Keutamaan Shalat Awabin antara Maghrib dan Isya

Panduan lengkap sholat ghaib mulai dari niat, bacaan Arab, hingga doa untuk mayit sesuai tuntunan Islam. (Foto: iStockphoto/Ilustrasi)

SerambiMuslim.com – Banyak orang kerap menghabiskan waktu antara Maghrib dan Isya tanpa aktivitas yang bernilai ibadah. Padahal, dalam Islam, rentang waktu tersebut memiliki keutamaan yang sangat besar dan dianjurkan untuk diisi dengan amalan-amalan sunnah.

Menghidupkan waktu antara Maghrib dan Isya dengan ibadah dapat mendatangkan pahala yang berlipat. Oleh karena itu, setiap Muslim sepatutnya memanfaatkan momen ini secara optimal sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT.

Imam Al-Ghazali dalam kitab Bidayatul Hidayah memberikan panduan khusus terkait pengisian waktu antara Maghrib dan Isya.

Ulama yang dikenal dengan gelar Hujjatul Islam tersebut menganjurkan agar seorang Muslim beriktikaf di masjid dan memperbanyak shalat sunnah, khususnya shalat Awabin.

Menurut Imam Al-Ghazali, beriktikaf dan menunaikan shalat sunnah di waktu awal malam memiliki keutamaan yang sangat besar. Bahkan, pahala dari amalan ini disebut tidak terhitung jumlahnya.

Ia menjelaskan bahwa waktu antara Maghrib dan Isya merupakan permulaan malam yang ideal untuk dihidupkan dengan ibadah, salah satunya melalui sholat sunnah awabin (Bidayatul Hidayah, hlm. 122–123).

Shalat sunnah Awabin sendiri merupakan shalat yang dikerjakan sebagai bentuk permohonan ampun kepada Allah SWT atas dosa dan kesalahan yang dilakukan sepanjang hari. Dinamakan Awabin karena pelakunya dianggap kembali kepada Allah dengan penuh penyesalan dan taubat.

Syekh Sulaiman Al-Jamal dalam Hasyiyatul Jamal menjelaskan bahwa shalat Awabin menjadi simbol kembalinya seorang hamba kepada Allah SWT. Semakin sering dilakukan, semakin menunjukkan kesungguhan taubat, meskipun pelakunya tidak selalu menyadari makna tersebut secara mendalam.

Keutamaan shalat sunnah antara Maghrib dan Isya juga dijelaskan dalam hadis Rasulullah SAW. Ketika beliau ditanya tentang makna firman Allah dalam Surah As-Sajdah ayat 16, “Tatajafa junubuhum ‘anil madhaji’” (lambung mereka jauh dari tempat tidurnya), Rasulullah SAW menerangkan bahwa ayat tersebut merujuk pada sholat sunnah yang dikerjakan antara Maghrib dan Isya. Shalat ini berfungsi menghapus kelalaian yang terjadi pada siang hari serta menyucikan penutup aktivitas harian.

Syekh Muhammad Asy-Syarbini Al-Khathib dalam kitab Al-Iqna menyebutkan bahwa shalat Awabin dapat dikerjakan minimal dua rakaat dan maksimal dua puluh rakaat. Salah satu keutamaannya, sebagaimana disebutkan dalam hadis riwayat Imam Tirmidzi, adalah bahwa orang yang melaksanakan shalat Awabin sebanyak enam rakaat akan dicatat pahala setara dengan ibadah selama dua belas tahun.

Dengan demikian, mengisi waktu antara Maghrib dan Isya dengan memperbanyak ibadah, terutama sholat sunnah awabin, merupakan amalan yang sangat dianjurkan.

Ketika waktu Isya telah masuk, umat Islam juga disunnahkan melaksanakan shalat sunnah qobliyah Isya sebanyak empat rakaat sebelum shalat fardhu.

Selain itu, waktu antara adzan dan iqamah termasuk waktu yang mustajab untuk berdoa. Imam Al-Ghazali menegaskan bahwa menghidupkan waktu tersebut dengan sholat sunnah memiliki keutamaan besar, serta doa yang dipanjatkan di antara adzan dan iqamah tidak akan ditolak (Bidayatul Hidayah, hlm. 123). ***