Konflik Timur Tengah Tekan Nilai Tukar Rupiah

Rupiah ditutup melemah ke Rp16.892 per dolar AS di tengah konflik Timur Tengah dan revisi outlook Fitch. Analis memprediksi rupiah berpotensi mendekati Rp17.000. (Foto: Kabarbursa.com/Ilustrasi)

SerambiMuslim.com – Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) seiring meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Tekanan eksternal dan sentimen domestik dinilai masih membayangi pergerakan Rupiah hingga berpotensi mendekati level psikologis Rp17.000 per dolar AS.

Nilai tukar rupiah ditutup melemah 20 poin atau 0,12 persen ke posisi Rp16.892 per dolar AS pada penutupan perdagangan Rabu, 4 Maret 2026, dibandingkan hari sebelumnya di level Rp16.872 per dolar AS.

Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menilai, eskalasi konflik di Timur Tengah menjadi faktor utama yang menekan rupiah.

“Pelaku pasar mempertimbangkan risiko gangguan pasokan energi akibat konflik yang meluas. Situasi ini memicu peningkatan premi risiko dan mendorong penguatan dolar AS sebagai aset safe haven,” ujar Ibrahim dalam keterangannya, Rabu, 4 Maret 2026.

Ketegangan memuncak setelah serangan terkoordinasi Amerika Serikat dan Israel terhadap target militer Iran. Kondisi semakin memanas dengan ancaman terhadap jalur pelayaran strategis Selat Hormuz yang menjadi jalur utama distribusi minyak dunia.

Menurut Ibrahim, ancaman terhadap distribusi minyak global telah mendorong lonjakan harga energi dan memperbesar tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

“Ancaman terhadap Selat Hormuz menyuntikkan premi risiko signifikan pada harga minyak. Jika gangguan pasokan benar-benar terjadi, tekanan terhadap rupiah bisa semakin besar,” jelasnya.

Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump menyatakan kesiapan Angkatan Laut AS untuk mengawal kapal-kapal komersial demi menjamin keamanan jalur pelayaran. Pernyataan tersebut dinilai dapat meredam lonjakan harga minyak dalam jangka pendek, meski volatilitas pasar masih tinggi.

Sentimen Domestik: Outlook Fitch Jadi Sorotan

Dari dalam negeri, pasar turut merespons keputusan Fitch Ratings yang merevisi outlook peringkat utang Indonesia dari stabil menjadi negatif. Meski demikian, lembaga tersebut tetap mempertahankan peringkat kredit Indonesia di level BBB.

“Revisi outlook mencerminkan meningkatnya ketidakpastian kebijakan dan kekhawatiran terhadap konsistensi bauran kebijakan ekonomi. Hal ini berpotensi menekan sentimen investor dan ketahanan eksternal,” kata Ibrahim.

Fitch memproyeksikan defisit fiskal Indonesia pada 2026 berada di kisaran 2,9 persen terhadap produk domestik bruto (PDB), sedikit di atas target pemerintah sebesar 2,7 persen. Proyeksi tersebut mempertimbangkan asumsi penerimaan negara yang lebih konservatif serta peningkatan belanja sosial.

Namun demikian, lembaga pemeringkat itu masih menilai fundamental ekonomi Indonesia relatif terjaga, didukung rasio utang pemerintah yang moderat serta cadangan devisa yang memadai.

BI Pastikan Intervensi Berlanjut

Sementara itu, Bank Indonesia (BI) menegaskan komitmennya menjaga stabilitas nilai tukar di tengah tekanan global. Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti menyatakan pelemahan rupiah masih sejalan dengan pergerakan mata uang regional.

“Bank Indonesia akan terus hadir di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan memitigasi dampak meluasnya konflik Timur Tengah,” ujar Destry.

Secara month to date (mtd), rupiah tercatat melemah 0,51 persen, yang diklaim masih lebih baik dibandingkan sejumlah mata uang kawasan. Hingga Rabu (4/3) pukul 11.00 WIB, rupiah sempat berada di kisaran Rp16.902 per dolar AS.

BI memastikan intervensi dilakukan secara konsisten melalui transaksi non-deliverable forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan domestic non-deliverable forward (DNDF) di pasar domestik, serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.

“Intervensi akan kami lakukan secara tegas dan terukur guna menjaga kepercayaan pasar,” tegasnya.

Per akhir Januari 2026, cadangan devisa Indonesia tercatat sebesar 154,6 miliar dolar AS. Sementara arus modal asing sepanjang 2026 mencapai Rp25,7 triliun.

Proyeksi Pergerakan

Ibrahim memprediksi rupiah masih bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah pada perdagangan Kamis (5/3/2026).

“Rupiah berpotensi bergerak di rentang Rp16.890 hingga Rp16.940 per dolar AS. Jika level Rp17.000 ditembus bulan ini, maka target Rp17.400 pada tahun ini bisa saja tercapai,” ujarnya. ***