Berita  

Masjid Istiqlal Siapkan 10 Ribu Porsi Buka Puasa Gratis

Sebagian kurma dari permukiman ilegal Israel diduga diselundupkan ke pasar Eropa melalui label palsu. Regulasi Uni Eropa mengharuskan asal produk jelas tercantum. (Foto: iStockphoto/Ilustrasi)

SerambiMuslim.com – Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat, menyiapkan hingga 10 ribu porsi makanan berbuka puasa setiap hari selama Ramadan 1447 Hijriah. Penyediaan konsumsi ini diprioritaskan bagi jamaah yang memadati masjid terbesar di Asia Tenggara tersebut, terutama pada akhir pekan.

Menteri Agama sekaligus Imam Besar Istiqlal, Nasaruddin Umar, menegaskan bahwa Istiqlal terbuka bagi seluruh kalangan selama bulan suci, tanpa memandang latar belakang agama.

“Istiqlal siap menjadi rumah bersama. Selama Ramadhan, bukan hanya umat Islam yang kami sambut, tetapi siapa pun yang ingin merasakan suasana kebersamaan,” ujar Nasaruddin di Jakarta, Rabu, 18 Februari 2026.

Menurut dia, jumlah jamaah yang berbuka puasa pada hari biasa berkisar 4.000 hingga 5.000 orang. Angka tersebut melonjak menjadi 7.000 sampai 10.000 jamaah saat akhir pekan.

“Semua kami layani dengan nasi boks. Distribusinya kami atur agar tertib dan merata,” katanya.

Fasilitas Ramah Disabilitas

Tak hanya menyiapkan konsumsi, pengelola Istiqlal juga memberikan perhatian khusus kepada jamaah penyandang disabilitas. Sejumlah fasilitas pendukung seperti lift, toilet khusus, serta area salat di bagian depan masjid telah disediakan.

“Kami juga menyiapkan layanan buka puasa dan sahur khusus bagi teman-teman disabilitas agar mereka merasa nyaman dan terlayani dengan baik,” tutur Nasaruddin.

Selama Ramadan, Masjid Istiqlal menggelar khataman Alquran yang berlangsung sejak pagi hingga malam hari. Kegiatan tersebut terbuka bagi jamaah yang ingin berpartisipasi membaca Alquran secara bergantian.

Selain kegiatan keagamaan, Istiqlal tetap menjalankan program pendidikan bahasa asing gratis. Kursus yang tersedia meliputi bahasa Inggris, Mandarin, Arab, Persia, Prancis, Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA), hingga bahasa Ibrani.

“Seluruh kursus tidak dipungut biaya. Pengajarnya pun penutur asli. Untuk bahasa Mandarin, misalnya, kami mendatangkan langsung pengajar dari Tiongkok,” ujarnya.

Usung “Ramadhan Hijau”

Tahun ini, Masjid Istiqlal mengangkat tema “Ramadhan Hijau” sebagai bentuk komitmen terhadap pelestarian lingkungan dalam praktik keberagamaan.

Menurut Nasaruddin, masjid nasional tersebut telah memanfaatkan sistem pembangkit listrik tenaga surya melalui pemasangan panel di atap bangunan.

“Biasanya dunia menyoroti gedung pencakar langit di Dubai atau Qatar. Namun tahun lalu perhatian itu justru tertuju pada Istiqlal karena atapnya dipenuhi panel surya. Sistem ini memungkinkan kami menghemat energi dalam jumlah besar,” jelasnya.

Selain pemanfaatan energi terbarukan, pengelolaan air juga menjadi perhatian. Seluruh air limbah ditampung dalam bak penampungan besar untuk kemudian diolah dan digunakan kembali.

“Kami memastikan tidak ada air yang terbuang percuma ke selokan. Semua dikelola dan didaur ulang,” kata dia.

Dengan berbagai program tersebut, Istiqlal tidak hanya menjadi pusat ibadah, tetapi juga ruang edukasi sosial dan lingkungan selama Ramadan. ***