SerambiMuslim.com – Sebagian besar kurma yang beredar di pasar Eropa diduga menyembunyikan asal-usulnya melalui praktik manipulasi label, termasuk produk dari permukiman ilegal Israel di Tepi Barat.
Laporan Anadolu Agency mengungkap indikasi kuat bahwa kurma hasil permukiman ini masuk ke pasar global melalui negara ketiga untuk menghindari kampanye boikot, terutama di negara-negara Muslim.

“Ada indikasi bahwa sebagian besar kurma premium yang dipasarkan di Eropa bukan berasal dari wilayah Israel yang diakui secara internasional, melainkan dari permukiman di Tepi Barat,” tulis laporan Middle East Monitor.
Pasar Kurma Global Tumbuh Pesat
Pasar kurma global diproyeksikan naik dari USD32,7 miliar pada 2025 menjadi USD34,5 miliar pada 2026, dengan Timur Tengah dan Afrika masih mendominasi pangsa pasar sebesar 85,28 persen.
Mesir memimpin produksi global dengan 1,7 juta ton per tahun, namun Israel menjadi pemain kunci untuk ekspor kurma bernilai tinggi, terutama varian Medjool.
Data dari majalah Israel Lahaklai menunjukkan ketimpangan mencolok. Israel mengekspor sekitar 35.000 ton kurma per tahun, tetapi hanya 8.800 ton diproduksi dalam wilayah Israel yang diakui secara internasional (Lembah Arava). Jika akurat, berarti sekitar 75 persen ekspor berasal dari permukiman ilegal.
Fenomena ‘Pencucian Kurma’
Praktik ini dikenal sebagai “pencucian kurma” (date laundering), di mana kurma dari permukiman dipasarkan dengan label asal negara lain, termasuk Belanda, Maroko, Uni Emirat Arab, bahkan Palestina.
Produk sering dikemas ulang di zona perdagangan bebas atau dikirim melalui negara perantara untuk menyamarkan asal usulnya.
Uni Eropa telah menetapkan regulasi ketat terkait produk permukiman Israel. Putusan Mahkamah Keadilan Uni Eropa tahun 2019 menyatakan, label “Produk Israel” saja tidak memadai, asal permukiman harus dicantumkan agar konsumen tidak menyesatkan.
Tekanan dan Respons Pasar
Pakar industri memperingatkan praktik manipulasi label cenderung meningkat selama Ramadan, saat permintaan mencapai puncak. Di sisi lain, sektor pertanian Israel menghadapi tekanan akibat kampanye boikot dan gangguan logistik terkait konflik di Gaza.
Beberapa peritel besar Eropa, seperti Co-op di Inggris, telah menghentikan pasokan kurma dari Israel, sementara kampanye serupa terus menguat di Belgia dan Irlandia. Konsumen disarankan lebih teliti memeriksa informasi asal produk dan menuntut transparansi dari pihak peritel.
“Konsumen punya peran penting untuk memastikan mereka tidak membeli produk yang berasal dari wilayah yang diperselisihkan secara hukum internasional,” kata analis perdagangan pangan independen, Dr. Amal Husseini. ***






