersebut dapat mengurangi pahala jika diluapkan secara berlebihan atau tidak pada tempatnya.
Ahli tafsir Alquran, Quraish Shihab, dalam bukunya Menjawab…? 1001 Soal Keislaman yang Patut Anda Ketahui menjelaskan bahwa kemarahan tidak secara otomatis membatalkan shaum. Namun, amarah yang tidak terkendali berpotensi merusak kualitas ibadah. Karena itu, umat Muslim dianjurkan menjaga sikap dan tutur kata selama berpuasa.
Dalam ajaran Islam, marah yang dalam bahasa Arab disebut ghadhab, dipandang sebagai salah satu pintu masuk godaan setan. Nabi Muhammad SAW secara tegas mengingatkan umatnya untuk menghindari sifat tersebut.
Sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Hurairah, seorang sahabat pernah meminta nasihat singkat kepada Rasulullah. Beliau menjawab, “Jangan marah,” dan mengulanginya beberapa kali ketika permintaan itu diulang.
Pandangan serupa disampaikan oleh Al-Ghazali. Dalam karya-karyanya, ia menjelaskan bahwa potensi marah ada dalam diri setiap manusia. Sifat tersebut tidak bisa dihilangkan sepenuhnya, tetapi dapat dikendalikan melalui latihan spiritual (mujahadah).
Marah, menurutnya, tetap memiliki fungsi positif bila diarahkan untuk mencegah kemungkaran dan menegakkan kebenaran.
Untuk meredam amarah, para ulama menganjurkan beberapa langkah. Di antaranya berwudhu dan membaca ta’awwudz guna memohon perlindungan kepada Allah SWT dari godaan setan.
Rasulullah SAW juga mencontohkan cara praktis mengendalikan emosi, seperti mengubah posisi tubuh. Jika marah saat berdiri, maka duduklah, jika masih marah dalam posisi duduk, maka berbaringlah hingga emosi mereda.
Alquran pun memuji orang-orang yang mampu menahan amarah. Dalam Surah Ali Imran ayat 133-134 disebutkan bahwa salah satu ciri orang bertakwa adalah mereka yang mampu menahan marah dan memaafkan kesalahan orang lain.
Bahkan dalam sebuah hadis disebutkan, siapa yang mampu menahan amarahnya, Allah akan menahan siksa-Nya terhadap orang tersebut.
Teladan Rasullah dalam Mengelola Marah
Sikap Rasulullah SAW dalam menghadapi kemarahan menjadi teladan utama. Dalam buku Akhlak Nabi Muhammad SAW karya Ahmad Muhammad al-Hufy dijelaskan, Nabi kerap menghadapi celaan dan penghinaan saat berdakwah. Namun, beliau tidak pernah marah karena kepentingan pribadi.
Kemarahan Rasulullah SAW muncul ketika ajaran Allah dilanggar atau nilai kebenaran direndahkan. Hal itu pun tetap berada dalam batas kendali.
Ummul Mukminin Aisyah meriwayatkan bahwa Rasulullah tidak pernah membalas dendam untuk urusan pribadi. Beliau hanya marah jika larangan Allah dilanggar.
Bahkan saat marah, tutur kata Nabi tetap terjaga. Kepada Abdullah bin Amr bin Ash yang ingin mencatat setiap ucapannya, Rasulullah bersabda bahwa tidak keluar dari lisannya kecuali kebenaran, baik dalam keadaan senang maupun marah.
Teladan tersebut menunjukkan bahwa marah bukanlah sesuatu yang sepenuhnya terlarang, tetapi harus dikendalikan dan diarahkan pada tujuan yang benar.
Dalam konteks puasa Ramadan, kemampuan menahan amarah menjadi bagian penting dari kesempurnaan ibadah.
Menahan lapar mungkin terasa berat, tetapi menahan emosi kerap jauh lebih sulit. Di situlah letak nilai spiritual puasa, membentuk pribadi yang sabar, lembut, dan mampu menguasai diri. ***






