Berita  

Mengapa Rasulullah Lama Bersujud di Malam Nisfu Sya’ban?

Rasulullah SAW menegaskan pentingnya sikap moderat dalam beribadah. Islam adalah agama yang mudah dan tidak mengajarkan sikap berlebihan dalam menjalankan perintah agama. (Foto: Ahlul Bait Indonesia/Ilustrasi)

SerambiMuslim.com – Dalam sejumlah riwayat disebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW menaruh perhatian besar terhadap malam Nisfu Syaban.

Malam yang jatuh pada pertengahan bulan Syaban, tepatnya tanggal 15, ini dikenal sebagai waktu istimewa untuk memperbanyak ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Salah satu kisah tentang keutamaan malam Nisfu Syaban diriwayatkan dari Ummul Mukminin Aisyah RA.

عن أم المؤمنين عائشة – رضي الله عنها – قالت: ” قَامَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنَ اللَّيْلِ يُصَلِّي فَأَطَالَ السُّجُودَ حَتَّى ظَنَنْتُ أَنَّهُ قَدْ قُبِضَ، فَلَمَّا رَأَيْتُ ذَلِكَ قُمْتُ حَتَّى حَرَّكْتُ إِبْهَامَهُ فَتَحَرَّكَ، فَرَجَعْتُ، فَلَمَّا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنَ السُّجُودِ، وَفَرَغَ مِنْ صَلَاتِهِ، قَالَ: ” يَا عَائِشَةُ أَوْ يَا حُمَيْرَاءُ ظَنَنْتِ أَنَّ النَّبِيَّ خَاسَ بِكِ؟ “، قُلْتُ: لَا وَاللهِ يَا رَسُولَ اللهِ وَلَكِنِّي ظَنَنْتُ أَنَّكَ قُبِضْتَ لِطُولِ سُجُودِكَ، فَقَالَ: ” أَتَدْرِينَ أَيَّ لَيْلَةٍ هَذِهِ؟ “، قُلْتُ: اللهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ، قَالَ: “هَذِهِ لَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ، إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يَطْلُعُ عَلَى عِبَادِهِ فِي لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفِرُ لِلْمُسْتَغْفِرِينَ، وَيَرْحَمُ الْمُسْتَرْحِمِينَ، وَيُؤَخِّرُ أَهْلَ الْحِقْدِ كَمَا هُمْ ”

Riwayat menceritakan bahwa pada suatu malam, Rasulullah SAW bangun untuk melaksanakan sholat malam dengan sujud yang sangat lama.

Lamanya sujud tersebut bahkan membuat Aisyah RA khawatir hingga mengira Rasulullah telah wafat.

Dalam riwayat tersebut, Aisyah RA mengisahkan bahwa dirinya sempat bangun dan menyentuh ibu jari kaki Rasulullah SAW untuk memastikan keadaan beliau.

Setelah mengetahui Rasulullah SAW masih bergerak, Aisyah pun kembali ke tempatnya. Usai menyelesaikan sholatnya,

Rasulullah SAW bertanya kepada Aisyah mengenai kegelisahannya. “Wahai Humaira (Aisyah), apakah engkau menyangka Nabi telah mengkhianatimu?”

Lalu Aisyah menjawab, “Tidak, demi Allah Ya Rasulullah. Akan tetapi aku menyangka engkau telah tiada karena terlalu lama sujud.” Kemudian Rasulullah bertanya, “Tahukah kamu, malam apa ini?” Aku menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.”

Rasulullah SAW kemudian menjelaskan bahwa malam tersebut adalah malam Nisfu Syaban. Beliau bersabda bahwa pada malam itu Allah SWT memperhatikan seluruh hamba-Nya, memberikan ampunan kepada mereka yang memohon ampun, mencurahkan rahmat bagi yang meminta rahmat, serta menangguhkan ampunan bagi orang-orang yang masih menyimpan rasa dengki. (HR Al-Baihaqi dalam Syu‘ab al-Iman)

Selain riwayat dari Aisyah RA, keutamaan malam Nisfu Syaban juga dijelaskan dalam hadits lain yang diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib RA. Nabi Muhammad SAW bersabda:

«إذا كانت ليلة النصف من شعبان فقوموا ليلها وصوموا نهارها؛ فإن الله ينزل فيها لغروب الشمس إلى السماء الدنيا، فيقول: ألا من مستغفر فأغفر له، ألا مسترزق فأرزقه، ألا مبتلى فأعافيه، ألا كذا، ألا كذا، حتى يطلع الفجر»

“Jika (datang) malam Nishfu Syaban, maka sholatlah pada malam harinya dan berpuasa pada siangnya. Karena sesungguhnya Allah turun pada saat menjelang terbenam matahari ke langit yang paling terdekat. Lalu Allah menyeru, ‘Siapa orang yang beristighfar kepada-Ku maka akan Aku ampuni. Siapa yang meminta rezeki, maka Aku akan memberikan rezeki. Siapa yang sakit, maka akan Aku sembuhkan! Siapa yang begini, siapa yang begini… dan seterusnya, hingga terbit fajar.’” (HR. Ibnu Majah dan Al-Baihaqi)

Dalam hadits tersebut, Nabi Muhammad SAW menganjurkan umat Islam untuk menghidupkan malam Nisfu Syaban dengan ibadah dan melanjutkannya dengan berpuasa pada siang harinya.

Rasulullah SAW bersabda bahwa pada malam tersebut Allah SWT “turun” ke langit dunia sejak matahari terbenam dan menyeru para hamba-Nya. Allah menawarkan ampunan bagi yang beristighfar, rezeki bagi yang meminta, kesembuhan bagi yang diuji dengan penyakit, serta berbagai kebaikan lainnya hingga terbit fajar.

Dari berbagai riwayat tersebut, dapat dipahami bahwa malam Nisfu Syaban merupakan momentum penting bagi umat Islam untuk meningkatkan kualitas ibadah, memperbanyak doa, istighfar, serta membersihkan hati dari sifat-sifat buruk, khususnya dendam dan kebencian. ***