Berita  

Umat Islam Diingatkan Bahaya Ketergantungan pada AI

PP Muhammadiyah mengingatkan bahaya ketergantungan AI yang memicu kemalasan berpikir dan melemahkan fondasi keilmuan. (Foto: iStockphoto/Ilustrasi)

SerambiMuslim.com – Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah mengingatkan dampak serius ketergantungan berlebihan terhadap kecerdasan buatan atau AI.

Ketergantungan tersebut berpotensi memicu kemalasan kognitif di kalangan masyarakat, termasuk akademisi dan pelajar.

Sekretaris Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, M Rofiq Muzakkir, menilai fenomena itu semakin menguat.

Ia mengatakan, kemudahan AI membuat banyak orang menyerahkan seluruh proses berpikir kepada teknologi.

“Sekarang apa-apa cukup tanya AI, bahkan untuk berpikir dan menulis karya ilmiah,” kata Rofiq.

Menurutnya, kebiasaan tersebut berdampak serius terhadap kualitas pencarian ilmu pengetahuan.

Rofiq menyoroti maraknya pelatihan penulisan karya ilmiah berbasis AI, termasuk yang difasilitasi pemerintah.

Ia menilai praktik tersebut berpotensi menyalahi prinsip dasar dalam menuntut ilmu.

Dalam ajaran Islam, ilmu diperoleh melalui proses panjang, kesungguhan, dan kesabaran.

Rofiq menegaskan, ilmu tidak dapat diraih secara instan tanpa tahapan belajar yang berkelanjutan.

Salah satu syarat utama menuntut ilmu adalah tūluz zamān, yakni proses waktu yang panjang.

Karena itu, penggunaan AI tidak boleh mengabaikan tahapan akuisisi ilmu secara bertahap dan manual.

“Ilmu itu dipelajari melalui proses belajar, bukan sekadar di-generate,” ujarnya.

Rofiq juga mengutip peringatan ulama klasik Ibnul Qayyim tentang pentingnya fondasi ilmu.

Ia menyebut, orang yang melewatkan ushul ilmu akan mudah tersesat dan terombang-ambing.

Ketergantungan AI tanpa fondasi keilmuan berpotensi membingungkan pencari ilmu.

Sebab, AI cenderung memberi jawaban afirmatif tanpa menilai kebenaran secara substantif.

“Fondasi ilmu diperoleh melalui iktisab dan ta’allum, bukan jalan pintas,” tegas Rofiq.

Dalam pendidikan Islam, Rofiq menekankan pentingnya menjaga tradisi membaca dan menghafal.

Ia menyebut membaca kitab, menghafal Alquran, dan belajar kepada ulama harus tetap dijaga.

Pesantren diminta tidak mengorbankan tradisi keilmuan demi kemudahan teknologi AI.

Rofiq juga mengingatkan, AI memiliki bias pengembang dan keterbatasan data.

Ia menyinggung kasus di Amerika Serikat terkait rekomendasi bunuh diri dari AI.

“Self-diagnosis tanpa verifikasi itu berbahaya dan harus ditabayyunkan,” ujarnya.

Menurut Rofiq, teknologi harus berjalan seimbang dengan daya kritis dan kedalaman spiritual.

“Jangan sampai AI menghilangkan kemampuan berpikir dan bersosialisasi manusia,” pungkasnya. ***