Fikih  

Benarkah Nabi Daud Berkeinginan Punya 100 Istri?

Kisah Maimunah binti al-Harits, istri terakhir Nabi Muhammad SAW, yang menawarkan dirinya untuk dinikahi hingga menjadi sebab turunnya QS Al-Ahzab ayat. (Foto: Int/Ilustrasi)

SerambiMuslim.com – Kisah yang menyebut Nabi Daud AS memiliki 99 istri dan berupaya menggenapkannya menjadi 100 dengan cara kontroversial kerap beredar di masyarakat. Namun, benarkah cerita tersebut memiliki dasar yang kuat dalam ajaran Islam?

Sejumlah riwayat populer mengisahkan bahwa Nabi Daud tertarik pada seorang wanita yang telah bersuami, lalu mengatur strategi agar suami wanita tersebut gugur di medan perang. Kisah ini kemudian dikaitkan dengan peristiwa kedatangan dua orang yang disebut sebagai malaikat kepada Nabi Daud.

Peristiwa tersebut sering dihubungkan dengan firman Allah SWT dalam Al-Qur’an surat Sad ayat 22:

اِذْ دَخَلُوْا عَلٰى دَاوٗدَ فَفَزِعَ مِنْهُمْ قَالُوْا لَا تَخَفْۚ خَصْمٰنِ بَغٰى بَعْضُنَا عَلٰى بَعْضٍ فَاحْكُمْ بَيْنَنَا بِالْحَقِّ وَلَا تُشْطِطْ وَاهْدِنَآ اِلٰى سَوَاۤءِ الصِّرَاطِ

Artinya: “Ketika mereka masuk menemui Daud, dia terkejut karena (kedatangan) mereka. Mereka berkata, “Janganlah takut! (Kami) berdua sedang berselisih. Sebagian kami berbuat aniaya kepada yang lain. Maka, berilah keputusan di antara kami dengan hak, janganlah menyimpang dari kebenaran, dan tunjukilah kami ke jalan yang lurus.” (QS Sad [38]:22)

Meski demikian, para ulama menegaskan bahwa kisah yang berkembang tersebut tidak dapat dijadikan rujukan.

Riwayat mengenai ketertarikan Nabi Daud terhadap istri orang lain dinilai bersumber dari sanad yang lemah.

Ulama besar Jalaluddin al-Suyuthi dalam kitab Al-Iklil menyebutkan bahwa jalur periwayatan kisah tersebut bertumpu pada Abu Yazid Al-Raqqashi, seorang perawi yang dinilai sangat lemah hingga riwayatnya ditinggalkan.

Pandangan serupa juga disampaikan Ibnu Hazm dalam kitab Al-Fashl. Ia menegaskan bahwa ayat Alquran tidak menunjukkan adanya perbuatan tercela dari Nabi Daud sebagaimana yang dituduhkan dalam kisah tersebut. Menurutnya, cerita itu lebih dekat pada kisah-kisah dari tradisi Bani Israil yang tidak dapat dijadikan pegangan.

Sementara itu, Muhammad Jamil Zaino menilai kisah tersebut sebagai bentuk penyimpangan yang tidak berdasar. Ia menjelaskan, bahwa peristiwa dalam surat Sad lebih tepat dipahami sebagai ujian bagi Nabi Daud dalam menegakkan keadilan.

Pendapat ini juga diperkuat oleh Ibrahim al-Buqa’i yang menyebut kisah serupa sebagai riwayat yang tidak dapat dipertanggungjawabkan dan berakar dari tradisi di luar ajaran Islam.

Dalam tafsir yang lebih kuat, kisah dua orang yang datang kepada Nabi Daud dipahami sebagai pelajaran tentang pentingnya kehati-hatian dalam memutuskan perkara.

Teguran Allah SWT kepada Nabi Daud bukan terkait dosa besar, melainkan sebagai bentuk pembelajaran agar lebih cermat mendengar kedua belah pihak sebelum mengambil keputusan.

Dengan demikian, kisah Nabi Daud yang disebut ingin mengambil istri orang lain hingga mengorbankan suaminya tidak memiliki dasar yang kuat dalam ajaran Islam.

Para ulama sepakat bahwa riwayat tersebut lemah, bahkan cenderung batil, sehingga tidak layak dinisbatkan kepada seorang nabi. ***