Fikih  

Sejarah Bani Israil dan Pembunuhan Para Nabi

Sejumlah ulama mencatat sejarah Bani Israil terkait pembunuhan nabi serta kisah Nabi Muhammad SAW dengan Rahib Bahira dalam literatur klasik Islam. (Foto: Int/Ilustrasi)

SerambiMuslim.com – Sejumlah literatur klasik Islam mencatat adanya peristiwa tragis dalam sejarah Bani Israil, yakni pembunuhan terhadap para nabi dan orang-orang saleh. Catatan ini banyak dikutip oleh para ulama dalam karya tafsir maupun sejarah Islam.

Imam Jalaluddin As-Suyuthi dalam kitab Ad-Durr al-Mantsur fi Tafsir al-Ma’tsur menyebutkan bahwa Bani Israil pernah melakukan tindakan ekstrem tersebut dalam jumlah besar dalam waktu singkat.

“Bani Israil dalam satu hari membunuh 300 nabi, kemudian mereka beraktivitas di pasar pada sore harinya seolah tidak terjadi apa-apa,” tulis As-Suyuthi.

Keterangan serupa juga disampaikan oleh Ibnul Qayyim. Ia menggambarkan generasi setelah Nabi Musa sebagai kelompok yang melakukan tindakan kekerasan terhadap para nabi.

“Mereka membunuh Nabi Zakaria dan putranya Nabi Yahya, serta banyak nabi lainnya. Bahkan dalam satu hari mereka membunuh 70 nabi, lalu kembali beraktivitas di pasar seperti biasa,” ungkap Ibnul Qayyim dalam Hidayah al-Hayara.

Sementara itu, ahli tafsir Al-Baidhawi menyebut sejumlah nama nabi yang menjadi korban dalam peristiwa tersebut, seperti Nabi Isya’ya, Nabi Zakaria, dan Nabi Yahya.

“Mereka membunuh para nabi itu bukan karena keyakinan yang membenarkan, tetapi karena dorongan hawa nafsu dan kecintaan terhadap dunia,” tulis Al-Baidhawi dalam tafsirnya.

Kisah Nabi Muhammad SAW dan Rahib Bahira

Dalam literatur Sirah Nabawiyah, kisah lain yang sering dikaitkan dengan interaksi awal Nabi Muhammad SAW dengan komunitas Yahudi adalah peristiwa pertemuan dengan rahib Bahira.

Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri dalam karya Sirah Nabawiyah menuturkan bahwa saat Nabi Muhammad SAW berusia sekitar 12 tahun, beliau ikut pamannya, Abu Thalib, dalam perjalanan dagang menuju Syam.

Rombongan tersebut singgah di Bushra, wilayah yang saat itu berada di bawah kekuasaan Romawi. Di tempat inilah seorang rahib bernama Bahira (Jurjis) disebut mengenali tanda-tanda kenabian pada diri Nabi Muhammad SAW.

“Anak ini adalah pemimpin semesta alam, dan akan diutus Allah sebagai rahmat bagi seluruh alam,” ujar Bahira sebagaimana dikisahkan dalam literatur tersebut.

Ketika Abu Thalib menanyakan dasar keyakinannya, Bahira menjelaskan bahwa ia melihat tanda-tanda kenabian, termasuk ciri khas yang dikenal sebagai stempel kenabian.

Ia juga menyebut bahwa fenomena alam seperti pepohonan dan bebatuan yang ‘tunduk’ menjadi isyarat yang diyakininya sebagai tanda kerasulan.

Karena kekhawatiran akan potensi ancaman, Bahira kemudian menyarankan agar Nabi Muhammad SAW tidak melanjutkan perjalanan ke Syam.

“Bawalah anak ini kembali, aku khawatir orang-orang Yahudi akan mencelakainya jika mereka mengetahui siapa dia,” demikian nasihat Bahira kepada Abu Thalib.

Atas saran tersebut, Nabi Muhammad SAW akhirnya dipulangkan ke Makkah.

Ayat Alquran tentang Pembunuhan Nabi

Alquran juga menyinggung perilaku sebagian Bani Israil yang melakukan kekerasan terhadap para nabi dan orang-orang yang menyeru kepada kebenaran.

Allah SWT berfirman:

اِنَّ الَّذِيْنَ يَكْفُرُوْنَ بِاٰيٰتِ اللّٰهِ وَيَقْتُلُوْنَ النَّبِيّٖنَ بِغَيْرِحَقٍّۖ وَّيَقْتُلُوْنَ الَّذِيْنَ يَأْمُرُوْنَ بِالْقِسْطِ مِنَ النَّاسِۙ فَبَشِّرْهُمْ بِعَذَابٍ اَلِيْمٍ

Innal-lażīna yakfurūna bi’āyātillāhi wa yaqtulūnan nabiyyīna bigairi ḥaqq(in), wa yaqtulūnal-lażīna ya’murūna bil-qisṭi minan-nās(i), fabasysyirhum bi‘ażābin alīm(in).

Artinya:
“Sesungguhnya orang-orang yang kufur terhadap ayat-ayat Allah, membunuh para nabi tanpa alasan yang benar, dan membunuh orang-orang yang menyeru kepada keadilan, maka sampaikanlah kepada mereka kabar tentang azab yang pedih.” (QS Ali Imran: 21). ***