SerambiMuslim.com – Ratusan pohon kurma dengan buah berwarna kuning keemasan tampak menggantung lebat di sebuah kebun di wilayah selatan Kabupaten Sukabumi.
Pemandangan ini mematahkan anggapan bahwa kurma hanya dapat tumbuh di kawasan gurun Timur Tengah.
Sebanyak 462 pohon kurma varietas Barhee yang ditanam sejak lima tahun lalu kini mulai berbuah manis dan siap panen.
Deretan pohon tersebut menjadikan kebun ini sebagai yang pertama di Sukabumi yang berhasil berproduksi secara komersial.
Pengelola kebun, Alwi Rahmatullah, mengatakan varietas Barhee dipilih karena memiliki daya adaptasi yang baik terhadap iklim tropis.
“Kami memilih Barhee karena lebih fleksibel terhadap cuaca tropis. Alhamdulillah, setelah lima tahun perawatan, sekarang sudah berbuah lebat,” ujar Alwisaat dikutip dari CNCB Indonesia, Senin, 2 Maret 2026.
Menurut dia, bibit yang digunakan berasal dari kultur jaringan impor dari Inggris dan Iran. Harga bibit bervariasi, mulai dari Rp1,6 juta untuk ukuran kecil hingga Rp5 juta per pohon untuk ukuran besar.
“Investasinya memang tidak kecil, tapi hasilnya sebanding. Sekarang satu kilogram kurma segar kami jual Rp300 ribu,” katanya.
Buah-buah kurma yang menggantung rapat di antara pelepah menghadirkan panorama eksotis. Tak sedikit pengunjung yang datang untuk melihat langsung proses budidaya, bahkan merasakan pengalaman memetik kurma segar dari pohonnya.
Kehadiran kebun kurma ini turut memperkaya potensi wisata berbasis pertanian di kawasan Geopark Ciletuh.
Selain menjadi simbol inovasi pertanian, kebun tersebut diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat sekitar melalui sektor agrowisata.
Alwi optimistis budidaya kurma di Sukabumi memiliki prospek cerah. “Kami ingin membuktikan bahwa tanaman yang identik dengan daerah kering pun bisa tumbuh produktif di Indonesia, asalkan dirawat dengan teknik yang tepat,” ucapnya.
Keberhasilan ini sekaligus menunjukkan bahwa tanaman khas wilayah gurun tersebut dapat berkembang dan berproduksi di iklim tropis, membuka peluang baru bagi diversifikasi pertanian lokal. ***







