Global  

Israel Buka Kembali Masjid Al Aqsa, Ketegangan Belum Reda

Israel berencana membuka kembali Masjid Al Aqsa setelah ditutup sejak Februari, di tengah meningkatnya ketegangan dan provokasi di Yerusalem Timur. (Foto: iStockphoto/Ilustrasi)

SerambiMuslim.com – Otoritas Israel menyatakan tengah bersiap membuka kembali Masjid Al Aqsa dan Gereja Makam Suci di Yerusalem Timur yang diduduki mulai Kamis (9/4/2026) pagi, setelah ditutup sejak 28 Februari lalu.

Kepolisian Israel menyebut pembukaan kembali situs-situs suci tersebut dilakukan sesuai pedoman terbaru dari Komando Front Dalam Negeri.

“Petugas kepolisian dan penjaga perbatasan akan dikerahkan di Kota Tua Yerusalem serta akses menuju lokasi untuk menjamin keamanan jamaah dan pengunjung,” demikian pernyataan kepolisian Israel.

Departemen Waqf Islam menyatakan bahwa Masjid Al Aqsa akan kembali dibuka untuk pelaksanaan shalat Subuh. Namun, otoritas tersebut tidak merinci mekanisme atau pembatasan yang akan diberlakukan.

Sebelumnya, Israel menutup kedua situs suci itu sejak 28 Februari dengan alasan mencegah kerumunan di tengah konflik yang melibatkan Israel, Amerika Serikat (AS), dan Iran. Bahkan, untuk pertama kalinya sejak pendudukan Yerusalem Timur pada 1967, shalat Idulfitri di Masjid Al Aqsa turut dilarang.

Ketegangan semakin meningkat setelah Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir, memasuki kompleks Masjid Al Aqsa pada awal April, memicu kecaman luas dari negara-negara Arab dan Muslim.

Di tengah situasi tersebut, mantan Ketua Knesset Israel, Avraham Burg, mengungkap adanya sejumlah upaya ekstrem yang menargetkan situs suci tersebut.

“Setidaknya ada lima upaya untuk meledakkan Masjid Al Aqsa, dan saya tidak yakin itu semuanya,” ujar Burg dalam wawancara dengan jurnalis Amerika Serikat, Tucker Carlson, seperti dikutip dari Al Jazeera.

Ia menilai, persoalan utama bukan sekadar jumlah pendukung aksi tersebut, melainkan tingkat militansi kelompok yang ingin mengubah status quo di kawasan suci itu.

“Intinya bukan berapa banyak yang mendukung, tetapi sejauh mana dedikasi dan fanatisme mereka yang siap bertindak,” kata Burg.

Menanggapi pernyataan itu, Carlson mengaku terkejut. “Saya tidak tahu ada lima upaya untuk menghancurkan Masjid Al Aqsa dan Kubah Batu,” ujarnya.

Pernyataan Burg tersebut kembali memicu perhatian publik setelah wawancara itu tersebar luas di media sosial, di tengah meningkatnya spekulasi terkait penutupan Masjid Al Aqsa selama 25 hari terakhir.

Sementara itu, sejumlah politisi dan aktivis sayap kanan Israel dinilai semakin memperkeruh suasana melalui pernyataan provokatif di ruang digital.

Mantan anggota Knesset, Moshe Feiglin, dalam unggahannya menyebut penutupan kompleks suci itu sebagai hal positif.

“Fakta bahwa Bukit Bait Suci terus ditutup tanpa gejolak menunjukkan kekuatan kita sebagai kekuatan regional,” tulisnya.

Pernyataan serupa juga datang dari Itamar Ben-Gvir yang mengklaim kebijakan keamanan selama Ramadan berkontribusi terhadap stabilitas, sembari menampilkan video penindakan terhadap warga Palestina di sekitar Masjid Al Aqsa.

Di sisi lain, seruan ekstrem juga muncul dari sejumlah tokoh, termasuk jurnalis sayap kanan Yonon Magal yang diduga menghasut penyerangan terhadap kawasan tersebut melalui media sosial.

Pengamat dan aktivis menilai rangkaian pernyataan tersebut mencerminkan pola eskalasi yang sistematis untuk mengubah realitas di kompleks suci.

“Mereka melihat ini bukan sekadar tindakan individu, tetapi bagian dari arah kebijakan yang semakin menguat,” ujar salah satu aktivis yang memantau situasi di Yerusalem.

Ia menambahkan, penutupan Masjid Al Aqsa yang beriringan dengan meningkatnya provokasi digital dinilai sebagai upaya bertahap untuk mengubah status historis dan hukum kawasan tersebut.

Sejak pecahnya konflik pada 28 Februari lalu, otoritas Israel terus memberlakukan pembatasan ketat di Masjid Al Aqsa dengan alasan keamanan, meski menuai kecaman dari berbagai negara Arab dan Muslim. ***